Beranda Ushulfiqh Keringanan Dalam Syariat

Keringanan Dalam Syariat

1742
0

Keringanan Dalam Syariat

  1. Penjelasan Istilah

Rukhsah secara bahasa artinya mudah, secara istilah menurut ulama ushul, Imam al Baidhawi      

الحكم الثابت على خلاف الدليل لعذر

Hukum yang ditetapkan berbeda dengan dalil awal (azimah), karena suatu alasan (al-Muhadzab di Ushulfiqh al-Muqaran, 1/450)

Sedangkan Azimah secara bahasa artinya keinginan yang kuat namun secara istilah ulama ushul adalah

الحكم الثابت بدليل شرعي خال عن معارض راجح

Hukum yang ditetapkan dengan dalil syara’ tanpa ada alasan yang memalingkan (al-Muhadzab di Ushulfiqh al-Muqaran, 1/449)

  • Dalil Kehujjahan

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمْ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمْ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (al Baqarah : 85)

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (an Nisaa : 28)

  • Sebab adanya Rukhsah : Safar, sakit, lupa, kesulitan, terpaksa, ketidaktahuan
  • Jenis keringanan dalam syariat
  1. Takhfif al Isqat (تخفيف الإسقاط) yaitu keringanan dengan menggugurkan azimah . Contoh : Kasus hari raya Ied bertepatan dengan hari Jumat. bagi laki-laki yang paginya salat Ied, boleh memilih tidak Jumat, tidak kembali ke salat zuhur tapi langsung salat Ashar. Kewajiban haji bagi yang tidak mampu diperjalanan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ : قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ ، وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ

Dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah Saw sesungguhnya beliau bersabda : “Dua Ied telah bersatu dalam hari kalian, maka siapa yang berkehendak (setelah salat Ied tidak melaksanaka Jumat) maka mencukupi kewajiban Jumatnya, akan tetapi kami melaksanakan Jumat (H.R. Abi Dawud, Sunan Abu Dawud, 1/281)

  • Takhfif al Tanqis (تخفيف التنقيص) yaitu keringanan dengan mengurangi azimah. Contoh : Qashar salat bagi musafir pada salat yang empat rakaat.

وَإِذَا ضَرَبۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَلَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ أَن تَقۡصُرُواْ مِنَ ٱلصَّلَوٰةِ إِنۡ خِفۡتُمۡ أَن يَفۡتِنَكُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْۚ إِنَّ ٱلۡكَٰفِرِينَ كَانُواْ لَكُمۡ عَدُوّٗا مُّبِينٗا


Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu (an-Nisa’ : 101)


hadis jarak terpendek terkait dengan safar Rasulullah Saw adalah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik yaitu

إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلاَثَةِ أَمْيَالٍ أَوْ ثَلاَثَةِ فَرَاسِخَ – شُعْبَةُ الشَّاكُّ – صَلَّى رَكْعَتَيْنِ


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh –Syu’bah ragu akan penyebutan hal ini-, lalu beliau melaksanakan shalat dua raka’at (qashar shalat).” (HR. Muslim, Sahih Muslim, 2/145)

  • Takhfif al Ibdal (تخفيف الإبدال) yaitu keringanan dengan mengganti kewajiban dengan kewajiban yang lain. Contoh : Mengganti Wudlu atau mandi janabat dengan Tayamum, Mengganti saum dengan fidyah, bagi orang yang tidak mampu saum. Mengganti kewajiban qiyam atau berdiri dalam salat dengan duduk, jika tidak mampu, duduk dengan berbaring, jika tidak mampu hanya dengan isyarat.

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا 

 jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan (Jima), lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih) (al-Maidah : 6)

  • Takhfif al Taqdim (تخفيف التقديم) yaitu keringanan kebolehan mengawalkan dari waktu yang semsestinya Contoh : Jama’ taqdim Zuhur dan Ashar, Jama taqdim Magrib dan Isya. Berdasarkan keterangan dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ ، أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَجْمَعَهَا إِلَى الْعَصْرِ ، فَيُصَلِّيَهُمَا جَمِيعًا ، وَإِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ زَيْغِ الشَّمْسِ ، صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ، ثُمَّ سَارَ ، وَكَانَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ الْمَغْرِبَ ، أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الْعِشَاءِ ، وَإِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ ، عَجَّلَ الْعِشَاءَ فَصَلاَّهَا مَعَ الْمَغْرِبِ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Tabuk, apabila beliau berangkat sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan waktu Dluhur hingga beliau menjama’ di waktu Ashar, dan apabila berangkat setelah matahari tergelincir, beliau shalat Dluhur dan Ashar, setelah itu beliau berangkat, dan apabila hendak berangkat sebelum Maghrib, beliau mengakhirkan shalat Maghrib hingga beliau mengerjakannya dengan shalat Isya, jika beliau berangkat selepas Maghrib, maka beliau memajukan shalat Isya’ sehingga beliau kerjakan shalat maghrib dan Isya’.” (HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 2/7)

جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِى غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ مَطَرٍ. قَالَ أَرَادَ أَنْ لاَ يُحْرِجَ أُمَّتَهُ

”Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya di Madinah bukan karena keadaan takut dan bukan pula karena hujan. Ibnu Abbas Berkata : ”Beliau melakukan seperti itu agar tidak memberatkan umatnya.” (HR. Muslim, Sahih Muslim, 2/152)

  • Takhfif al Ta’Khir (تخفيف التأخير) yaitu keringan dengan kebolehan mengakhirkan dari waktu yang semestinya. Contoh : Menjama’ Ta’khir Zuhur dan Ashar, Jama’ Ta’khir Magrib dan Isya

إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا وَإِذَا زَاغَتْ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila berangkat bepergian sebelum matahari condong, Beliau mengakhirkan pelaksanaan shalat zhuhur hingga waktu shalat ‘Ashar lalu menggabungkan (jama’) keduanya. Dan bila berangkat setelah matahari condong, Beliau laksanakan shalat Zhuhur terlebih dahulu kemudian setelah itu berangkat”. (HR Bukhari, Sahih al-Bukhari, 2/47)

  • Takhfif al Tarkhis (تخفيف الترخيص) yaitu keringanan membolehkan apa yang dilarang atau meninggalkan perbuatan wajib karena dalam keadaan darurat atau hajat yang menempati tempat darurat. Contoh kasus Vaksin meingitis dan Vaksin MR. Kebolehan memakan yang dilarang karena keadaan darurat

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَآأُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللهَ غَفُور رَّحِيم

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Baqarah : 173).

Jual beli salam (mendahulukan pembayaran) berdasarkan keterangan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu.

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ فِي الثِّمَارِ السَّنَةَ وَالسَّنَتَيْنِ فَقَالَ مَنْ أَسْلَفَ فِي تَمْرٍ فَلْيُسْلِفْ فِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

Rasulullah tiba di Madinah dan mereka sedang melakukan jual beli salam pada buah-buahan setahun atau dua tahun, beliau bersabda,” Barangsiapa yang melakukan jual beli salam pada buah-buahan maka hendaknya melakukannya dengan takaran yang jelas, timbangan yang jelas dan waktu yang jelas”. (HR Bukhari, Sahih al-Bukhari, 3/85)

Padahal hukum asal dalam jual beli adalah al-taqabudh yaitu serah terima barang dan harganya dan tidak boleh ada yang ditunda.


7. Takhfif al-Tagyir (تخفيف التغيير) yaitu keringanan dengan mengubah kaifiyat. Contoh : Kaifiyat salat fardu dalam keadaaan perang (salat khauf)

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَة مِّنْهُم مَّعَكَ وَلِيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang salat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersalat,lalu bersalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata….. (an-Nisaa/4: 102).