Beranda Shalat Membaca al-Fatihah dan Masbuq pada Salat Ied

Membaca al-Fatihah dan Masbuq pada Salat Ied

789
0

Bagaimana hukum membaca al-Fatihah pada Salat Idain ? Jika ketinggalan, apakah mesti disempurnakan? (jamaah pengajian)

Salat Ied merupakan salat sunat muakkad yang dilaksanakan pagi hari pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. adapun dalil yang terkait dengan pertanyaan adalah sebagai berikut :

قَالَ عُمَرُ : صَلاَةُ الْمُسَافِرِ رَكْعَتَانِ ، وَصَلاَةُ الأَضْحَى رَكْعَتَانِ ، وَصَلاَةُ الْفِطْرِ رَكْعَتَانِ ، وَصَلاَةُ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَانِ ، تَمَامٌ وَلَيْسَ بِقَصَرٍ عَلَى لِسَانِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Umar Berkata : “Salat musafir dua rakaat, salat Duha dua rakaat, salat Idul Fitri dua rakaat, salat Jumat dua rakaat secara tam bukan qasar berdasarkan sabda Rasulullah Saw (H.R. an-Nasa’i, Sunan al-Kubra, 1/271)

Hadis diatas menunjukan bahwa salat Idul Fitri dan Idul Adha itu dilaksanakan dua rakaat, sebagaimana salat qashar dan salat Jumat. Namun Kaifiyatnya berbeda, yaitu disunahkan untuk bertakbir 7 kali pada rakaat pertama dan 5 kali takbir pada rakaat kedua, berdasarkan hadis dari sahabat Aisyah

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ وَالأَضْحَى فِي الأُوْلَى سَبْعَ تَكْبِيْرَاتٍ وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا

sesungguhnya Rasulullah Saw. bertakbir pada salat Iedul Fitri dan Adha,pada Rakaat pertama 7 takbir dan rakaat kedua 5 takbir. (HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 1/229)

Adapun terkait dengan rakaat, maka sah tidaknya tergantung dari terpenuhi atau tidaknya rukun rakaat. Salah satu rukun rakaat tersebut adalah membaca/meyimak surat al-Fatihah, dalilnya hadis dari sahabat Ubadah bin Shamit

يَبْلُغُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

ia menyampaikan dengannya kepada Nabi Saw : “ Tidak ada salat bagi yang tidak membaca al-Fatihah (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 2/8)

Hadis diatas menunjukan bahwa al-Fatihah adalah rukun rakaat, sehingga jika ketinggalan atau tidak membaca al-Fatihah, maka tidak terhitung satu rakaat. Adapun keterangan sahabat Nu’man bin Basyir

«كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ، وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ»، قَالَ: «وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ، فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ، يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ».

Rasulullah Saw biasa dalam salat dua Id dan Jumat membaca surat al-A’la dan surat al-Ghasyiah. Apabila bertepatan antara Ied dan Jumat dalam hari yang sama, maka beliau membaca keduanya (al-A’la dan al-Ghasyiah) dalam kedua salat tersebut. (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 2/598)

Hadis diatas menunjukan bahwa Rasulullah Saw membaca surat al-A’la pada rakaat pertama, sedangkan pada rakaat kedua membaca surat al-Ghasyiah. Hadis tersebut walaupun disebutkan hanya membaca kedua surat tersebut, bukan berarti Rasulullah Saw tidak membaca al-Fatihah. berdasarkan hadis, bahwa rukun rakaat adalah membaca atau menyimak secara lengkap al-Fatihah, maka dapat dipastikan bahwa Rasulullah Saw membaca al-Fatihah tersebut, kendatipun tidak disebutkan.

Adapun hanya penyebutan surat al-A’la dan al-Ghasyiah, sebagai penekanan bahwa Rasulullah membaca kedua surat tersebut dalam salat Idain dan Jumat, tidak dengan surat yang lain, sejauh pengetahuan sahabat tersebut. Karena itu menjadi dalil keutamaan membaca surat tersebut dibandingkan surat yang lain, bukan sebagai kekhususan.

Karena itu jelaslah, bahwa al-Fatihah merupakan rukun rakaat dari salat Ied, sehingga ketika tidak membaca (bagi imam atau makmum yang tidak mendengar imam) atau ketinggalan hanya mengikuti sebagian atau seluruh al-Fatihah dari imam, maka tidak terhitung satu rakaat. Bagi yang tidak membaca al-Fatihah atau ketinggalan sehingga hanya menyimak sebagian al-Fatihah atau tidak sama sekali dalam rakaat tersebut, maka mesti disempurnakan rakaatnya sesuai dengan rakaat yang luput, berdasarkan sabda Rasulullah Saw dari sahabat Abu Hurairah

فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

“Maka apa yang kamu dapatkan maka salatlah, apa yang luput darimu maka sempurnakanlah” (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 2/100)

Kesimpulan, pertama membaca atau menyimak al-Fatihah adalah rukun rakaat salat Id. Kedua, bagi makmum masbuq yang ketinggalan baik sebagian atau seluruh al-Fatihah, maka hendaknya menyempurnakan rakaat yang tertinggal, dengan kaifiyat takbir sesuai dengan tatacara salat ied.