Beranda Ushulfiqh Memahami dan Menguji Proses Ijtihad

Memahami dan Menguji Proses Ijtihad

923
0

“Perbedaan metode dan kaidah dapat mengakibatkan perbedaan kesimpulan”

Mengurai, Memahami dan Menguji Proses Ijtihad dari Nash
Selama beberapa tahun kebelakang, saya berusaha memformulasikan bagaimana, mengurai, memahami dan menguji sebuah argumentasi fikih secara efektif dan metodologis. Maklum, sebagai orang yang pernah bergulat dalam dunia filsafat, saya selalu berusaha mempertanyakan setiap asumsi-asumsi dasar dalam setiap bangunan argumentasi, termasuk argumentasi fikih didalamnya. Tujuannya tentu melihat berbagai kemungkinan dan pilihan fikih, mana diantara khazanah fikih yang paling kuat, tentunya ada sisi relativitas didalamnya. Disisi lain, Alhamdulillah, bertemu dan berguru dengan para guru utama di Persatuan Islam, dimana kami belajar langsung dari “dapur” dan mendapat tugas di “dapur” untuk membantu mengolah dan menguji rasa dari setiap masakan.
pertama, uji dalil, karena al-Quran dan as-Sunnah sebagai sumber utama Ijtihad, maka proses ijtihad dari nash bermula dari dalil. secara wurud, al-Quran tentunya dipastikan kekuatan validitasnya. adapun as-Sunnah, maka perlu uji lebih lanjut, apakah termasuk dalil yang dapat dijadikan hujjah, misalnya sahih atau hasan, ataukah tidak dapat dijadikan hujjah, semisal dhaif ringan, dhaif berat dan palsu. Disinilah tugas para muhadditsin. Tentunya bukan perkara mudah, apalagi jika tidak semata i’timad pada penuliann hadis salah satu ulama saja, tapi bergulat langsung dengan meneliti terpenuhi atau tidaknya syarat hadis dapat dinisbatkan kepada rasul sallalahu alaihi wa sallam, bisa berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan dalam kasus berat, bisa sampai bertahun-tahun. Setelah dapat dipastikan dengan hasil derajat hadis, maka tugas muhadditsin selesai, tiga proses selanjutnya menjadi tugas ushuliyin.
kedua, uji wajhul istidlal. Dalam berdalil, pengujian bukan hanya aspek dalil sebagaimana dalam proses yang pertama,tapi juga aspek dalalah. ketika sebuah ayat atau hadis dijadikan dalil, tentunya ada kalimat pokok atau kunci yang dijadikan sandaran yang menyampaikan pada makna yang dicari. Pada aspek ini diuji, apakah penujukan dalalah itu sarih atau ihtimal,misalnya kasus merapatkan kaki ketika sujud. Bahkan dalam kasus tertentu,hasil dari mufti karbitan atau yang tidak kompeten, bisa jadi aspek dalalah tidak nyambung bahkan bertentangan dengan kesimpulan itu sendiri.seperti kasus meme mengharamkan selfi berdalil dengan kutipan hadis orang yang membuat gambar akan diazab oleh Allah. Padahal dalam meme tersebut adalah gambar, berarti pembuat meme tersebut jika konsisten pendekaran zahir, maka terkena azab, begitu pula yang menyebarkannya. masuk uji wajh al istidlal diantaranya juga haqiqah atau majazi, seperti dalam kasus ilzaq atau merapatkan kaki ketika salat. Penelitian siyaq al kalam dan sejumlah penelitian lainnya terkait dengan aspek kebahasaan.
ketiga, aspek thuruq al Istidal,yaitu uji metodologi setelah uji wajh Istidal, menguraikan bagaimana metode para ulama dalam beristinbat al ahkam setelah ditemukan wajh al Isdtidlal. MIsal kasus isbal. aspek dalil sudah jelas kesahihanya sehingga dapat dijadikan hujjah. Aspek wajh al-Istidla sudah ditentukan dan ditemukan. Namun aspek metode Istinbat berbeda satu dengan yang lain. Jika menggunakan metode analisis kebahasaan dan zahir, maka kesimpulan akan berakhir bahwa melebihkan pakaian dari batas mata kaki hukumnya haram bahkan diazab di neraka. Adapun ulama lain metode istinbatnya dengan metode maudlui yaitu mengumpulkan semua hadis yang setema, kemudian difahami konteks budaya zaman Nabi serta pendekatan ta’lili atau pencarian motif hukum, berdasarkan dalalah salah satu wajhul istidlal dalam sebagian hadis isbal. Sehingga ditemukan bahwa iilat hukum dari larangan isbal adalah kesombongan, kemudian memberlakukan kaidah bahwa hukum tergantung dari ada dan tiadanya illat. Kesimpulannya yang diancam neraka adalah orang yang melabuhkan kain dengan sombong, adapun jika tidak ada sifat sombong, maka tidak termasuk dalam larangan hadis isbal dan kembali ke hukum asal yaitu mubah. Perbedaan metode dapat mengakibatkan perbedaan kesimpulan. pada aspek ini tentunya disadari, urgensi tasamuh fikih, dalil yang sama belum tentu difahami sama pula.
Misal pertentangan antara Manthuq sarih dengan mafhum hasr dalam kasus status kehalalan anjing. Jumhur ulama memahami secara manthuq hadis-hadis terkait dengan keharaman memakan hewan yang bertaring dan berkuku tajam, karena secara dalalah lafadz menunjukan secara sarih keharamannya menggunakan uslub larangan. disamping itu menganggap anjing adalah najis, karena Rasul memerintahkan untuk mencuci bekas jilatan anjing. Sedangkan sebagian ulama lain mengganggap bahwa makanan yang haram dibatasi hanya empat saja dalam al-Quran menggunakan sighat hasr, yaitu bangkai, darah, babi dan sembelihan bukan karena Allah. Otomastis, karena dibatasi empat saja, maka makanan selain itu adalah halal. adapun terkait dengan hadis keharaman hewan bertaring dan berkuku tajam, jika difahami manthuq akan bertentangan dengan mafhum hasr ayat al-Quran, karena itu ditakwil makna haram menjadi makruh. begitu juga dengan kenajisan anjing, tidak ada keterangan yang sarih terkait dengan kenajisannya. karena semata membersihkan bekas jilatan anjing, tidak mesti karena najis, bisa jadi sekedar taabudi saja. bahkan dalam al-Quran dibolehkan berburu dengan anjing, artinya air liur anjing tidak najis, begitupula dengan bagian lainnya. Diantaranya Malikiyah, Imam Syaukani dan A Hassan.
keempat, Uji proses peyimpulan, pengujian ini melibatkan ushulfiqh dan ilmu manthiq. tidak jarang ada jumping conclution atau loncat logika, sehingga jika diperiksa ulang antara dalil, metode dan hasil simpulan tidak nyambung, sebagaimana kasus meme haramnya selfi dengan hadis larangan menggambar. Terkadang karena sudah mempunyai prasangka awal, maka kesimpulan dipaksakan harus sesuai dengan praduga awal atau pendapatnya. Uji logika dan hubungan logis antar agumentasi sehingga koheren, sinkron dan konsisten. Begitu pula jika ada Logical Fallacy atau kesalahan-kesalahan yang dapat mengakibatkan kecacatan kesimpulan sangat penting untuk diteliti.
Keempat proses diatas bisa digunakan secara cybernatic atau bolak balik, bisa dengan tanpa asumsi fikih akhirnya sampai kepada fikih atau istinbat al ahkam, atau sebaliknya ada asumsi fikh sebelumnya kemudian berusaha diuji setiap tahapan argumentasinya. silahkan anda coba dan praktek, dalam kitab fikih apapun, tidak akan terlepas dari proses diatas bila terkait ijtihad dari nash. semoga bermanfaat.
wallahu’alam
Akhukum Ginanjar NugrahaSubuh di Bandung, 27 Maret 2019