Beranda Akhlaq Lima Karakteristik Pemimpin Buruk Versi Rosululloh

Lima Karakteristik Pemimpin Buruk Versi Rosululloh

402
0

Islam merupakan agama yang sempurna. Salah satu wujud kesempurnaan itu ialah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik yang berhubungan dengan Allah SWT (Hablum minallah), maupun hubungan dengan manusia (Hablum minannas) termasuk di antaranya masalah kepemimpinan. Setidaknya, semua manusia hakikatnya pemimpin, hal ini dipertegas oleh Rasulullah Saw


كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ فِي مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap orang di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin di tengah keluarganya dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin dan akan ditanya soal kepemimpinannya. Seorang pelayan/ pegawai juga pemimpin dalam mengurus harta majikannya dan ia dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya.”[1]

Salah satu pakar ushul fikih Abu Hamid al-Ghozli menjelaskan urgensi imamah (kepemimpinan) dalam Islam, “Sesungguhnya dunia tidak akan aman, keamanan untuk nyawa maupun harta tidak bisa diraih tanpa diatur oleh kekuatan pemerintah.”[2]

Hal yang sama ditegaskan juga oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyah Rahimahullaahu. Beliau menulis dalam kitab Maj’mu Fatawa dengan memberikan makna kepemimpinan itu adalah wujud adanya Ta’awun bi al-Birri (bentuk tolong menolong dalam kebaikan) yang akan mewujudkan aspek-aspek kebaiak yang dibutuhkan oleh manusia sebagai makhluk social, beliau mengatakan: “Sesungguhnya umat manusia tidak akan baik permasalahan dunia maupun akhiratnya tanpa berkumpul dan saling tolong menolong. Mereka harus terkoordinasi untuk meraih kemaslahatan agama maupun dunia mereka.”[3]

Namun, apa yang terjadi jika hal yang sebaliknya, dimana kekuasaan atau kepemimpinan sudah lepas dari fitrahnya, dimana banyaknya manusia yang ingin menduduki kepemimpinan dengan tujuan untuk memperkaya diri, untuk mencari kesenangan dan sebagainya hingga mengakibatkan tambah parahnya kondisi manusia. Hal ini bisa di katakana sebagai krisis terbesar dunia saat ini yaitu krisis keteladanan dalam kepemimpinan. Krisis ini jauh lebih dahsyat dan parah dari krisis energi, ekonomi, kesehatan dan pangan. Tanpa adanya pemimpin visioner yang shalih dan mushlih, maka krisis energi, ekonomi, kesehatan, pangan, pendidikan dan sistem peradilan akan semakin parah.

Rasulullah Saw telah mengkhawatirkan akan datangnya pemimpin yang menyesatkan, baik menyesatkan dalam kerukunan agama, sosial, ekonomi dan sebagainya. Hal ini di ungkap dalam sebuah Hadis dimana Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

Sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku adalah (berkuasanya) para pemimpin yang menyesatkan.[4]

Hadis ini mengawali dengan kalimat Innamaa, yang mengandung makna al-hashr (pembatasan / penghususan) mengindikasikan bahwa Rasulullah Saw sangat takut dan khawatir terhadap umatnya dari para pemimpin yang menyesatkan, karena fitnah yang ditimbulkannya akan mengakibatkan kehancuran yang sangat menakutkan daripada fitnah Dajjal. Abu Dzar ra pernah pertanya kepada Nabi Saw.

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ شَيْءٍ أَخْوَفُ عَلَى أُمَّتِكَ مِنْ الدَّجَّالِ قَالَ الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

Wahai Rasulullah, apa yang lebih engkau takutkan atas umatmu daripada Dajjal. Beliau menjawab, “Para pemimpin yang mudhillin (menyesatkan)”.” (HR. Ahmad. Syaikh Al-Albani mengatakan para perawinya terpercaya kecuali Ibnu Luhai’ah buruk hafalannya.)[5]

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw menyebutkan bahwa adanya pemimpin-pemimpin yang zhalim dan menyesatkan akanmengakibatkan adanya perpecahan umat dan sulitnya untuk di bendung meski pedang jihad sudah ditetapkan namun akar sifat kepemimpinan itu akan terus menyala hingga hari kiamat.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِيَ الْأَرْضَ حَتَّى رَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا، وَإِنَّ مُلْك أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مَا زُوي لِي مِنْهَا، وَإِنِّي أُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَبْيَضَ وَالْأَحْمَرَ، وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي، عَزَّ وَجَلَّ، أَلَّا يُهْلِكَ أُمَّتِي بسنَة بِعَامَّةٍ وَأَلَّا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا فَيُهْلِكَهُمْ بِعَامَّةٍ، وَأَلَّا يلبسهم شيعا، وألا يذيق بعضهم بأس بعض. فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لَا يُرَدُّ. وَإِنِّي قَدْ أَعْطَيْتُكَ لِأُمَّتِكَ ألا أهلكتهم بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ، وَأَلَّا أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِمَّنْ سِوَاهُمْ فَيُهْلِكَهُمْ بِعَامَّةٍ، حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا، وَبَعْضُهُمْ يَقْتُلُ بَعْضًا، وَبَعْضُهُمْ يَسْبِي بَعْضًا”. قَالَ: وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “وَإِنِّي لَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي إِلَّا الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ، فَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي، لَمْ يُرْفَعْ عَنْهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ”

Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya Allah melipatkan bumi untukku sehingga aku dapat melihat belahan timur dan belahan baratnya, dan sesungguhnya kerajaan umatku kelak akan mencapai sejauh apa yang dilipatkan darinya untukku. Dan sesungguhnya aku dianugerahi dua buah perbendaharaan, yaitu yang putih dan yang merah. Dan sesungguhnya aku memohon kepada Tuhanku agar janganlah umatku dibinasakan oleh paceklik yang umum, janganlah mereka dikuasai oleh musuh sehingga mereka semua dibinasakan secara menyeluruh, janganlah mereka berpecah-belah menjadi berbagai golongan yang bertentangan, dan jangan (pula) sebagian dari mereka merasakan keganasan sebagian yang lain. Maka Allah Swt. berfirman, “Hai Muhammad, sesungguhnya Aku apabila telah memutuskan suatu keputusan, maka keputusan-Ku itu tidak dapat dicabut lagi. Dan sesungguhnya Aku memberimu untuk umatmu bahwa sama sekali Aku tidak akan membinasakan mereka dengan paceklik yang menyeluruh, dan Aku tidak akan membiarkan mereka dikuasai oleh musuh dari selain kalangan mereka sendiri yang akibatnya mereka akan dibinasakan oleh musuhnya secara menyeluruh, sehingga sebagian dari mereka membinasakan sebagian yang lain, dan sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain, dan sebagian dari mereka menahan sebagian yang lain.” Syaddad ibnu Aus melanjutkan kisahnya, “Lalu Nabi Saw. bersabda: Sesungguhnya aku tidak merasa khawatir terhadap umatku kecuali adanya imam-imam yang menyesatkan, karena apabila pedang (jihad) telah ditetapkan di antara umatku, maka ia tidak akan dihapuskan dari mereka sampai hari kiamat.[6]

Al-Aimah al-Mudhilliin (para pemimpin penyesat umat) masuk di dalamnya para umara (pemimpin pemerintahan), ulama, dan ahli ibadah. Para umara tersebut adalah mereka yang menerapkan hukum dengan selain hukum Islam, bertindak zhalim, diktator dan kejam, dan tidak menunaikan hak-hak rakyat.

Para ulama yang menjadi pemimpin penyesat karena mereka menyembunyikan ilmu dan merubah-rubahnya. Suka mengakali dalil untuk kepentingan syahwatnya atau kepentingan para pemimpinnya.

Sedangkan para ahli ibadah yang menjadi pemimpin menyesatkan, karena mereka suka membuat tata cara ibadah baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Saw, lalu mereka ditiru dan diidolakan. Apalagi kalau mereka sampai memotifasi umat untuk melaksanakannya. Akibatnya, dia sesat dan menyesatkan manusia. Keberadaan mereka itulah yang menyebabkan Islam akan roboh.

Hal ini seraya dengan ungkapan Umar ibn Khatab yang ditanyakan kepada Ziyad

هَلْ تَعْرِفُ مَا يَهْدِمُ الإِسْلاَمَ؟ قَالَ قُلْتُ : لاَ. قَالَ : يَهْدِمُهُ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ وَحُكْمُ الأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ

Tahukah engkau apa yang menghancurkan Islam? Ia (Ziyad) berkata, aku menjawab, Tidak tahu. Umar berkata, “Yang menghancurkan Islam adalah penyimpangan/ tergelincirnya orang alim, bantahan orang munafik dengan Al-Qur’an, dan hukum (keputusan) para pemimpin yang menyesatkan.”[7]

Berikut diantara karakteristik pemimpin buruk dan zhalim yang akan mengundang adanya murka Allah yang disebutkan Rasulullah Saw,

Pertama, pemimpin jahil yang berfatwa tanpa ilmu

Dari Abdullah bin Amr bin Ash, Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sungguh Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari hamba-Nya. Tetapi Allah mencabut ilmu dengan mencabut nyawa para ulama. Sehingga, ketika tidak ada satu ulama pun tersisa, manusia mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Dan pada saat pimpinan yang bodoh tersebut ditanyai, mereka memberikan fatwa tanpa berdasarkan ilmu. Mereka tersesat dan menyesatkan.”[8]

Kedua, pemimpin yang jahat dan kejam

Dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

أَلَا إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ تُرْفَعَ الْأَشْرَارُ وَتُوضَعَ الْأَخْيَارُ أَلَا إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَظْهَرَ -وفي رواية يقبح – الْقَوْلُ وَيُخْزَنَ الْعَمَلُ

“Ketahuilah, salah satu tanda hari Kiamat adalah orang-orang jahat dan kejam diangkat menjadi pemimpin. Sedangkan orang-orang pilihan dihinakan. Ketahuilah, termasuk tanda-tanda hari Kiamat adalah banyaknya perkataan (buruk) dan sedikitnya amal (dalam riwayat lain: perkataan yang buruk).”[9]

Ketiga, pemimpin yang suka mengulur pelaksanaan shalat dari waktunya

Dari Ibnu Mas‘ud, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّهُ سَتَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مِيْقَاتِهَا وَيَخْنُقُونَهَا إِلَى شَرَقِ الْمَوْتَى فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ قَدْ فَعَلُوا ذَلِكَ فَصَلُّوا الصَّلَاةَ لِمِيقَاتِهَا وَاجْعَلُوا صَلَاتَكُمْ مَعَهُمْ سُبْحَةً

“Pasti suatu saat nanti kalian akan menemukan para pemimpin yang mengakhirkan shalat dari waktu yang telah ditetapkan seolah-olah mereka itu dalam detik-detik akhir menjelang kematiannya. Apabila kalian melihat mereka melakukan hal itu, shalatlah kalian tepat pada waktunya. Sedangkan untuk mereka jadikanlah shalatmu itu sebagai shalat sunnah.” (HR. Muslim)

Keempat, pemimpin yang menjadikan penjahat dan para preman sebagai orang kepercayaan

Rasulullah SAW bersabda:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُقَرِّبُونَ شِرَارَ النَّاسِ وَ يُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا. فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْهُمْ فَلاَ يَكُونَنَّ عَرِيفًا وَلاَ شُرْطِيًّا وَلاَ جَابِيًا وَلاَ خَازِنًا.

“Benar-benar akan datang kepada kalian suatu zaman yang para penguasanya menjadikan orang-orang jahat sebagai orang-orang kepercayaan. Mereka menunda pelaksanaan shalat dari awal waktunya. Barangsiapa mendapati masa mereka, janganlah sekali-kali ia menjadi seorang penasehat, polisi, penarik pajak, atau bendahara bagi mereka.”[10]

Kelima, pemimpin jahat berhati setan

Rasulullah Saw bersabda:

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ

“Sepeninggalku kelak akan muncul para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak meniti jejak sunnahku. Di antara mereka akan ada orang-orang yang mempunyai hati setan, namun fisik mereka adalah fisik manusia.”[11]

Inilah diantara sifat kepemimpinan zhalim sebagai salahsatu krisis terbesar bagi manusia, Rasulullah Saw telah memperingatkan umatnya agar berwaspada sehingga jika sifat-sifat ini muncul pada era zaman kita sekarang, maka kita sudah mengetahui hal apa yang harus kita lakukan dalam menyikapinya.

Jika pemimpin dan penguasa seperti itu sifatnya, maka semua urusan akan terbalik. dimana, pembohong dipercaya, orang jujur didustakan, penghianat diberi amanat, orang terpercaya dihianati dan didustakan, orang bodoh berbicara, orang alim dipenjara dan dilarang bicara. Kondisi ini persis seperti apa yang disabdakan Nabi Saw “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat ialah ilmu diangkat dan tersebarnya kebodohan.” (Muttafaq ‘Alaih dari Anas bin Malik Ra)

Semoga Allah memberikan kepada kita para pemimpin yang takut kepada Allah dan memiliki sifat amanah, mengasihi rakyat dan tidak suka hidup mewah, menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan, cinta syariat dan anti khianat.

Oleh Robi Permana


[1] Hr. Bukhari dalam shaihnya juz 2 hal 120 no. 2409, juz 3 hal. 150 no. 2554, no. 2558, juz 4 hal. 5 no. 2751, Muslim dalam Shahihnya no. 1829

[2] Al-Iqitshad fil I’tiqod, hlm. 199

[3] Al-Hisbah, hal. 8

[4] (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Darimi. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam al-Shahihah: 4/109, no. 1582, dalam Shahih al-Jami’, no. 1773 dan 2316)

[5] Hr. Ahmad, juz 9 hal 4966 no. 21692.

Hadis ini ada yang melemahkannya karena ketafarrudan Ibn Lahi’ah, beliau rawi shaduq, hanya setelah kitabnya kebakaran beliau terjadi ke-ikhtilathan dan banyaknya periwayatan yang munkar, beliau akan diterima riwayatnya jika yang menerimanya dari para ‘Abadillah.

Selain itu terdapat pula rawi yang bernama Musa ibn Dawud, Ibn Hajar menyebutnya Faqih, namun dalam kesimpulannya beliau memberikan komentar Shaduq, Faqih, Zahid Lahu Auham. (Ta’rif Ahl al-Taqdis juz 1 hal 177, Tahdzib al-Tahdzib juz 4 hal 174, Taqrib al-Tahdzib juz 1 hal 979)

[6] Hr. Ahmad dalam musnadnya Juz 10 hal 2568 no. 22830

[7] HR. al-Daarimi. Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Takhrij al-Misykah (1/89), sanadnya shahih

[8] Hr. al-Bukhri dalam kitab shahihnya juz 1 hal 31 no. 100, juz 9 hal 100 no. 7307, Muslim dalam shahihnya juz 8 hal 60 no. 2673.

[9] Musnad al-Darimi, Juz 1 hal. 423, no. 493

[10] HR. Ibnu Hibban, Silsilah al-Ahadits al-Shahihah no. 360

[11] Hr. Muslim, juz: 6 hal. 20 no. 1847