Beranda Akidah Memahami Larangan Mencabuti Uban

Memahami Larangan Mencabuti Uban

1405
0

Bagaimana memahami hadis keutamaan beruban ?
Jawab :

Warna rambut adalah hasil pigmentasi pada folikel rambut dari dua jenis melanin, yaitu eumelanin dan pheomelanin. Rambut akan berwarna lebih gelap jika eumelanin lebih dominan. Tingkat melanin pada tubuh seseorang dapat berubah seiring waktu, yaitu suatu kondisi yang kemudian menyebabkan rambut juga berubah warna. Secara alami, berubahnya warna rambut menjadi abu-abu atau putih terjadi seiring dengan pertambahan usia atau disebut achromotrichia.

Biasanya perubahan warna dimulai pada rambut di dalam hidung, disusul rambut pada bagian kepala, jenggot, kemudian rambut bagian tubuh lain, terakhir rambut pada alis mata. Uban merupakan salah tanda alamiyah proses penuaan secara umum manusia. Tapi adapula karena sebab yang lain, misalnya albino, genetika, merokok, atau akibat dari proses pengobatan sinar X.

Terkait uban, terdapat beberapa hadis termasuk keutamaan dan larangan mencabut uban yang perlu difahami secara tepat. Berikut adalah hadis-hadisnya

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَشِيبُ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ قَالَ عَنْ سُفْيَانَ إِلَّا كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَقَالَ فِي حَدِيثِ يَحْيَى إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً
Rasulullah Saw bersabda janganlah kalian mencabuti uban, tidaklah seorang muslim beruban dalam Islam, Musaddad berkata dari Sufyan, kecuali uban tersebut menjadi cahaya padahari kiamat. Musaddad dari jalur Yahya, kecuali Allah menuliskan baginya satu kebaikan dan allah menghapus dosanya (H.R. Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, 11/267)

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ، فَإِنَّهُ نُورُ الْمُسْلِمِ، مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً، وَكَفَّرَ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً، وَرَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً»

Dari Abdullah bin Amr bin Ash sesunggunya Rasulullah Saw bersabda janganlah kalian mencabuti uban, karena uban itu cahaya seorang muslim, siapa yang beruban dalam Islam maka Allah mencatatnya sebagai sebuah kebaikan, Allah menutup dengannya dosa, serta meninggikannya dengan uban tersebut satu derajat. (H.R. Ahmad, Musnad Ahmad, 11/550)

عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ اللهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ

Dari Abu Musa al-Asy’ary berkata : Rasulullah Saw bersabda : “sungguh diantara kemulyaan Allah adalah memulyakan orang muslim yang beruban” (Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, 4/261)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ يُكْرَهُ أَنْ يَنْتِفَ الرَّجُلُ الشَّعْرَةَ الْبَيْضَاءَ مِنْ رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ – قَالَ – وَلَمْ يَخْتَضِبْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّمَا كَانَ الْبَيَاضُ فِى عَنْفَقَتِهِ وَفِى الصُّدْغَيْنِ وَفِى الرَّأْسِ نَبْذٌ

Dari Anas bin Malik berkata : “dimakruhkan seseorang mencabuti rambut putih dari kepala dan janggutnya dan Rasulullah Saw tidak mengecat rambut (putihnya), uban Rasulullah Saw hanya ada di bawah bibir, diantara mata dan telinga, dan dikepalanya sedikit (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 7/85)
Inti dari hadis-hadis diatas adalah
1. Larangan untuk mencabuti uban
2. Keutamaan uban menjadi cahaya pada hari kiamat
3. Keutamaan dicatat sebagai sebuah kebaikan
4. Keutamaan diampuni dosa

Jika difahami secara zahir, maka siapa saja yang banyak ubannya tentu lebih banyak kebaikan, lebih bercahaya pada hari kiamat bahkan diampuni dosanya. Jika difahami demikian, maka akan janggal, bahwa ukuran kebaikan, cahaya pada hari kiamat serta diampuni dosa itu ada pada uban, bukan amal saleh. Padahal dalam ayat al-Quran dan hadis berikut, ukuran seseorang itu amal dan hatinya bukan pada jasad atau rupa, termasuk didalamnya uban.

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا
Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun (an-Nisa’ : 124)

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (an-Nahl : 97)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.
Dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan hartamu, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amalmu” (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 11/8)

Dari dalil-dalil diatas jelaslah bahwa Allah hanya melihat kepada hati dan amal sebagai ukuran, bukan kepada rupa, jasad, maupun harta seseorang. Karena itu hadis-hadis mengenai uban dapat diselaraskan dengan difahami bahwa uban merupakan tanda proses penuaan alamiah pada manusia, sehingga siapa yang ridla terhadap taqdir tersebut, maka Allah akan mencatatnya sebagai sebuah kebaikan serta diampuni dosa-dosanya. Adapun larangan mencabuti uban adalah terkait dengan motif ketidakridloan terhadap takdir Allah berupa penuaan yang ditandai dengan uban.

Ginanjar Nugraha, 2017

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here