Beranda Shalat Membaca Surat Pada Rakaat ke tiga dan ke empat

Membaca Surat Pada Rakaat ke tiga dan ke empat

6998
0
  1. Bolehkah membaca surat dalam rakaat ketiga atau keempat dalam salat wajib empat rakaat ?

Jawab :

Dalam beristinbat hokum dengan dalil, ada dua sandaran pokok, pertama yaitu kekuatan dalil, jika sumber argumentasinya menggunakan hadis, maka harus dipastikan dapat diterima yaitu sahih atau hasan. Pokok sandaran yang kedua yaitu penunjukan dilalahya tidak mengandung ihtimal atau berbagai kemungkinan, sesuai dengan kaidah bahwa dalam keadaan dalil ihtimal, maka tidak dapat dijadikan dasar pengambilan dalil. Dalam kasus bolehkah membaca surat pada pada rakaat ketiga dan keempat pada pada salat fardlu, ada sebagian ulama yang membolehkan dengan dasar argumentasi yaitu, pertama hadis dari Abu Said al-Khudri

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقْرَأُ فِى صَلاَةِ الظُّهْرِ فِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ قَدْرَ ثَلاَثِينَ آيَةً وَفِى الأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ خَمْسَ عَشَرَةَ آيَةً أَوْ قَالَ نِصْفَ ذَلِكَ وَفِى الْعَصْرِ فِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ قَدْرَ قِرَاءَةِ خَمْسَ عَشْرَةَ آيَةً وَفِى الأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ نِصْفِ ذَلِكَ.

dari Abu Sa’id al-Khudri “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu membaca dua rakaat pertama dari shalat zhuhur; pada setiap rakaat kira-kira tiga puluh ayat, dan pada dua rakaat berikutnya kira-kira lima belas ayat -atau dia mengatakan setengah dari hal tersebut-. Sedangkan dua rakaat pertama dari shalat ashar; maka pada setiap rakaat sekedar bacaan lima belas ayat dan pada dua rakaat lainnya sekedar setengah dari hal tersebut.” (Sahih Muslim, 2/37)

menurut kelompok ini, pada kalimat “pada dua rakaat berikutnya kira-kira lima belas ayat -atau dia mengatakan setengah dari hal tersebut” yaitu pada salat Zuhur dan kalimat “dan pada dua rakaat lainnya sekedar setengah dari hal tersebut” pada salat Ashar menunjukan bolehnya membaca surat pada rakaat ketiga dan keempat. Walaupun hanya kira-kira, akan tetapi waktu tersebut lebih dari sekedar membaca al-fatihah yang hanya tujuh ayat, baik dalam salat Zuhur maupun Ashar. Kemungkinan besar Rasulullah membaca surat lain dalam waktu tersebut.

kedua, hadis diatas diperkuat oleh atsar dari Abu Bakar as-Shiddiq yang membaca surat Ali Imran ayat 8 ketika rakaat ketiga pada salat Magrib setelah membaca al-Fatihah. Riwayatnya yaitu :

عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ مَوْلَى سُلَيْمَانَ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ نُسَيٍّ عَنْ قَيْسِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الصُّنَابِحِيِّ قَالَ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي خِلَافَةِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ فَصَلَّيْتُ وَرَاءَهُ الْمَغْرِبَ فَقَرَأَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَسُورَةٍ سُورَةٍ مِنْ قِصَارِ الْمُفَصَّلِ ثُمَّ قَامَ فِي الثَّالِثَةِ فَدَنَوْتُ مِنْهُ حَتَّى إِنَّ ثِيَابِي لَتَكَادُ أَنْ تَمَسَّ ثِيَابَهُ فَسَمِعْتُهُ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَبِهَذِهِ الْآيَةِ { رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ }

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Abu ‘Ubaid mantan budak Sulaiman bin Abdul Malik, dari Ubadah bin Nusai dari Qais bin Al Harits dari Abu Abdullah Ash Shunabihi ia berkata; “Aku datang ke Madinah pada masa kekhilafahan Abu Bakar As Shiddiq . Lalu aku shalat maghrib di belakangnya, dia membaca Ummul Qur’an pada dua rakaat pertama dan surat-surat Al Mufashshal yang pendek. Kemudian dia berdiri menuju rakaat yang ketiga, lalu aku mendekat kepadanya hingga kainku hampir menempel pakaiannya. Aku mendengar ia membaca Ummul Qur’an dan ayat ini; ‘(Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami Rahmat dari sisi Engkau; Karena Engkau-lah Maha pemberi (karunia) ‘.” (Qs. Ali Imran: 8) (al-Muwattha’, 1/79)

Namun sejauh penelitian kami, penunjukan dilalah dari kedua hadis diatas masih ihtimal, yaitu mempunyai berbagai macam kemungkinan, sehingga tidak dapat digunakan untuk istidlal sesuai dengan kaidah

مع الاحتمال يسقط الإستدلال

Bersamaan dengan adanya ihtimal maka jatuhlah istidlal (ta’sis al-Ahkam, 2/80)

Ihtimal hadis pertama yaitu penggunaan kalimat “qadra” yang artinya kira-kira, tidak menunjukan secara pasti rasulullah sallallahu alaihi wa sallam membaca surat pada dua rakaat akhir. Sedangkan ihtimal atsar dari Abu Bakar adalah masih menyimpan kemungkinan antara Abu Bakar membaca ayat atau berdo’a dalam rakaat ketiga setelah membaca al-Fatihah. Karena kedua dalil diatas masih ihtimal, maka tidak dapat dijadikan hujjah dalam kasus membaca surat dalam rakaat ketiga dan keempat.

Hadis yang dapat dijadikan dalil dan penunjukannya sarih menurut pandangan kami adalah keterangan dari sahabat Qatadah yaitu

أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ فِي الْأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ وَفِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَيُسْمِعُنَا الْآيَةَ وَيُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى مَا لَا يُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ وَهَكَذَا فِي الْعَصْرِ وَهَكَذَا فِي الصُّبْحِ

dari Abdullah bin Abi Qatadah dan Abu Salamah dari Abu Qatadah dia berkata, “Dahulu Rasulullah shalat bersama kami (sebagai imam), lalu membaca al-fatihah dan dua surat dalam shalat zhuhur dan ashar pada dua raka’at yang pertama. Dan terkadang beliau memperdengarkan (bacaan) ayat. Beliau memanjangkan raka’at pertama dari shalat zhuhur dan memendekkan yang kedua. Dan demikian juga dalam shalat shubuh.” (Sahih Bukhari, 1/55)

Hadis diatas secara sarih menunjukan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam pada rakaat ketiga dan keempat hanya membaca al-fatihah saja, karena itu imam Bukhari menempatkan hadis diatas pada bab

باب يَقْرَأُ فِي الأخْرَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

 “Bab membaca pada dua rakaat akhir dengan surat al-fatihah”

Dengan demikian kesimpulannya pendapat yang rajih adalah pada rakaat ketiga dan atau keempat hanya membaca surat al-fatihah saja, sedangkan pendapat yang membolehkan membaca surat setelah al-fatihah tidak didukung oleh argumentasi yang kuat.