Beranda Uncategorized KELEMAHAN ATSAR THAWUS TERKAIT ANJURAN TAHLILAN

KELEMAHAN ATSAR THAWUS TERKAIT ANJURAN TAHLILAN

2327
0

Terdapat riwayat berupa hadits Maqthu dari Thawus terkait sunnah memberikan makan selama 7 hari (tahlilan) yang dijadikan pegangan atau dasar dalil oleh orang-orang yang gemar melakkannya.

Hadits maqthu yang dimaksud adalah:

إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ سَبْعًا، فَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ الأَيَّامِ

Sesungguhnya orang yang meninggal akan ditanya dalam kuburnya selama 7 hari. Dulu mereka menyukai untuk memberikan makanan dari mereka (yang meninggal) pada hari-hari tersebut.

TAKHRIJ HADITS

  1. Abu Nu’aim ra dalam Hilya Auliya Juz 4 halaman 11

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ مَالِكٍ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، ثنا أَبِي، ثنا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، ثنا الأَشْجَعِيُّ، عَنْ سُفْيَانَ، قَالَ: قَالَ طَاوُسٌ: ” إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ سَبْعًا، فَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ الأَيَّامِ “

  • Ibn Hajar dalam al-Mathalib al-‘Aaliyah bi Zawaaid al-Masaanid al-Tsamaaniyyah no. 834 halaman 242

834 – وَقَالَ أَحْمَدُ فِي الزُّهْدِ حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، ثنا الأَشْجَعِيُّ، عَنْ سُفْيَانَ، قَالَ: قَالَ طَاوُسٌ: ” إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ سَبْعًا، وَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعِمُوا عَنْهُمْ تِلْكَ الأَيَّامَ “

ANALISIS SANAD

  1. Abu Bakr bin Maalik (Lahir tahun 274 H dan wafat tahun 368 H)

Beliau adalah : Ahmad bin Ja’far bin Hamdaan bin Maalik bin Syabiib Al-Baghdaadiy Al-Qathii’i Al-Hanbali, Abu Malik; seorang yang tsiqah.[1]

  • ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilaal bin Asad Asy-Syaibaaniy, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Baghdaadi, (wafat tahun 290 H)

Seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-12.[2]

  • Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilaal bin Asad Asy-Syaibaaniy, Abu ‘Abdillah Al-Marwaziy, ( thabaqah ke-10, lahir tahun 164 H, dan wafat tahun 241 H)

Imam yang tsiqah, haafizh, faqiih, lagi hujjah. Rijalnya Al-Bukhaari, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidzi, An-Nasaa’i, dan Ibnu Majah[3]

  • ‘Ubaidullah bin ‘Ubaidirrahmaan Al-Asyja’i, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Kuufi, (Thabaqah ke-9, dan wafat tahun 182 H)

seorang yang tsiqah lagi ma’muun, orang yang paling tsabt kitabnya dalam riwayat dari Ats-Tsauri. Rijalnya Al-Bukhaari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasaa’i, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 642 no. 4347].

  • Sufyaan bin Sa’iid bin Masruuq Ats-Tsauriy, Abu ‘Abdillah Al-Kuufi. (thabaqah ke-7, lahir tahun 97 H, dan wafat tahun 161 H)

Seorang yang tsiqah, haafizh, faqiih, ‘aabid, imam, lagi hujjah. Rijalnya Al-Bukhaari, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidzi, An-Nasaa’i, dan Ibnu Maajah.[4]

  • Thawus bin Kaisan Al-Yamani, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Humairi. (thabaqah ke-3, wafat tahun 106 H)

seorang yang tsiqah, faqiih, lagi faadhil. Rijalnya Al-Bukhaari, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidzi, An-Nasaa’i, dan Ibnu Maajah[5]

dari uraian ini, dapat kita perhatikan bahwa para perawi riwayat di atas adalah tsiqaat. Namun, rijaal tsiqaat tidaklah langsung menjadikan satu riwayat shahih. Para Muhaddits biasanya menyebut hadits model begini dengan sebutan Shahiihul Isnad, namun kalimat tersebut belum tentu bisa shahih secara periwayatan karena ternyata riwayat tersebut ma’luul (terdapat kecacatan yang tersembunyi) hingga derajatnya dhaif.

ANALISIS ILAL AL-HADITS

Merujuk keapda tarikh, Sufyaan Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H di Kufah, sedangkan Thawus bin Kaisan wafat 106 H di Makkah. Hingga jika merujuk kepada tahun wafatnya Thawus, maka Sufyaan belum melakukan rihlah ke Makkah[6].

Terdapat riwayat yang menguatkannya:

أَخْبَرَنَا ابن رزق، قال: أَخْبَرَنَا عثمان بن أحمد، قال: حَدَّثَنَا حنبل بن إسحاق، قال: قال أبو نعيم: خرج سفيان الثوري من الكوفة سنة خمس وخمسين ومائة ولم يرجع، ومات سنة إحدى وستين ومائة، وهو ابن ست وستين فيما أظن

Sufyaan Ats-Tsauri keluar dari Kufah pada tahun 155 H, dan kemudian ia tidak kembali lagi. Ia meninggal tahun 161H dalam usia 66 tahun sebagaimana yang aku kira.[7]

Selain itu, dari sekitar 280 daftar syaeikhnya Sufyan al-Tsauri tidaklah ditemukan syaikhnya yang bernama Thawus. Begitupun sebaliknya dari 42 jumlah murid Thawus tidak ditemukan muridnya yang bernama Sufyan al-Tsauri. Ini mengindikasikan bahwa Sufyan memang tidak pernah berguru kepada Thawus.

Kejanggalan ini semakin terlihat dimana justru Sufyan sering meriwayatkan hadits dari 13 syaikhnya yang menjadi muridnya Thawus dan bukan meriwayatkan dari Thawus. ini artinya periwayatan Sufyan ke Thawus baru dikatakan muttasil apabila ia meriwayatkannya melalui satu thabaqah yaitu salah satu dari ke 13 muridnya Thawus. Semisal Abdullah bin Thawus (anaknya Thawus), Atha bin as-Sa’ib, Ibrahim bin Maisarah, Ibrahim bin Yazid al-Khuzi, Usamah bin Zaid al-Laitsi, Habib bin Abi Tsabit, Hanzhalah bin Abi Sufyan,  Abdullah bin Abi Najih, Abdul Karim bin Malik al-Jazari, Ikrimah bin Amar, Amer bin Dinar, Laits bin Abi Sulaim, dan Abu Zubair Muhammad bin Muslim al-Makki. (daftar murid dan guru bisa dilihat Tahdzib al-Kamal : VII : 353 dan jilid : IX : 211).

Sebagai bandingan salah satu contoh hadits Muttashil Sufyan ke Thawus sebagaimana hadits do’a tahajjud yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari no. 5958 juz 3 halaman 2328

5958 – حدثنا عبد الله بن محمد حدثنا سفيان سمعت سليمان بن أبي مسلم عن طاوس عن ابن عباس : كان النبي صلى الله عليه و سلم إذا قام من الليل يتهجد قال ( اللهم لك الحمد أنت نور السموات والأرض ومن فيهن ولك الحمد أنت قيم السموات والأرض ومن فيهن ولك الحمد أنت الحق ووعدك حق وقولك حق ولقاؤك حق والجنة حق والنار حق والساعة حق والنبيون حق ومحمد حق اللهم لك أسلمت وعليك توكلت وبك آمنت وإليك أنبت وبك خاصمت وإليك حاكمت فاغفر لي ما قدمت وما أخرت وما أسررت وما أعلنت أنت المقدم وأنت المؤخر لا إله إلا أنت أو لا إله غيرك )

Disini terlihat ada perantara antara Sufyan dan Thawus, sehingga Sufyan periwayatannya mutashil jika ia meriwayatkan dari salah satu muridnya Thawus yang menerima dari Thawus.

Pentahqiq kitab al-Mathalib karya Al-Hafizh Ibnu Hajar mendha’ifkan riwayat ini karena alasan sanadnya munqathi antara Sufyan ke Thawus. Berikut ungkapannya dari kitab “ al-Mathalib al-‘Aliyah : V : 330. :

الإِسناد رجاله كلهم ثقات إلا أنه منقطع بين سفيان وطاوس. فهو ضعيف.

Sanad rijalnya seluruhnya tsiqat hanya saja sanad tersebut munqathi (ada keterputusan) antara Sufyan dan Thawus. Maka hadis tersebut dha’if.

Terdapat riwayat lain yang diriwayatkan oleh Abdurrazaq no. 6757 juz 3 halaman 1161  :

 – 6757 عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ ” إِنَّمَا يُفْتَنُ رَجُلانِ مُؤْمِنٌ، وَمُنَافِقٌ، أَمَّا الْمُؤْمِنُ: فَيُفْتَتَنُ سَبْعًا، وَأَمَّا الْمُنَافِقُ: فَيُفْتَنُ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا، وَأَمَّا الْكَافِرُ: فَلا يُسْأَلُ عَنْ مُحَمَّدٍ، وَلا يَعْرِفُهُ “

Dari Ibnu Juraij, ia berkata : Telah berkata ‘Abdullah bin ‘Umar : “Dua orang yaitu orang mukmin dan munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari. Orang munafiq selama empat puluh hari. Adapun orang kafir, maka jangan ditanya dari Muhammad, ia tidak mengetahuinya”

ANALISIS SANAD

Riwayat ini dhaif karena munqathi’. Ibnu Juraij tidak pernah bertemu dengan Ibnu ‘Umar. Selain itu, Ibnu Juraij sendiri seorang yang tsiqah namun sering melakukan tadlis dan irsaal.[8]

Kemudian jika kita analisa lebih dalam, maka jalur periwayatan ini telah terjadi Mushahhaf dari nama Ubaid bin ‘Umair menjadi Abdullah bin Umar. Hal ini sudahtidak asing lagi jika melihat model Hasyahnya imam al-Suyuthi, diantaranya apa yang dikatakan oleh Ibn Abdil Barr al-Maaliki[9]

وَكَانَ عُبَيْدُ بْنُ عُمَيْرٍ فِيمَا ذَكَرَ ابْنُ جريج عن الحرث بن أبي الحرث عَنْهُ يَقُولُ يُفْتَنُ رَجُلَانِ مُؤْمِنٌ وَمُنَافِقٌ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُ سَبْعًا وَأَمَّا الْمُنَافِقُ فَيُفْتَنُ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا

Bahwa Ubaid bin ‘Umair sebagaimana yang disebutkan Ibn Juraij dari al-Haarits bin Abi al-Haarits darinya (Ubaid bin ;Umair) berkata: “Dua orang yaitu orang mukmin dan munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari. Orang munafiq selama empat puluh hari. Adapun orang kafir, maka jangan ditanya dari Muhammad, ia tidak mengetahuinya”

SYAJARATU ISNAD

Terdapat Riwayat yang shahih yang menyatakan bahwa berkumpul dikeluarga mayit dan menghidangkan makanan untuk para tamu termasuk niyahah

  1. Sunan Ibn Majah, no. 1612 juz 2 halaman 538

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ. ح وحَدَّثَنَا شُجَاعُ بْنُ مَخْلَدٍ أَبُو الْفَضْلِ، قَالَ: حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ إِسْمَاعِيل بْنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ، قَالَ: ” كُنَّا نَرَى الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ مِنَ النِّيَاحَةِ “

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Manshuur : Telah menceritakan kepada kami Husyaim (ح). Dan telah menceritakan kepada kami Syujaa’ bin Makhlad Abul-Fadhl, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Husyaim, dari Ismaa’iil bin Abi Khaalid, dari Qais bin Abi Haazim, dari Jariir bin ‘Abdillah Al-Bajali, ia berkata :

“Kami (para shahabat) menganggap berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka (kepada para tamu) termasuk bagian dari niyahah(meratapi mayit)”

  • Mu’jam Kabir al-Thabarani no. 2279 juz 2 halaman 307

2279 – حَدَّثَنَا عَبْدَانُ بْنُ أَحْمَدَ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ ثنا هُشَيْمٌ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ قَيْسٍ، عَنْ جَرِيرٍ، قَالَ: «كَانُوا يَرَوْنَ أَنَّ اجْتِمَاعَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ مِنَ النِّيَاحَةِ»

  • Musnad al-Maudhu’i al-jaami’ likitaabi al-‘Asyrah, no. 1 juz 13 halaman 127

1 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ: حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، ح وحَدَّثَنَا شُجَاعُ بْنُ مَخْلَدٍ أَبُو الْفَضْلِ، قَالَ: حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ، قَالَ: “كُنَّا نَرَى الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ مِنَ النِّيَاحَةِ”

Semua jalur ini tsiqah, hanya saja Husyaim seorang mudallis[10] dan di sini ia meriwayatkan dengan ‘an’anah. Husyaim mempunyai mutaba’ah dari Nashr bin Baab sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad no. 6905 juz 11 halaman 505

6905 – حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ بَابٍ عَنْ إِسْمَاعِيلَ عَنْ قَيْسٍ عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنْ النِّيَاحَةِ

Namun dalam sanad ini terjadi perselisihan, yaitu terdapatnya rawi Nashr bin Baab, ia rawi yang lemah[11].

Namun riwayat ini dikuatkan oleh riwayat Ibn Abi Syaibah no. 11349 juz 2 halaman 487:

11349 – حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ، عَنْ طَلْحَةَ قَالَ: قَدِمَ جَرِيرٌ عَلَى عُمَرَ فَقَالَ: هَلْ يُنَاحُ قِبَلَكُمْ عَلَى الْمَيِّتِ؟ قَالَ: «لَا». قَالَ: فَهَلْ تَجْتَمِعُ النِّسَاءُ عِنْدَكُمْ عَلَى الْمَيِّتِ وَيُطْعَمُ الطَّعَامُ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، فَقَالَ: «تِلْكَ النِّيَاحَةُ»

 “Apakah kamu sekalian suka meratapi mayit ?”. Jarir menjawab : “Tidak”. ‘Umar berkata : “Apakah diantara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayit dan makan hidangannya ?”. Jarir menjawab : “Ya”. ‘Umar berkata : “Hal itu sama dengan niyahah (meratapi mayit)”

Semua perawinya tsiqah, namun terdapat kerancuan akan keterputusan antara Thalhah dengan Jariir. Tapi hal ini dikuatkan kembali oleh jalur lain sebagai syaahid:

ثنا عَبْدُ الْحَمِيدِ، قَالَ: أنا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، قَالَ: أنا عُمَرُ أَبُو حَفْصٍ الصَّيْرَفِيُّ، وَكَانَ ثِقَةً، قَالَ: ثنا سَيَّارٌ أَبُو الْحَكَمِ، قَالَ: قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: ” كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ بَعْدَمَا يُدْفَنُ مِنَ النِّيَاحَةِ “

 “Dulu kami menganggap berkumpul-kumpul di sisi keluarga mayit setelah si mayit dikuburkan termasuk niyahah (meratap)”[12]

Semua perawinya tsiqaat, hanya saja Sayyaar tidak pernah bertemu dengan ‘Umar ra.

Dari keseluruhan riwayat yangs aling menguatkan, maka atsar atsar Jariir bin Abdillah adalah Hasan.[13]

Asy-Syaafi’iy rahimahullah berkata :

وَأَكْرَهُ النِّيَاحَةَ عَلَى الْمَيِّتِ بَعْدَ مَوْتِهِ، وَأَنْ تَنْدُبَهُ النَّائِحَةُ عَلَى الِانْفِرَادِ، لَكِنْ يُعَزَّى بِمَا أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الصَّبْرِ وَالِاسْتِرْجَاعِ، وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ، فَإِنَّ ذَلِكَ يُجَدِّدُ الْحُزْنَ وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ، ….

“Dan aku membenci perbuatan niyaahah (meratap) terhadap mayit setelah kematiannya dan orang yang meratap tersebut menyebut-nyebut kebaikan si mayit secara tersendiri. Akan tetapi hendaknya ia dihibur dengan sesuatu yang diperintahkan Allah agar bersabar dan mengucapkan kalimat istirjaa’. Dan aku juga membenci[14] berkumpul-kumpul di keluarga di mayit meskipun tidak disertai adanya tangisan, karena hal tersebut akan menimbulkan kesedihan dan membebani materi/bahan makanan (bagi keluarga si mayit)…” [Al-Umm, 1/248].

Kesimpulan : 

  1. Atsar Thawus adalah sangat dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah
  2. Tidak diketahui adanya amalah (tahlilan) dan atau makan-makan selama tujuh hari pada masa Nabi, Shahabat dan Tabi’in
  3. Makan-makan di rumah mayit yang diberikan kepada tamu adalah bentuk niyahah (ratapan yang sangat dilarang oleh agama)

Penulis: Robi Permana


[1] Lihat : Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 16/210-213 dan Mishbaarul-Ariib 1/75 no. 1316

[2] Taqriibut-Tahdziib, hal. 490 no. 3222

[3] Taqriibut-Tahdziib, hal. 98 no. 97

[4] Taqribut-Tahdziib, hal. 394 no. 2458

[5] Taqriibut-Tahdziib, hal. 462 no. 3026

[6] Bahkan ia (Sufyaan) belum keluar dari negerinya (Kufah).

أَخْبَرَنَا ابن رزق، قال: أَخْبَرَنَا عثمان بن أحمد، قال: حَدَّثَنَا حنبل بن إسحاق، قال: قال أبو نعيم: خرج سفيان الثوري من الكوفة سنة خمس وخمسين ومائة ولم يرجع، ومات سنة إحدى وستين ومائة، وهو ابن ست وستين فيما أظن

Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Rizq, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Utsmaan bin Ahmad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hanbal bin Ishaaq, ia berkata : Telah berkata Abu Nu’aim (Al-Fadhl bin Dukain) : “Sufyaan Ats-Tsauriy keluar dari Kuufah pada tahun 155 H, dan kemudian ia tidak kembali lagi. Ia meninggal tahun 161 H dalam usia 66 tahun sebagaimana yang aku kira” [Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dalamTaariikh Baghdaad, 10/242 – biografi Sufyaan Ats-Tsauriy].

Sanad riwayat ini shahih, semua perawinya tsiqaat.

[7] Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dalamTaariikh Baghdaad, 10/242 – biografi Sufyaan Ats-Tsauriy

[8] Abdul-Malik bin ‘Abdil-‘Aziiz bin Juraij Al-Qurasyi Al-Umawiy, Abul-Waliid atau Abu Khaalid Al-Makki – terkenal dengan nama Ibnu Juraij; seorang yang tsiqah, faqiih, lagi faadlil, akan tetapi banyak melakukan tadlis dan irsal. Termasuk thabaqah ke-6, wafat tahun 150 H, atau dikatakan setelahnya. Dipakai oleh Al-Bukhaari, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 624 no. 4221].

Ia tidak pernah berjumpa seorang pun dari kalangan shahabat [Jaami’ut-Tahshiil, hal. 229-230 no. 472].

[9] Al-Tamhiid limaa fii al-Muwatha minal ma’aani wa al-masaanid, bab HAdits ke-35 JUz 22 halaman 252

[10] Husyaim bin Basyiir bin Al-Qaasim bin Diinaar As-Sulamiy, Abu Mu’aawiyyah bin Abi Khaazim; seorang yang tsiqah lagi tsabt, namun banyak melakukan tadlis dan irsal khafiy. Termasuk thabaqahke-7, lahir tahun 104/105 H, dan wafat tahun 183 H. Rijalnya imam Al-Bukhaari, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidzi, An-Nasaa’i, dan Ibnu Majah (Taqriibut-Tahdziib, hal. 1023 no. 7362)

[11] Beberapa ulama mengkritiknya dengan keras, seperti Ibnu Ma’iin, Zuhair bin Harb, Abu Haatim, Juzjaaniy, dan yang lainnya. Akan tetapi Ahmad bin Hanbal mentautsiqnya dan membelanya saat mengetahui beberapa ulama mendustkannya. Ia (Ahmad) mengatakan bahwa Nashr bin Baab diingkari para ulama saat ia (Nashr) meriwayatkan dari Ibraahiim Ash-Shaaigh. Ibnu Sa’d juga mengatakan hal yang sama dengan Ahmad. Ahmad adalah ulama yang terkenal muta’addil dalam urusan al-jarh wat-ta’diil, dan ia juga termasuk orang yang paling tahu mengenai gurunya, Nashr bin Baab, sehingga mengambil riwayat darinya. Namun bukan berarti jarh para ulama kepada Nashr tidak memberikan pengaruh. Nashr adalah seorang yang dla’iif yang riwayatnya dapat digunakan sebagai i’tibaar, hanya saja tidak benar tuduhan dusta yang dialamatkan kepadanya. Wallaahu a’lam.

[12] Diriwayatkan oleh Aslam bin Sahl dalam Taariikh Waasith hal. 26 no. 206

[13] Atsar Jariir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu tersebut dishahihkan oleh An-Nawawiy dalamAl-Majmuu’ 5/285, Ibnu Katsiir dalam Irsyaadul-Faqiih 1/241, Al-Buushiiriy dalam Zawaaidu Ibni Maajah  hal. 236, Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfatul-Muhtaaj 3/207, Asy-Syaukaani dalam As-Sailul-Jaraar 1/372, dan yang lainnya.

[14] Makna ‘makruh’ dalam perkataan Asy-Syaafi’iy rahimahullah di sini adalah tahriim (pengharaman), karena sebelumnya ia juga mengatakan tentang makruhnya perbuatanniyaahah (meratap). Perkataan itu satu rangkaian. Meratap sendiri sudah jelas hukumnya, yaitu haram, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

اثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ، الطَّعْنُ فِي النَّسَبِ، وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ

“Dua perkara yang dapat membuat manusia kufur : Mencela keturunan dan niyaahah (meratapi mayit)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 67].

Ummu ‘Athiyyah berkata :

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَانَا عَنِ النِّيَاحَةِ “

“Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kami dari perbuatanniyaahah” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 3127; shahih].