Beranda Fikih Kritik Dalil yang Sering Dijadikan Pembolehan Perayaan Maulid

Kritik Dalil yang Sering Dijadikan Pembolehan Perayaan Maulid

173
0

Sebagian kalangan mengkaitkan perayaan maulid dan tidak merayakan maulid dengan “cinta Nabi saw”, Ini opini sangat keliru, tiga generasi pertama yang dikemukakan imam Sakhowi bahwa tidak seorang pun dari mereka pernah merayakan maulid Nabi saw, tentu tidaklah menunjukan mereka tidak mencintai Nabi saw?

Berikut ini kritik terhadap dalil-dalil yang sering kita dengar dijadikan landasan pembolehan perayaan maulid.

Dalil pertama,

Firman Allah swt:

قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا

(58)يونس

Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

Istidlal mereka dengan ayat:
Ayat ini menuntut bergembira terhadap rahmat dari Allah. Dan Nabi saw bagian terbesar dari rahmat tersebut karena beliau diutus jadi rahmat bagi sekalian alam (QS. Al Anbiya: 107)

Kritikan : Sebagian besar mufassirin memaknai kalimat rahmat dalam ayat dengan Islam atau al Qur’an. Riwayat dari ibnu Abbas ada tiga tafsir, salah satunya yang diriwayatkan al Dlohhak, memaknainya dengan Nabi saw.
Namun tuntutan bergembira dalam ayat tidak mengenal waktu sedangkan perayaan maulid dilakukan pada waktu tertentu saja. Ini kontradiktif dan tdk sesuai ayat.

Dalil Kedua,

وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS. Hud:120)

Istidlal : Kelahiran Nabi termasuk berita para Nabi saw, memperingatinya dapat meneguhkan hati kaum mukminin

Kritikan : Ayat ini tidak berhubungan dengan perayaan maulid, kisah-kisah dalam ayat al Qur’an dan hadits yang shahih tentu dapat meneguhkan keimanan dalam hati. Dan ini dituntut setiap saat, tidak mengenal musim dan moment khusus, bukan pula berupa dongeng atau berbagai ceritera ajaib seputar kelahiran Nabi yang umumnya tidak valid. Ini hanya melahirkan penyimpangan dalam keimanan.

Dalil Ketiga,

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لأوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيرُ الرَّازِقِينَ

Isa putra Maryam berdoa: “Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama”. (QS. Al Maidah:114)

وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. (QS. Maryam:33)

Istidlal : kedua ayat ini mengisyaratkan bahwa kelahiran Isa as dan keistimewaannya menjadi bukti yang mendorong akan pentingnya perayaan khusus yang dita’bir dalam ayat sebagai “iedan li awwalina wa akhirina” (hari raya bagi yang terdahulu dan yang terakhir). Kelahiran Nabi saw jauh lebih istimewa dari kelahiran Isa as, karena kelahiran Nabi saw merupakan ni’mat terbesar dari Allah swt, tentu lebih berhak untuk dirayakan.

Kritikan : Umat Nabi Muhammad saw hanya memiliki syari’at dua hari raya saja yeitu iedul fithri dan iedul adha. Perayakan kelahiran Nabi saw menyerupai perayaan kelahiran Isa as bagi kaum Nashrani, Ini menyalahi maqashid syariat Islam untuk menyelisihi syi’ar mereka.

Dalil Keempat,

لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا

supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama) Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (QS. Al Fath:9)

Kritikan : Bukan menghormati Nabi saw dengan mengadakan sesuatu ritual yang tdk beliau tuntunkan kepada kita. Menghormati dan mencintainya secara haq adalah mengikuti semua ajarannya, menghidupkan sunnahnya serta menjaganya dari berbagai penyisipan ajaran lain dan bid’ah.

Dalil Kelima,

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali Imran:164)

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al Ahzab:56)

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidil aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al Israa:1)

Kritikan : Ketiga ayat diatas tidak berhubungan dengan perayaan maulid dan tdk ada seorang pun ulama ahli tafsir memaknai ayat-ayat diatas sebagai ayat maulid.

Dalil Keenam,

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ : …..وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

dari Abu Qatadah Al Anshari radliallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salla: …..Lalu beliau ditanya mengenai puasa pada hari senin, beliau menjawab: “Itu adalah hari, ketika aku dilahirkan dan aku diutus (sebagai Rasul) atau pada hari itulah wahyu diturunkan atasku.” (HR. Muslim 1977)

Istidlal : Puasa hari senin ini bermakna perayaan dalam bentuk ibadah yang berbeda, substansi perayaannya sama bisa dengan puasa, memberi makanan, berkumpul untuk berdzikir, shalawat atas Nabi saw atau mendengar siroh dan sifat dan akhlaq Nabi saw.

Kritikan:

  • Perayaan maulid Nabi yang mereka adakan tidak ada puasa, bahkan sebagian mereka memakruhkan puasa pada hari perayaan maulid,

يكره صوم يوم المولد النبوي الشريف لإلحاقه بالأعياد.

Dimakruhkan puasa pada hari maulid nabi yang mulia karena kesamaannya dengan hari raya (Fiqhul ibadah ‘alal madzhabil maliki:324)

  • Nabi saw berpuasa pada hari senin, sedangkan perayaan maulid adakalanya diselenggarakan pada hari sabtu. Minggu dll. Apakah dianjurkan juga berpuasa? Tentu ini tidak dikatakan mereka sedikitpun karena menyalahi hadits yang dijadikan dalil diatas. Puasa hari senin pun dilakukan oleh Nabi saw berulang seminggu sekali, bukan setahun sekali, lalu dimana kesesuaian hadits dengan perayaan maulid?
  • Hadits diatas tdk berhubungan dengan perayaan maulid tahunan dan hadits puasa diatas sama sekali tdk menunjukan penghususan pada bulan rabi’ul awal sebagai bulan kelahiran Nabi saw.

Dalil Ketujuh,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ فَقَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْهَرَ اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ فَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَأَمَرَ بِصَوْمِهِ

dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum lama tiba di Madinah, didapatinya orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, Lalu mereka pun ditanya (alasan apa mereka berpuasa di hari itu). Mereka menjawab, “Hari ini adalah hari kemenangan Musa dan Bani Israil atas Fir’aun. Karena itu, kami puasa pada hari ini untuk menghormati Musa.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: “Sesungguhnya kami lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian.” (HR. Muslim 1910)

Kritikan : Nabi saw berpuasa hari asyura dan menganjurkan berpuasa pada hari tersebut, namun puasa ini tdk terjadi pada hari 12 rabi’ul awal dan tidak berhubungan dengan hari kelahirannya.

Dalil Kedelapan,

Anas bin Malik berkata: Nabi saw menyembelih aqiqah untuk dirinya setelah diangkat jadi nabi.

Padahal kakeknya Abdul Muthallib telah menyembelihkan aqiqah bagi beliau pada hari ketujuh kelahirannya.

Aqiqah tidak disyariatkan untuk dilaksanakan dua kali, maka aqiqah yang dilakukan oleh Nabi adalah bentuk syukur atas ni’mat ijad/keberadaannya dialam dunia ini sbg rahmat bagi sekalian alam dan isyarat agar umatnya bersyukur pula atas dilahirkan Nabi saw.

Kritikan : Hadits Anas bin Malik yang disebutkan dihukumi bathil oleh Imam Nawawi dan dihukumi munkar oleh imam Baihaqi, al hafidz al Asqalani dll.

Lalu pertanyaannya, benarkah aqiqah disyariatkan dimasa jahiliyyah? Benarkah Aqiqah yang dilaksanakan oleh kakek Nabi (jika iya) diakui sebagai ibadah yang sah? Benarkah mensyukuri ni’mat adanya Nabi saw mengharuskan hari kelahirannya dijadikan hari raya bagi manusia? Mengapa Nabi saw tdk menjelaskan ini dalam haditsnya?

Dalil Kesembilan,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَرَجَ مُعَاوِيَةُ عَلَى حَلْقَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَمَا كَانَ أَحَدٌ بِمَنْزِلَتِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَلَّ عَنْهُ حَدِيثًا مِنِّي وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ

Dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata: Pada suatu hari Mu’awiyah melewati sebuah halaqah (majlis) di masjid. Kemudian ia bertanya: ‘Majelis apakah ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami duduk di sini untuk berzikir kepada Allah Azza wa Jalla.’ Mu’awiyah bertanya lagi: ‘Demi Allah, benarkah kalian duduk-duduk di sini hanya untuk itu?’ Mereka menjawab: ‘Demi Allah, kami duduk hanya untuk itu.’ Kata Mu’awiyah selanjutnya: ‘Sungguh saya tidak menyuruh kalian bersumpah karena mencurigai kalian. Karena tidak ada orang yang menerima hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih sedikit daripada saya.’ Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati halaqah para sahabatnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: ‘Majelis apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas hidayah-Nya berupa Islam dan anugerah-Nya kepada kami.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: ‘Demi Allah, apakah kalian duduk di sini hanya untuk ini?’ Mereka menjawab: ‘Demi Allah, kami duduk-duduk di sini hanya untuk ini.’ Kata Rasulullah selanjutnya: ‘Sungguh aku menyuruh kalian bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Tetapi karena aku pernah didatangi Jibril alaihis salam. Kemudian ia memberitahukan kepadaku bahwasanya Allah Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat.’ (HR. Muslim 4869)

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْيَهُودِ قَالَ لَهُ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ نَزَلَتْ لَاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا قَالَ أَيُّ آيَةٍ قَالَ { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الْإِسْلَامَ دِينًا } قَالَ عُمَرُ قَدْ عَرَفْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ وَالْمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ قَائِمٌ بِعَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ

Dari Umar bin Al Khaththab bahwa Ada seorang laki-laki Yahudi berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, ada satu ayat dalam kitab kalian yang kalian baca, seandainya ayat itu diturunkan kepada kami Kaum Yahudi, tentulah kami jadikan (hari diturunkannya ayat itu) sebagai hari raya (‘ied). Maka Umar bin Al Khaththab berkata: “Ayat apakah itu?” (Orang Yahudi itu) berkata: {Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian} (Al Maidah: 3). Maka Umar bin Al Khaththab menjawab: “Kami tahu hari tersebut dan dimana tempat diturunkannya ayat tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pada hari Jum’at ketika Beliau berada di ‘Arafah. (HR. Bukhari 43)

Kritikan : Kedua hadits diatas tidak ada sangkut pautnya dengan perayaan maulid Nabi saw, bahkan pada hadits kedua, Umar bin Khaththob tidak mengikuti perkataan dan kebiasaan orang yahudi untuk menjadikan hari suatu peristiwa besar dijadikan hari perayaan. Tentu kita mengikuti Umar dan tdk mengikuti kebiasaan Yahudi.

Dalil Kesepuluh,

Perayaan maulid Nabi saw mencakup kebaikan dan amal shaleh: shalawat, dzikir, shadaqah, memuji dan menyanjung Nabi, menjelaskan siroh dan akhlaq Nabi dan lain-lain yang semuanya tidak diragukan lagi dianjurkan dalam syari’at.

Kritikan : Benar semua perbuatan yang disebutkan dianjurkan dalam syari’at, Itu tdk jadi persoalan. Namun Pengkhususan perayaan yang menggabungkan dzikir, shalawat dll itu menjadi satu rangkaian ritual khusus setahun sekali secara rautin dimunasabahkan kepada kelahiran Nabi saw, ini yang menjadikannya dinilai perbuatan bid’ah dalam syari’at.

Kesimpulan:

Praktek perayaan Maulid Nabi saw diklasifikasikan dua corak,
1) Corak perayaan syarat dengan takhayyul dan khurafat. Corak ini jelas keharamannya.

2) Corak perayaan routin tahunan yang diisi dengan pengajian, shalawatan, dzikir dan shadaqah.

-Corak ini apabila diyakini sbg syari’at ibadah khusus, katagorinya sama dengan menambah-nambah syari’at (bid’ah).

-Sedang jika dipandang sebagai bagian adat/diluar syari’at, mungkin bisa dikatakan boleh namun tetap menyisakan musykilat:

a) Penanggalan hari dan bulan kelahiran Nabi tidak disepakati para ulama.
b) Memungkinkan disusupi keyakinan dan amalan tidak sesuai syari’at
c) Menimbulkan keyakinan salah dari awam tentang perayaan ini
d) Membuka peluang diselenggarakan perayaan peristiwa sejarah lainnya
e) Menyerupai adat orang nasharani atau yahudi sebagaimana dikemukakan seseorang kepada Umar bin Khaththab.

Dengan demikian, yang paling selamat tidak merayakan maulid dan membantu penyelenggarannya serta tdk mengkait-kaitkan amal shaleh dengan perayaan maulid. Allahu A’lam

(Ismail Alfasiry)