Beranda Takhrij Hadis Kajian Hadis : Berlindung dari Istri Cerewet

Kajian Hadis : Berlindung dari Istri Cerewet

227
0

A. Berlindung dari Istri Cerewet

Terdapat beberapa tulisan dengan judul “Berlindung dari Istri Cerewet” dengan menyantumkan suatu hadis, terlepas dari apakah hadis ini relevan atau tidak, maka tema ini sangat unik untuk dibahas.

Diantara makhluk yang Allah ciptakan adalah para perempuan, mereka sangat spesial karena memiliki ciri khas yang sangat berbeda dibandingkan dengan laki-laki. Tak hanya bentuk tubuhnya saja, tingkat dan cara bicaranya pun memiliki khas yang sungguh mencolok.

Diantara beberapa ciri khas para perempuan adalah suka cerewet dan SUKA NGOMEL baik itu didepan maupun dibelakang para lelaki.

Ternyata, sifat Istri ini tak kalah bahayanya dibandingkan dengan virus corona yang saat ini lagi viral, karena dalam penelitian menyebutkan bahwa istri yang suka cerewet dan suka ngomel kepada suaminya akan menyebabkan suaminya lebih cepat mengalami gangguan jantung. Gangguan jantung inilah yang dapat menyebabkan para suami cepat mati ketimbang istrinya, karena gangguan jantung para suami berdasarkan hasil penelitian tersebut pada umunya terjadi karena isrinya sangat cerewet dan suka ngomel kepada suaminya walaupun itu hanya persoalan yang sangat sepele sekalipun.

Penelitian tersebut dilakukan oleh sekelompok peneliti dari Universitas Michigan yang meneliti tekanan darah pada para suami.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa suami yang memiliki sifat sensitif dan selalu menutupi keburukan istri ternyata memiliki daya tahan tubuh yang rendah sehingga mudah terkena penyakit.

Terdapat beberapa pertanyaan pula dari jamaah terkait sebuah pernyaatan dari sebuah artikel yang menyatakan bahwa “Istri Cerewet dan Suka Ngomel Bisa Sebabkan Suami Cepat Mati”, Wallaahu A’lam. Inilah diantara yang melatarbelakangi judul diatas.

Terdapat Hadis adanya do’a meminta perlindungan kepada Allah dari pasangan yang menjadi beban pikiran. Dalam sebuah hadits disebutkan doa berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ، وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ الْمَشِيبِ، وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا، وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا، وَمِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي، وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي، إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا، وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang jahat; dari pasangan yang menjadikanku tua (beruban) sebelum waktunya; dari anak (keturunan) yang berkuasa kepadaku; dari harta yang menjadi siksa (kelak) bagiku; dan dari teman dekat yang berbuat makar kepadaku, matanya melihat dan hatinya terus mengawasi, yang apabila kebaikanku ia menutupinya, namun apabila ia melihat kejelekanku ia menyebarkannya”.

Melihat redaksi hadis ini, tentunya tidak tepat dengan judul diatas, tepatnya adalah meminta perlindungan dari bergabai kekurangan kita kepada Allah Swt.

B. Analisis Hadis

Al-Thabarani dalam al-Du’aa, Juz 1 no. 1339 hal. 399

– 1339حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ حَمَّادٍ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ مِنْ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ، وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ الْمَشِيبِ، وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا، وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا، وَمِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا، وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا»

Al-Hasan bin Ahmad Al-Hadlrami[1]dalam periwayatannya dari Muhammad bin ‘Ajlaan diselisihi oleh:

  • Abu Sa’iid Al-Asyaj[2]sebagaimana diriwayatkan oleh Aslam bin Sahl dalam Taarikh Waasith hal. 130 no. 112
  • Hannaad bin As-Sariy[3] dalam Az-Zuhd hal. 505 no. 1038

Yang meriwayatkan dari perkataan Sa’iid Al-Maqburiy (maqthuu’), ia berkata:

كَانَ مِنْ دُعَاءِ دَاوُدَ النَّبِيِّ ﷺ: ” اللَّهُمَّ، إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ، وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ الْمَشِيبِ، وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ وَبَالا، وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا، وَمِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ عَيْنَاهُ تَرَانِي وَقَلْبُهُ يَرْعَانِي إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا وَإِنْ رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا “

“Termasuk diantara doa yang diucapkan Nabi Dawud As : “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang jahat; dari pasangan yang menjadikanku tua (beruban) sebelum waktunya; dari anak yang menjadi bencana/kesusahan bagiku; dari harta yang menjadi adzab (kelak) bagiku; dari dari teman dekat yang berbuat makar kepadaku, matanya melihat dan hatinya terus mengawasi, yang apabila kebaikanku ia menutupinya, namun apabila ia melihat kejelekanku ia menyebarkannya”.

Jika kita tarjih, maka riwayat maqthu’ lebih kuat. Jika kita anggap dua jalan tersebut sama-sama kuat[4], maka di sini ada idhthiraab yang berasal dari Abu Khalid Al-Ahmar. Ibnu Hajar menghukuminya sebagai perawi yang shaduuq, namun sering keliru (yukhthi’)’[5]

Meskipun terdapat ta’dil dari banyak ulama, namun ada diantara hadits-haditsnya yang perlu untuk diteliti. Ibnu ‘Adi berkata : “Ia mempunyai hadits-hadits yang shaalihah (baik). Hanya saja, hapalannya yang jelek menyebabkan ia sering keliru. Ia pada asalnya adalah sebagaimana yang dikatakan Ibnu Ma’iin : ‘shaduuq, namun bukan sebagai hujjah”[6]

Ibnu Hajar dalam Muqaddimah Al-Fath hal. 407 menyebutkan bahwa Abu Bakr Al-Bazzar berkata : “Para ulama hadits sepakat bahwa ia bukan seorang yang hafizh. Ia meriwayatkan dari Al-A’masy dan yang lainnya hadits-hadits yang tidak ada mutaba’ah-nya”[7]

Kemungkinan, hadis ini adalah salah satu yang ia (Abu Khalid Al-Ahmar) keliru dalam periwayatannya.

Kemungkinan lain kekeliruan ini berasal dari Muhammad bin ‘Ajlaan. Sebagian ulama mengkritik periwayatannya yang berasal dari Sa’iid Al-Maqburi, dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu[8]

Ada syahid dari Ibnu ‘Abbaas sebagaimana diriwayatkan oleh Aslam bin Sahl dalam Taariikh Waasith hal. 130, namun sanadnya sangat lemah karena Husain bin Qais, seorang yang matruuk.

Kesimpulannya, hadits ini dha’if secara marfu’, tidak boleh disandarkan pada Nabi Saw. Yang shahih, ini hanya perkataan dari Sa’id Al-Maqburi. 

C. Wajibnya Meminta Perlindungan Kepada Allah dalam Segala Hal

Lepas dari kedhaifan hadis ini secara marfu, namun Hadis ini begitu agung dan maknanya bisa kita gunakan sebab tidak menyalahi syariat, bahkan sesuai dengan syari’at.

  • Berlindung dari gangguan tetangga
  • Berlindung dari pasangan (suami dari istri atau istri dari suami) yang berkelakuan jelek yang membuat seseorang cepat beruban (tua) sebelum waktunya.

Yang dimaksud di sini adalah dari suami atau istri yang jelek. Jika dilihat fisik maupun kelakuannya tidak enak. Kata-katanya selalu menyakiti pasangannya. Jika pasangan tersebut ditinggal pergi selalu tidak merasa aman pada jiwa dan harta. Itulah yang menyebabkan seseorang beruban sebelum waktunya dikarenakan pasangannya. Karena keadaan pasangan yang jelek seperti ini terus menderita dan penuh kesedihan.

  • Berlindung dari anak yang berkuasa pada orang tua

Maksudnya di sini adalah anak tersebut bertingkah laku seperti bos karena saking kurang ajar dan durhakanya pada orang tuanya sendiri. Anak tersebut bertingkah seperti seorang majikan pada budaknya.

  • Berlindung dari harta yang menjadi siksa

Maksudnya adalah harta itu bisa menyebabkan seseorang disiksa dan bisa membuat seseorang itu merugi dikarenakan terus mencari harta tanpa memperhatikan halal atau haramnya. Padahal harta haram akan menghilangkan keberkahan. Di samping itu, di akhirat juga harta haram akan berakibat jelek.

Jadi dalam do’a ini ada permintaan untuk mendapatkan pasangan yang shalih, anak yang shalih, serta harta yang halal yang diperoleh dari pekerjaan halal dan bisa digunakan berinfak di jalan kebaikan. Begitu pula penting kiranya mendapatkan teman yang shalih untuk mendukung agama, dunia dan akhirat kita. Itulah yang terkandung dalam do’a bagian kelima.

  • Berlindung dari teman dekat yang berbuat makar kepadaku, matanya melihat dan hatinya terus mengawasi. Kalau melihat kebaikanku, ia timbun dan kalau melihat kejelekanku, ia sebarkan.

Maksudnya di sini adalah berlindung dari teman yang secara lahiriyah menunjukkan rasa cinta. Padahal di batinnya berbeda. Pandangannya ternyata hanyalah tipu daya. Hatinya ternyata punya keinginan yang bukan-bukan.

Kalau ada kebaikan yang diketahui malah ia sembunyikan, tidak mau menyebarkan. Malah kalau kejelekan yang diketahui, ia sebar-sebarkan. Ini bukanlah teman yang baik. Ini adalah musuh yang terselubung. Keadaannya seperti keadaan orang munafik yang Allah sebut,

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya.” (QS. Ali Imran: 120)

Jika kita perhatikan, doa yang panjatkan oleh Sa’iid al-Maqburiy mengandung makna sebuah permintaan agar kita memiliki kebahagiaan di dunia dan akhirat. Di dunia, seseorang tentu bahagia dengan istri dan anak yang shalih shalihah, tetangga yang baik dan teman yang mendukung agama kita, serta harta yang penuh berkah, semoga kita semua dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.


[1] Al-Hasan bin Hammaad bin Kusaib Al-Hadlramiy, Abu ‘Aliy Al-Baghdadiy, berlaqab sajjaadah; seorang yang tsiqah, shaahibus-sunnah. Dipakai oleh Abu Daawud, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Al-Kaasyif, 1/324 no. 1024].

[2] Abu Sa’iid Al-Asyajj namanya ‘Abdullah bin Sa’iid bin Hushain Al-Kindiy, Abu Sa’iid Al-Asyajj Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-10, dan meninggal tahun 257 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 511 no. 3374].

[3] Hannad bin As-Saariy, ia adalah Ibnu Mush’ab bin Abi Bakr At-Tamiimiy Ad-Daarimiy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-10, lahir tahun 152 H, dan meninggal tahun 243 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam Khalqu Af’aalil-‘Ibaad, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1025 no. 7370].

[4] Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah menyebutkan mutaba’ah bagi Al-Hasan bin Hammaad, yaitu Al-Hasan bin Sahl. Beliau rahimahullah berkata:

الحديث أخرجه الديلمي في “مسند الفردوس ” (1/1/183) من طريق أبي بكر بن أبي عاصم: حدثنا الحسن بن سهل: حدثنا أبو خالد الأحمر به مقتصراً على الشطر الثاني منه، بلفظ: “اللهم إني أعوذ بك من خليلٍ ماكرٍ… ” إلخ

“Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (1/1/8) dari jalan Abu Bakr bin Abi ‘Aashim : Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Sahl : Telah menceritakan kepada kami Abu Khaalid Al-Ahmar dengan sanad tersebut secara ringkas pada bagian kedua dari hadits, dengan lafadh : “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari teman yang jahat …..dst.”.

Al-Hasan bin Sahl ini adalah Al-Ju’fiy Al-Kuufiy. Abu Zur’ah meriwayatkan hadits darinya, dan ia (Abu Zur’ah) tidaklah meriwayatkan kecuali dari orang yang tsiqah [lihat : Silsilah Ash-Shahiihah, 7/377-378 no. 3137].

Hanya saja, Asy-Syaikh Al-Albaaniy tidak menyebutkan sanad sebelum Ibnu Abi ‘Aashim sehingga dapat dinilai apakah sanad tersebut shahih sampai Al-Hasan bin Sahl ataukah tidak. Hal ini dikarenakan beliau rahimahulah sendiri menjelaskan bahwa Ad-Dailamiy ini banyak mengumpulkan riwayat-riwayat yang dla’iif/palsu dari para perawi pendusta, pemalsu, dan matruk; sehingga Ad-Dailamiy disebut beliau sebagai haatibul-lail ! [Silsilah Adl-Dla’iifah, 12/565].

[5] Taqriibut-Tahdziib, hal. 406 no. 2562

[6]  Tahdziibul-Kamaal, 11/394-398 no. 2504

[7] Kasyful-Iihaam, hal. 399 oleh Dr. Maahir Al-Fahl

[8] Mausu’ah Aqwaal Al-Imaam Ahmad 3/293-295 no. 2387 dan Mausu’ah Aqwaal Ad-Daaraquthniy hal. 604 no. 3244

Oleh : Robi Permana