Data dari Mahkamah Agung, terkait dengan data penyebab perceraian, pertama karena ketidakharmonisan dan percekcokan. Kedua, faktor ekonomi. Ketiga, adanya orang ketiga. Keempat Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Saya pribadi pernah menangani kasus-kasus KDRT, biasanya yang jadi korban adalah perempuan. Ada yang diludahi mukanya, ada yang dipukul, diancam samurai, bahkan ada yang mau ditusuk oleh suaminya.

Sebagai tindakan preventif, maka bagi anda perempuan atau punya anak perempuan, selektiflah dalam mencari calon pasangan atau menantu. Hawatir ada riwayat pernah melalukan tindakan kekerasan. Cari dan selidiki.

Setidaknya tindakan kekerasan itu ada 3 bentuk, pertama kekerasan fisik, yaitu memukul, menampar, menendang dan sejenisnya. Kedua, kekerasan verbal, misalnya berkata kasar seperti anjing, babi dan lainnya. Bisa juga berbentuk ancaman-ancaman kepada pasangan. Ketiga, kekerasan ekonomi, yaitu menjadikan perempuan sebagai objek eksploitasi ekonomi.

Sebagaimana penyakit, solusi terhadap KDRT terkadang berbeda-beda, banyak faktor yang mempengaruhi dan unik. Terkadang bisa dengan cara soft, misalnya dengan nasihat dan musyawarah. Nasihat misalnya dilakukan langsung oleh sang istri atau melalui yang lain, yang dihormati suami sehingga pelaku kekerasan menyesal dan bertaubat.

Bisa juga dengan musyawarah, yaitu mengundang seseorang yang mumpuni secara ilmu dan pengalaman, serta dihormati oleh kedua belah pihak. Bisa juga ke lembaga resmi semisal BP4 yang ada disetiap KUA Kecamatan, tidak ada biaya alias gratis. Datang saja pas hari kerja.

Apa yang diceramahkan artis Oki sebetulnya bisa jadi solusi dalam konteks pedekatan solusi soft ini. Memperlihatkan akhlaq istri yang begitu menghormati sang suami, bukan dalam rangka mengafirmasi tindakan kekerasan. Ada kalanya perlu tindakan keras, darurat dan hukum. Misalnya ketika sudah menjadi kebiasaan, menjadi kekerasan struktural dan membahayakan. Bisa dilaporkan kepada pihak yang berwajib dan melakukan gugatan perceraian.

Biasanya bagi pihak perempuan yang menjadi korban, banyak dalam kondisi dilema, kaitan dengan status, pertimbangan anak, ketergantungan secara ekonomi dan lainnya, jadi memang tidak sesederhana lapor polisi lalu dipenjara. Tapi membutuhkan solusi yang tepat, dengan tetap mencegah terjadi kembali tindakan kekerasan, dari mulai cara yang soft sampai yang keras, sesuai konteks masalah.

Saya teringat firman Allah khusus kepada para suami :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَرِثُوا۟ ٱلنِّسَآءَ كَرْهًاۖ وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا۟ بِبَعْضِ مَآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّآ أَن يَأْتِينَ بِفَٰحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْئًا وَيَجْعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Wahai orang-orang beriman! Tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya (An-Nisa’ : 19)

Sabda Rasulullah Saw kepada para kepala rumah tangga

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku yang paling terhadap keluargaku (HR Tirmidzi)

Begitu juga kesaksian dari sayyidah Aisyah RA terhadap budi pekerti Rasulullah SAW

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلَا امْرَأَةً وَلَا خَادِمًا إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Rasulullah ﷺ sama sekali tidak pernah memukul dengan tangannya pelayan beliau atau pun seorang wanita pun, kecuali saat berjihad di jalan Allah (HR. Muslim)

Semoga bermanfaat,

Ginanjar Nugraha