Beranda Munakahat Mencabut Persetujuan Terhadap Rujuk Suami

Mencabut Persetujuan Terhadap Rujuk Suami

564
0

Bismillah. Ada seseorang menjatuhkan talak kepada istrinya. Lalu didalam masa idahnya dia merujuk kembali. Setelah beberapa bulan (sudah habis masa idah) si istri mencabut/membatalkan rujuk tesebut. Bagaimana kedudukan rmh tangga tersbut? Sudah terjadi talak ke 2 atau tidak, dengan ucapan si istri tersebut? Bagaimana caranya apabila si suami ingin melanjutkan rumah tangga tsb ? dari Lisa Cilacap.
Jawaban :

Jika suami mentalak istrinya maka putuslah pernikahan dan jatuhlah talak. Talak yang pertama dan kedua disebut dengan talak raj’i, yaitu talak yang berakibat hukum suami dapat kembali pada pada istrinya ketika masa iddah tanpa akad yang baru atau disebutkan dengan ruju’. Adapun jika melebihi batas iddah, suami berkehendak untuk kembali kepada istrinya, maka wajib dengan akad baru (Talak ba’in sugra. Adapun jika talak yang ketiga, maka berakibat hukum suami tidak dapat kembali kepada istrinya, baik dalam masa iddah (ruju’) maupun setelah masa iddah, kecuali menikah terlebih dengan laki-laki lain serta bercerai dengannya.

{الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ } [البقرة: 229]

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik (al-Baqarah : 229)

{ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ} [البقرة: 230]

Kemudian jika si suami menlalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui. (Al-Baqarah : 230)

{وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (228)} [البقرة: 228]
Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (al-Baqarah : 228)

Adapun terkait dengan rujuk, hal tersebut merupakan hak suami, namun istri dapat menolaknya dengan alasan yang dibenarkan syariat. Jika istri menerima rujuk suami (kembali dalam masa idah), maka berakibat hukum tersambungnya ikatan pernikahan. Akan tetapi jika dikemudian hari sang istri menolak atau mencabut setelah sebelumnya menerima rujuk suami, maka tidak berakibat hukum terputusnya pernikahan. Dengan demikian keduanya tetap dalam status ikatan pernikahan dan tidak mengurangi talak.

Suami punya hak talak dan rujuk, begitu juga dengan istri punya hak khulu’. Jika seandainya sang istri tetap ingin bercerai, maka bisa menggunakan hak khulu’ dengan akibat hukum suami tidak dapat kembali kepada istrinya kecuali dengan akad baru, baik dalam atau setelah masa idah. tentunya dengan alasan yang dibenarkan syariat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here