Beranda Takhrij Hadis Kritik Hadits Syarah Sholawat Nariyah

Kritik Hadits Syarah Sholawat Nariyah

540
0

KRITIK HADITS Terhadap Tulisan KH. Idrus Ramli Tentang:
SYARAH SHOLAWAT NARIYAH BERDASARKAN HADITS-HADITS NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Dalam Tulisannya, KH. Idrus Ramli memaparkan makna enam kalimat yang terkandung dalam shalawat Nariyah didasarkan pada hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Redaksi shalawat tersebut secara lengkap sebagai berikut:

اَللّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

Kyai ingin membuktikan kesalahan sebagian yang disebutnya kelompok Wahabi yang menurut beliau telah menuduh shalawat Nariyah diatas mengandung kesyirikan yang umumnya tertuju pada enam kalimat berurutan di bawah ini:

تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وحسن الخواتم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم

Berikut ini Jawaban dan Klarifikasi sederhana tentang setiap keterangan keenam kalimat tersebut beserta dalil-dalil yang dijadikan pijakan oleh KH. Idrus Ramli.

تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ

“Segala ikatan bisa lepas sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Yang dimaksud dengan ikatan dalam redaksi tersebut, adalah kekakuan lidah yang menyebabkan pembicaraan seseorang sulit dimengerti.

Hal ini seperti dalam doa Nabi Musa ‘alaihissalam:

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

“Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”.
(QS Thaha : 27-28).

Pemaknaan kalimat ini tidak ditujukan pada siapa dan dalam kitab apa. Jika makna ini berdasarkan pemahaman sendiri, maka pemaknaan ini menyalahi makna dlohirnya yang bersifat umum, karena kalimat الْعُقَدُ dalam rangkaian shalawat tersebut bentuknya jama’ (plural) dan shifatnya muthlaq.

Secara dlohir, kalimat العقد bermakna,
التعقيدات وأمور يصعب حلّها عليه.
Berbagai kesulitan dan berbagai urusan yang sulit mendapat jalan keluarnya.

Dalam ayat di atas, Nabi Musa ‘alaihissalam berdoa kepada Allah agar meleaskan ikatan atau kekakuan dari lidah beliau, agar perkataannya dapat dimengerti oleh lawan bicaranya.

Nabi Musa memohon dalam hal ini kepada Allah subhanahu wata’ala, maka sebaiknya tidak mencari-cari alasan dengan pernyataan yang berkesan menyandingkan antara Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dengan Allah subhanahu wata’ala. Ini dapat saja menyebabkan syirik, sebab apapun mukjizat Rasulullah semuanya tidak berlaku semaunya melainkan terbatas atas izin Allah semata.

Pertanyaannya adalah, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat melepaskan kekakuan lidah seseorang sehingga menjadi bagian dari redaksi shalawat di atas? Ada beberapa riwayat hadits yang dapat dijadikan pijakan dari redaksi tersebut.

Riwayat pertama:

عَنْ بَشِيْرِ بْنِ عَقْرَبَةَ الْجُهَنِيّ يَقُوْلُ: أَتَى أَبِيْ عَقْرَبَةُ الْجُهَنِيُّ إِلىَ النَّبِيِّ صلّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «مَنْ هَذَا مَعَكَ يَا عَقْرَبَةُ» ؟ قَالَ: اِبْنِيْ بَحِيْرٌ، قَالَ: «اُدْنُ» ، فَدَنَوْتُ حَتَّى قَعَدْتُ عَلىَ يَمِيْنِهِ، فَمَسَحَ عَلىَ رَأْسِيْ بِيَدِهِ، وَقَالَ: «مَا اسْمُكَ» ؟ قُلْتُ: بَحِيْرٌ يَا رَسُوْلَ الله، قَالَ: «لاَ، وَلَكِنْ اِسْمُكَ بَشِيْرٌ» ، وَكَانَتْ فِيْ لِسَانِيْ عُقْدَةٌ فَنَفَثَ النَّبِيُّ صلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ فِيَّ، فَانْحَلَّتْ الْعُقْدَةُ مِنْ لِسَانِيْ، وَابْيَضَّ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ رَأْسِيْ مَا خَلاَ مَا وَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ فَكَانَ أَسْوَدَ.

(Al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, juz 1 hlm 434, dan al-Hafizh al-Shalihi al-Syami, Subul al-Huda wa al-Rasyad juz 10 hlm 19).

Dalam hadits di atas, kekakuan pada lidah sahabat Basyir terlepas sebab ludah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berarti redaksi shalawat di atas sesuai dengan hadits tersebut.

Sanad hadits diatas adalah sebagai berikut :

الإصابة في تمييز الصحابة (1/ 434)
قال إسحاق بن إبراهيم الرّمليّ في فوائده فيما قرأت بخط السلفي: حدثنا الحسن بن بشر، حدثنا أبي، أنه سمع أباه الحسن بن مالك بن ناقد، عن أبيه، عن جدّه: سمعت بشير بن عقربة الجهنيّ يقول: أتى أبي عقربة الجهنيّ إلى النبي صلّى اللَّه عليه وسلم ………………..

*Dalam sanad hadits ini ada 2 rawi bermasalah, yaitu:*

1, al-Hasan bin Bisyr (w. 221 H), dia tak bisa diterima riwayatnya jika menyendiri, sebab beliau shaduq yukhthi’iu (jujur tapi suka salah). Dia butuh tabi’ (penguat rawi lain) tetapi dalam hal ini tidak ada.

2. Bapak al Hasan bin Bisyr yaitu Bisyr bin Salim bin al Musayyib (matrukul hadits)

Imam Abu Hatim menilainya Munkarul Hadits,
Imam Ahmad berkata: Aku tidak pernah mendengar darinya.
Ibnu Hibban menilainya tsiqot (terpercaya) hanya saja Ibnu Hibban dikenal mutasahil yang dalam hal ini penilaian beliau diabaikan karena Abu Hatim mengetahui cacat rawi ini yang tidak diketahui Ibnu Hibban.

Oleh karena cacat dua rawi tersebut, maka hadits ini statusnya Dlo’if, tidak kuat dijadikan dalil pemaknaan lafadz sholawat diatas.

Riwayat Kedua:

عن مُعْرِضِ بْنِ مُعَيْقِيبٍ الْيَمَانِيِّ، قَالَ: «حَجَجْتُ حَجَّةَ الْوَدَاعِ، فَدَخَلْتُ دَارًا بِمَكَّةَ، فَرَأَيْتُ فِيهَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَوَجْهُهُ مِثْلُ دَارَةِ الْقَمَرِ، وَسَمِعْتُ مِنْهُ عَجَبًا، جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَامَةِ بِغُلامٍ يَوْمَ وُلِدَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ أَنَا؟ ” قَالَ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ. قَالَ: ” صَدَقْتَ، بَارَكَ اللهُ فِيكَ» قَالَ: ثُمَّ إِنَّ الْغُلامَ لَمْ يَتَكَلَّمْ بَعْدَ ذَلِكَ حَتَّى شَبَّ. قَالَ أَبِي: فَكُنَّا نُسَمِّيهُ مُبَارَكُ الْيَمَامَةِ

(Hadits riwayat al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah, juz 6 hlm 59).

Dalam hadits di atas ada keterangan bahwa seorang bayi yang baru lahir dapat berbicara dan menjawab pertanyaan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja kasus dalam hadits ini lebih besar daripada kasus dalam hadits sebelumnya.

Sanad hadits Imam Baihaqi ini adalah sbb:

دلائل النبوة للبيهقي محققا (6/ 59)
أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الصَّفَّارُ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُونُسَ الْكُدَيْمِيُّ، حَدَّثَنَا شَاصُونَةُ بْنُ عُبَيْدٍ أَبُو مُحَمَّدٍ الْيَمَامِيُّ- وَانْصَرَفْنَا مِنْ عَدَنَ بِقَرْيَةٍ يُقَالُ لَهَا لحردة- قَالَ: حَدَّثَنِي مُعَرِّضُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُعَرِّضِ بْنِ مُعَيْقِيبٍ الْيَمَانِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: حَجَجْتُ حَجَّةَ الْوَدَاعِ

Dalam sanad ini terdapat 3 rawi cacat yaitu,

1, Mu’arrid bin Abdillah (majhul Hal/kondisinya tak dikenal), periwayatannya hanya dalam hadits ini saja.

2. Syashunah bin Ubaid (majhul hal/kondisinya tak dikenal)

3. Muhammad bin Yunus al-Kadimi (Muttah bilwadl’i/Dituduh pemalsu hadits).

Adz-Dzahabi berkata: Dia salah satu rawi yang ditinggalkan haditsnya.
Sulaiman bin Dawud asy-Syadzakuni berkata: al-Kadimi, saudara al-Kadimi dan anak al-Kadimi adalah rumah dusta.
Al-Qosim bin Zakariya berkata: Dia berdusta padaku, mendustakan kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan berdusta kepada para ulama.
Ibnu Thohir berkata: Dia memalsukan hadits dari rawi tsiqot.
Abu Dawud secara muthlaq menyebut dia dusta.

Bahkan dalam kitab dala’il nubuwwah al-Baihaqi sendiri disebutkan tahqiq hadits ini sbg berikut:

دلائل النبوة للبيهقي محققا (6/ 59)
الخبر في إسناده «مُحَمَّدُ بْنُ يُونُسَ الْكُدَيْمِيُّ» أحد المتروكين، كان يضع على الثقات الحديث وضعا ولعله وضع أكثر من ألف حديث المجروحين (2: 312- 313) سئل عنه الدارقطني بوضع الحديث وورد له في الميزان عددا من منكراته، الميزان (4: 74) .

Dengan demikian, hadits kedua ini Dlo’if/maudlu’.

Hadits tersebut sanadnya dha’if, tetapi al-Hafizh Ibnu Katsir menyampaikan pembelaan sebagai berikut:

قُلْتُ: هَذَا الْحَدِيثُ مِمَّا تَكَلَّمَ النَّاسُ فِي مُحَمَّدِ بْنِ يُونُسَ الْكُدَيْمِيِّ بِسَبَبِهِ، وَأَنْكَرُوهُ عَلَيْهِ وَاسْتَغْرَبُوا شَيْخَهُ هَذَا، وَلَيْسَ هَذَا مِمَّا يُنْكَرُ عَقْلًا بَلْ وَلَا شَرْعًا، فَقَدْ ثَبَتَ فِي ” الصَّحِيحِ ” فِي قِصَّةِ جُرَيْجٍ الْعَابِدِ، أَنَّهُ اسْتَنْطَقَ ابْنَ تِلْكَ الْبَغِىِّ فَقَالَ لَهُ: يَا بَابُوسُ ابْنُ مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ: ابْنُ الرَّاعِي. فَعَلِمَ بَنُو إِسْرَائِيلَ بَرَاءَةَ عِرْضِ جُرِيْجٍ مِمَّا كَانَ نُسِبَ إِلَيْهِ.

(Al-Hafizh Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah juz 9 hlm 60).

Pernyataan Imam Ibnu Katsir ini tidaklah bisa merubah sanad ini jadi shahih. dan setiap hadits maudlu’ tetap hadits maudlu’ sekalipun isi pesannya sesuai ayat al-Qur’an.

Riwayat ketiga:

عَنْ شَمِرِ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ بَعْضِ أَشْيَاخِهِ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلم أُتِيَ بِصَبِيٍّ قَدْ شَبَّ لَمْ يَتَكَلَّمْ قَطُّ، قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ.

(Hadits riwayat al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah, juz 6 hl 61. Riwayat ini dha’if karena mursal).

Dalam riwayat lain disebutkan:

عَنْ شَمِرِ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ بَعْضِ أَشْيَاخِهِ قَالَ: جَاءَتِ امْرَأَةٌ بِابْنٍ لَهَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَدْ تَحَرَّكَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ ابْنِي هَذَا لَمْ يَتَكَلَّمْ مُنْذُ وُلِدَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَدْنِيهِ» ، فَأَدْنَتْهُ مِنْهُ، فَقَالَ: «مَنْ أَنَا؟» فَقَالَ: أَنْتَ رَسُولُ الله .

(Hadits riwayat al-Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah juz 6 hlm 61).

Al-Hafizh Ibnu Katsir mengomentari hadits di atas, bahwa sanadnya mursal. Sedangkan Syamir bin Athiyah adalah perawi yang dapat dipercaya.

Hadits ini tidak sekedar Mursal dan mubham melainkan juga Mudlthorrib (kacau balau) matannya.

Riwayat pertama diatas menyebutkan bahwa anak yang dibawa menghadap Nabi shallallahu’alaihi wasallam itu telah menginjak remaja. Sedangkan pada riwayat kedua menyebutkan anak tersebut baru bisa bergerak-gerak.
Padahal kedua riwayat itu datang dari rawi yang sama yaitu Syamir bin Athiyah dari rawi mubham secara mursal.
Oleh karena tiga cacat tersebut, hadits ini statusnya Dlo’if dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Riwayat keempat:

رَوَى ابْنُ سَعْدٍ عَنْ عِكْرِمَةَ وَالزُّهْرِيِّ وَعَاصِمِ بْنِ عَمْرِو بْنِ قَتَادَةَ مُرْسَلاً أَنَّ مِخْوَسَ بْن مَعْدِيْ كَرِبَ، قَالَ: يَا رَسُوْلَ الله، اُدْعُ اللهَ أَنْ يُذْهِبَ عَنِّيْ الرِتَةَ، فَدَعَا لَهُ، فَذَهَبَتْ.

(Al-Shalihi, Subul al-Huda wa al-Rasyad fi Sirah Khair al-‘Ibad juz 10 hlm 20).

Sanad lengkap riwayat ini adalah sbb:

أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ الْقُرَشِيُّ، عَنْ أَبِي مَعْشَرٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ، وَمُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: وَأَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ مُجَاهِدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، وَعِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ، وَعَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ، قَالَ: وَأَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ عِيَاضِ بْنِ جُعْدُبَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ حَزْمٍ، وَعَنْ غَيْرِهِمْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يَزِيدُ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ،

Dalam sanad diatas terdapat 2 rawi cacat, yaitu:

1. Yazid bin Iyadl bin Ju’dubah (munkarul hadits)

Al-Jauzajani berkata: hadits darinya hilang, orang-orang diam (tidak mau terima) hadits darinya.
Ibnu Adi berkata: keumuman hadits Yazid tidak mahfudl (munkar)
Imam Baihaqi berkata: semua ulama ahli Ilmu mencacatnya.

2. Ali bin Mujahid (Kadzdzab/pendusta)

Imam Al-Jauzajani, al-Uqoili, Ibnu Ja’far al-Jamal, Ahmad bin Hanbal, adz-Dzahabi, Ibnu Mahron ar-Razi, Ibnu Malik al-Jammal dan Yahya bin Ma’in. mereka semua menyebutnya sebagai pendusta.
(Lihat Tahdzibul Kamal lil Mizzi dll)

Dengan demikian hadits ini Maudlu’/Palsu dan tidak halal dijadikan hujjah.

Beberapa riwayat di atas mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sebab atau perantara hilangnya kekakuan dan kegagapan seseorang dalam perkataan, sehingga beliau berhak untuk dipuji dengan mukjizat yang agung tersebut.

Semua riwayat diatas tidak ada yang shahih. semuanya dloif dengan tingkat kedloifan yang sangat sehingga satu sama lain tidak saling menguatkan dan tidak layak dijadikan hujjah atas kebenaran shalawat yang dinilai sebagian kalangan ulama mengandung nilai kesyirikan.

Oleh : Ismail Al-Fasiry