Beranda Shalat Kaifiyat Musafir Salat Dibelakang Muqim

Kaifiyat Musafir Salat Dibelakang Muqim

453
0

Kaifiyat Musafir Masbuq Kepada Muqim Salat 4 Rakaat

Berawal dari perbedaan kaifiyat dikalangan asatidz terkait dengan praktik salat musafir dibelakang muqim dalam salat empat rakaat, apakah salat musafir tersebut tam (sempurna) atau boleh hanya dua rakaat saja atau tetap diqasar. Hal tersebut tentu bersumber dari pemahaman fiqih terhadap dalil yang berbeda terkait dengan kaifiyat salat musafir dibelakang muqim dalam salat empat rakaat. Persoalan lain yang menjadi pertanyaan adalah jika musafir tersebut masbuq, misalnya hanya mendapatkan satu rakaat dengan imam muqim, apakah harus menyempurnakan dengan 3 rakaat (tam) atau boleh cukup dengan menambah 1 rakaat (qasar). Disamping itu umatpun bertanya akan kepastian hukum mana diantara pendapat tersebut yang harus diambil.

Safar merupakan sebab qasar salat. Hal ini berdasarkan ayat

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا

Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqasar salat, jika kamu takut diserang orang kafir. Sesungguhnya orang kafir itu adalah  musuh  yang  nyata  bagimu. (QS. An-Nisa: 101).

Bagi musafir lebih utama menjalankan rukhsah, daripada azimah atau tam. Ketika musafir bermakmum dibelakang musafir tentu tidak akan jadi masalah yaitu salatnya lebih utama diqasar. Persoalan muncul ketika musafir bermakmum dibelakang muqim salat 4 rakaat. Persoalan tersebut pernah ditanyakan oleh sahabat Musa bin Salamah kepada Ibn Abbas

عَنْ مُوسَى بْنِ سَلَمَةَ الْهُذَلِىِّ قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَيْفَ أُصَلِّى إِذَا كُنْتُ بِمَكَّةَ إِذَا لَمْ أُصَلِّ مَعَ الإِمَامِ. فَقَالَ رَكْعَتَيْنِ سُنَّةَ أَبِى الْقَاسِمِ -صلى الله عليه وسلم-.

Dari Musa bin Salamah Al-Hudzali, ia berkata, aku bertanya kepada Ibnu Abbas, “Bagaimana jika saya di Mekkah tidak salat bermakmum kepada imam yang muqim.” Ibnu Abbas mengatakan, “Salat dua raka’at, itu adalah sunnah Abul Qasim (Rasulullah saw.).” (HR. Muslim, Sahih Muslim 2/143)

            Walaupun pertanyaan Musa bin Salamah di atas terkait dengan kaifiyas salat ketika tidak bersama imam, namun secara mafhum mukhalafah menunjukan bahwa salat bersama imam berarti 4 rakaat atau tam. Kendatipun keimpulan tersebut masih ihtimal, namun hadis fi’liyah sahabat Ibn Umar menjadi bayan yang menghilangkan unsur ihtimal hadis tersebut.

عَنْ نَافِعٍ: أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا كَانَ يُصَلِّي وَرَاءَ الإِمَامِ بِمِنًى أَرْبَعًا، وَإِذَا صَلَّى لِنَفْسِهِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ.

Dari Nafi, bahwa Ibnu Umar r.a. beliau salat di belakang imam di Mina empat rakaat dan apabila beliau salat sendiri beliau salat dua rakaat.” (HR. Ath-Thahawi, Syarah Ma’anil Atsar 1/420)

Hadis diatas menegaskan bahwa perbuatan Ibn Umar Ra, ketika safar bermakmum kepada imam muqim, maka salatnya empat rakaat, adapun ketika salat tidak mengikuti imam setempat, maka salatnya diqasar yaitu dua rakaat. Dengan demikian jika musafir bermakmum kepada muqim salat empat rakaat secara sempurna, yaitu mengikuti semua rakaat, maka salatnya empat rakaat.

Masalah muncul ketika musafir masbuq hanya mengikuti satu rakaat dari imam muqim salat empat rakaat, apakah harus tetap menyempurnakan dengan menambah tiga rakaat atau cukup diqasar dengan menambah satu rakaat. Pemakalah awalnya berpendapat bahwa musafir masbuq tersebut cukup menambah satu rakaat saja (diqasar). Namun dalam diskusi anggota persidangan ditemukan dalil atsar sahabat, yaitu Ibn Umar Ra

عَنْ أَبِي مَجْلَزٍ ، قَالَ : قُلْتُ لاِبْنِ عُمَرَ : أَدْرَكْتُ رَكْعَةً مِنْ صَلاَةِ الْمُقِيْمِيْنَ وَأَنَا مُسَافِرٌ ؟ قَالَ: صَلِّ بِصَلاَتِهِمْ.

Dari Ibnu Majlaz, ia berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Umar, ‘Aku mendapati satu rakaat dari salat muqim (imam muqim) sedangkan saya musafir? Beliau menjawab, ‘Salatlah dengan mengikuti salat mereka (itmam).” (Hr. Abdurrazaq, Mushannaf Abdurrazzaq 2/542)

Maksud dalam hadis diatas salatlah mengikuti salat mereka adalah dengan sempurna empat rakaat walaupun musafir masbuq dibelakang muqim empat rakaat hanya mendapatkan satu rakaat. tentu mafhunya bukan hanya salat masbuq mendapatkan satu rakaat saja, tapi juga berlaku bagi musafir masbuq yang mendapatkan dua atau tiga rakaat dengan imam, maka salatnya mesti disempurnakan menjadi empat rakaat. hal ini berdasarkan hadis

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ جَلَبَةَ رِجَالٍ فَلَمَّا صَلَّى قَالَ مَا شَأْنُكُمْ قَالُوا اسْتَعْجَلْنَا إِلَى الصَّلاَةِ قَالَ فَلاَ تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمْ الصَّلاَةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا. –رواه البخاري-

Dari ‘Abdullah bin Abu Qatadah dari bapaknya ia berkata, “Ketika kami salat bersama Nabi saw., beliau mendengar suara gaduh orang-orang. Maka setelah selesai, beliau bertanya: “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Kami tergesa-gesa mendatangi salat.” Beliau pun bersabda: “Janganlah kalian berbuat seperti itu. Jika kalian mendatangi salat maka datanglah dengan tenang, apa yang kalian dapatkan dari salat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.” (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari 1/129).

Dengan demikian Kesimpulannya

  1. Musafir salat dibelakang imam muqim pada salat 4 rakaat, maka salatnya 4 rakaat (tam)
  2. Musafir masbuq kepada imam muqim harus menyempurnakan rakaat yang tertinggal (tam)

Ginanjar Nugraha, Mudir Ma’had Imam al-Bukhari