Beranda Shalat Masbuk Berjamaah Kembali dalam Salat

Masbuk Berjamaah Kembali dalam Salat

894
0

Mohon keterangan terkait dengan dalil masbuq berjamaah ? (jamaah telegram)

Salat fardu berjamaah lebih baik daripada salat menyendiri. Ketika salat berjamaah, adakalanya makmum dalam kondisi mengikuti semua rakaat imam, adakalanya dalam dalam keadaaan masbuk yaitu tidak mengikuti semua rakaat imam, sehingga wajib menambah rakaat, sebanyak rakaat yang tertinggal. Ketika menambah rakaat, ada kalanya tidak sendiri atau beberapa orang. Terkait dengan masbuq berjamaah, ada dua dalil terkait dengannya. Pertama Rasulullah saw pernah masbuq bersama Mughirah bin Syu’bah karena sebab tertentu, sedangkan yang menjadi imam adalah Abdurrahman bin Auf

فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقُمْتُ ، فَرَكَعْنَا الرَّكْعَةَ الَّتِي سَبَقَتْنَا


Maka ketika dia (Abdurrahman bin Auf) salam, Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdiri, saat yang sama akupun berdiri, lalu kami menyelesaikan rakaat yang kurang sebelumnya (Muslim, sahih Muslim, 1/158)


Kalimat قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقُمْتُ (Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdiri, saat yang sama akupun berdiri) menunjukan keduanya berdiri, namun masih ihtimal apakah berdiri hendak salat munfarid masing-masing atau berjamaah. Namun dalam Riwayat al-Baihaqi kalimatnya قَامَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم وَقُمْتُ مَعَهُ (Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdiri, saat yang sama akupun berdiri) menunjukan bahwa keduanya lebih dekat kepada makna berjamaah.

Selain itu dikuatkan oleh Kalimat فَرَكَعْنَا الرَّكْعَةَ الَّتِي سَبَقَتْنَا (lalu kami menyelesaikan rakaat yang luput sebelumnya) memang kalimat tersebut mengandung ihtimal atau kemungkinan, bisa difahami keduanya salat berjamaah, bisa juga keduanya salat masing-masing. Namun secara zahir dan asal maknanya lebih dekat berjamaah. Makna tersebutpun dikuatkan oleh beberapa qarinah :

Pertama, perbandingan dengan hadis lain dengan kalimat yang sama

فَرَكَعَ عَبْدُ اللَّهِ فَرَكَعْنَا مَعَهُ

Kemudian Abdullah ruku, maka kamipun rukuk bersamanya (HR. Baihaqi, Sunan al-Kubra, 2/245)

Matan hadis diatas menunjukan bahwa maksud kami ruku’ itu bukan sendiri-sendiri atau munfarid, tapi rukuk secara berjamaah dalam salat.

Kedua, pencarian dan perbandingan matan terhadap kalimat yang hampir sama seperti وَكَبَّرْنَا (kami bertabir) dan سَجَدْنَا (kami bersujud) ketika salat menunjukan dalam posisi salat berjamaah, perhatikan dua hadis berikut :

فَكَبَّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَبَّرْنَا، وَرَكَعَ فَرَكَعْنَا

Maka Rasulullah Saw bertakbir dan kamipun bertakbir, dan beliau ruku, kamipun rukuk (HR. Abu ‘Awwanah, Mustakhraj Abi Awwanah, 2/88)

كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالظَّهَائِرِ سَجَدْنَا عَلَى ثِيَابِنَا اتِّقَاءَ الْحَرِّ

“Kami pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pada pertengahan siang (saat panas sekali), lalu kami sujud di atas baju-baju kami untuk menghindari panas.” (HR an-Nasai, Sunan al-Kubra, 1/355)

Ketiga, terkait dengan perintah salat berjamaah, dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَإِذَا كُنْتُمْ ثَلاَثَةً فَصَلُّوا جَمِيعًا وَإِذَا كُنْتُمْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَلْيَؤُمَّكُمْ أَحَدُكُمْ

Dari Abdullah bin Masud, ia berkata, “Apabila kalian bertiga, salatlah secara berjama’ah, hendaklah salah seorang di antara kalian jadi imam.” (H.R Muslim, Muslim, 2/68)

Hadis diatas menunjukan perintah secara umum salat berjamaah, termasuk didalamnya bagi yang masbuq. Adapun terkait dengan tiga orang, bukanlah batas salat berjamaah, karena pada keterangan lain Rasulullah Saw pernah salat berdua bersama Ibnu Abbas, hanya menunjukan salah satu dari bentuk berjamaah.


Keempat, keutamaan berjamaah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Salat berjama’ah itu mengungguli salat dengan 27 derajat’.” (HR Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/131)

Berjamaah secara sempurna tentu lebih baik daripada berjamaah secara sebagian. Begitu pula bagi yang masbuq, maka berjamaah kembali dengan sesam masbuq lebih baik daripada salat munfarid.

Dari hadis-hadis diatas dapat disimpulkan bahwa kalimat “kami ruku’ (menyempurnakan rakaat)” secara asal maksudnya secara berjamaah, sehingga Rasul dan Mughirah waktu itu masbuk dan membuat jamaah kembali. Adapun jika kalimat sejenis diartikan munfarid, maka mesti ada qorinah misalnya kalimat وُحْدَانًا (sendiri-sendiri) dalam hadis berikut :

صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِي يَوْمِ عِيدٍ، فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ النَّهَارِ، ثُمَّ رُحْنَا إِلَى الْجُمُعَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا فَصَلَّيْنَا وُحْدَانًا

Ibnu Zubair shalat bersama kami pada hari raya di hari jum’at, di awal hari, kemudian kami berangkat untuk melaksanakan shalat jum’at, namun dia tidak keluar untuk mengimami kami, akhirnya kami shalat sendiri-sendiri (Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, 1/281)

Adapun dalil kedua, adalah bolehnya istikhlaf atau berganti imam dalam salat. Kasusnya ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sakit, kemudian memerintahkan kepada Abu Bakar untuk mengimami salat, maka Abu Bakarpun menjadi imam, kemudian dalam hadis

فَلَمَّا دَخَلَ الْمَسْجِدَ سَمِعَ أَبُو بَكْرٍ حِسَّهُ ، ذَهَبَ يَتَأَخَّرُ ، فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قُمْ مَكَانَكَ ، فَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى جَلَسَ عَنْ يَسَارِ أَبِي بَكْرٍ قَالَتْ : فَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ جَالِسًا وَأَبُو بَكْرٍ قَائِمًا يَقْتَدِي أَبُو بَكْرٍ بِصَلاَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقْتَدِي النَّاسُ بِصَلاَةِ أَبِي بَكْرٍ

maka ketika Rasulullah saw. masuk mesjid, Abu Bakar merasakan kehadiran beliau, ia berusaha akan mundur, tetapi Rasulullah saw. berisyarat dengan tangan beliau agar tetap ditempat. Maka datanglah Rasulullah saw. dan berdiri di sebelah kiri Abu Bakar. Maka Rasululah salat sambil berdiri dan Abu Bakar sambil berdiri, Abu Bakar mengikuti salat Nabi dan Jamaah mengikuti salat Abu Bakar.” (HR Muslim, Sahih Muslim, 2/22)

Abu Bakar pada awalnya sebagai imam, lalu Abu Bakar bermakmum ketika Rasulullah datang menjadi imam, sedangkan para sahabat yang lain mengikuti Abu Bakar. Menunjukan bolehnya istikhlaf atau berganti imam dalam salat, karena suatu alasan. Diantara alasan tersebut adalah meneruskan salat berjamaah, sehingga lebih sempurna rakaat secara berjamaah.
Dengan demikian kesimpulannya. Pertama rasul memerintahkan salat berjamaah yang hukumnya sunnah muakkad. Kedua, berjamaah secara sempurna lebih baik dari sebagian rakaat saja. Ketiga, makmum masbuk lebih utama berjamaah kembali untuk kesempurnaan salat berjamaah.

Ginanjar Nugraha
Ma’had Imam al-Bukhari