Beranda Shalat Kaifiyat Membasuh Tangan Ketika Wudlu

Kaifiyat Membasuh Tangan Ketika Wudlu

784
0

Ada seorang ust menerangkan bahwa tatacara membasuh tangan dalam berwudlu meratakan air mesti dari jari-jari menuju sikut dan menyalahkan jika dari sikut ke ujung jari. Bagaimana kaifiyat yang sebenarnya ? jamaah pengajian

Jawab :
Wudlu merupakan syarat sah salat, artinya salat tidak sah tanpa wudlu atau bersuci dari hadas terlebih dahulu. Dalilnya adalah sebagai beikut :
يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوْا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُؤُوْسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ …
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak shalat maka basuhlah wajah-wajahmu, lengan-lengan kamu sampai dengan sikut kamu, usaplah kepala-kepalamu dan (basuhlah) kaki-kakimu sampai dengan dua mata kakimu……”. (Al-Maidah : 6).
Adapun kaifiyat wudlu secara sempurna adalah sebagai berikut :
عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ دَعَا بِوَضُوءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْوَضُوءِ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلَاثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ كُلَّ رِجْلٍ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا وَقَالَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.(البخاري 1: 56 برقم 163) َ
Dari Humran maula Usman bin Affan, bahwasanya ia melihat Usman bin Affan air wudu, kemudian ia mencucurkan air tersebut kepada tangannya dan ia mencucinya tiga kali, lalu ia memasukkan tangan kanannya ke air tersebut, kemudian ia berkumur-kumur, istinsyak, dan istintsar, kemudian mencuci wajahnya tiga kali, kemudian mencuci kedua tangannya sampai sikut tiga kali, kemudian mengusap kepalanya, kemudian mencuci kedua kakinya tga kali, kemudian ia berkata : aku melihat rasulullah saw berwudu seperti wuduku ini. Dan beliau bersabda : barangsiapa yang berwudu seperti wuduku ini, kemudian salat dua rakaat dengan tidak memikirkan urusan keduniaan, niscaya allah akan mengampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu. (HR al-bukhari, Shahih al-Bukhari, 1/56)

Cara membasuh tangan disebutkan sangat sampai ke sikut فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ huruf إِلَى termasuk lil ghayah yaitu menunjukan kepada batas sehingga batas wilayah yang mesti dibasuh atau dicuci dari ujung jari sampai sikut. Sikut termasuk kepada anggota wudlu yang mesti dibasuh, karena akhir batas itu termasuk kepada yang dibatasi. Misalnya ada sebidang tanah batasnya dari pohon pisang sampai pohon kelapa. Pohon pisang dan kelapa termasuk dalam kepemilikan tanah tersebut. Adapun terkait dengan cara membasuhnya maka termasuk dalam kategori wasail. Begitu juga dengan membasuh kaki, susunan kalimatnya sama sebagaimana dalam membasuh tangan, tidak mesti dari bawah ke atas sampai tumit, namun bisa juga dari bawah ke atas. Adapun yang menjadi qorinah lain adalah sebgai berikut :
Pertama, para sahabat biasa melebihkan biasa melebihkan dari batas, sehingga maksud dari sampai sikut dimaknai sebagai batas minimal yang wajib dibasuh atau dicuci.

عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ رَأَى أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ حَتَّى كَادَ يَبْلُغُ الْمَنْكِبَيْنِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ حَتَّى رَفَعَ إِلَى السَّاقَيْنِ ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ ».
dari Nu’aim bin Abdullah bahwa dia melihat Abu Hurairah berwudlu, lalu membasuh wajahnya dan kedua tangannya hingga hampir mencapai lengan, kemudian membasuh kedua kakinya hingga meninggi sampai pada kedua betisnya, kemudian dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan putih bercahaya disebabkan bekas wudlu. Maka barangsiapa di antara kalian mampu untuk memanjangkan putih pada wajahnya maka hendaklah dia melakukannya’.” (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 1/149)
kedua, ancaman bagi orang yang tidak meratakan air sampai batas minimal anggota tubuh yang wajib dicuci, berdasarkan hadis dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash

رَأَى قَوْمًا وَأَعْقَابُهُمْ تَلُوحُ فَقَالَ وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنْ النَّارِ أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ
Rasulullah shallalahu alaihi wasallam melihat suatu kaum yang tumit-tumitnya tidak tercuci. Maka beliau bersabda , “celaka dari api neraka karena tumit-tumit (tidak tercuci). Sempurnakanlah olehmu wudu.” (HR abu daud, Sunan Abi Daud, 1/72)

Ketiga, hadis dari Mugrirah bin Syu’bah yang pernah menuangkan air dimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berwudlu dengannya
عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ ، وَأَنَّهُ ذَهَبَ لِحَاجَةٍ لَهُ ، وَأَنَّ مُغِيرَةَ جَعَلَ يَصُبُّ الْمَاءَ عَلَيْهِ ، وَهُوَ يَتَوَضَّأُ ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ وَمَسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ
Dari Almughirah bin Syu’bah bahwa dia bersama Rasulullah Saw. dalam sebuah perjalanan, lalu beliau pergi buang hajat. Mughirah yang menuangkan air kepada beliau, kemudian beliau berwudu, mencuci wajahnya, kedua tangannya dan mengusap kepalanya dan kedua khuf-nya”. (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 1/47)

Hadis diatas menunjukan beliau mencuci kedua tangannya tanpa ada keterangan terkait dengan kaifiyatnya sehingga berlaku secara mutlak.

Dengan demikian kesimpulannya, pertama membasuh tangan sampai sikut merupakan rukun wudlu sehingga jika tidak memenuhi batas minimal maka wudlunya tidak sah. Kedua, kaifiyat membasuh tangan adalah dengan meratakan air dari batas ujung kuku sampai batas sikut, boleh dimulai dari jari ataupun dari sikut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here