Beranda Fikih Mendahulukan Distribusi Zakat Fitrah

Mendahulukan Distribusi Zakat Fitrah

825
0

Bolehkah mendistribusikan zakat fitrah sebelum waktunya ? Bagaimana jika keadaannya dalam kondisi pandemic covid-19 dimana banyak manusia yang memerlukan bantuan ?

Zakat Fitrah termasuk ibadah mahdah dan hukumnya wajib yang ditentukan dan terbatas waktu pelaksanaannya. Namun akibat adanya pandemic covid-19, ada sebagian masyarakat yang terdampak langsung secara ekonomi. Ada usulan sebagian kalangan untuk mendahulukan pembayaran dan pendistribusian zakat fitrah sebelum waktunya untuk membantu masyarakat yang terdampak langsung secara ekonomi. Perbedaan pendapat tentang bolehnya mendahulukan zakat sebelum waktunya.  Sebelum menjawab pertanyaan tersebut ada beberapa hal yang mesti difahami, Pertama, waktu pelaksanaan atau pembayaran zakat fitrah dari muzakki ke amil zakat dimulai awal bulan ramadlan, berdasarkan keterangan dari sahabat Abdullah bin Umar :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ ، عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Rasulullah saw mewajibkan zakat fitri di bulan Ramadhan atas manusia (sebanyak) satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, yaitu atas kaum muslimin, baik atas orang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan. (HR Malik, al Muwattha, 1/381)

Kedua, waktu pendistribusian dari Amil ke mustahiq zakat fitrah, yaitu mulai dari terbit fajar sampai salat didirikan salat ied

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ» (رواه البخاري في بَابُ فَرْضِ صَدَقَةِ الفِطْرِ)

Dari Ibn Umar r.a. beliau berkata: “Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitri dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas muslim, baik hamba sahaya atau orang merdeka, laki – laki atau perempuan, anak kecil atau dewasa. Beliau juga memerintahkannya supaya ditunaikan sebelum orang – orang keluar menuju shalat. (HR Bukhari, Shahih al Bukhari, 2/130)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: «كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ»، وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ: «وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالأَقِطُ وَالتَّمْرُ» رواه البخاري في بَابُ الصَّدَقَةِ قَبْلَ العِيدِ)

Dari Abu Sa’id al Khudri r.a. beliau berkata: “kami pada masa Rasulullah saw mengeluarkan satu sha’ dari makanan pada hari raya fitri”. Abu Sa’id juga berkata: “dahulu makanan kami adalah gandum, kismis, susu kering, dan kurma. (HR Bukhari, Shahih al Bukhari, 2/131)

Adapula ulama yang membolehkan pendistribusian zakat fitrah ke mustahiq sebelum waktu terbit fajar berdasarkan keterangan sebagai berikut :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَمَرَ بِإِخْرَاجِ زَكَاةِ الْفِطْرِ قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ، وَأَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يُؤَدِّي قَبْلَ ذَلِكَ بِيَوْمٍ وَيَوْمَيْنِ (رواه ابن خزيمة في بَابُ الْأَمْرِ بِأَدَاءِ صَدَقَةِ الْفِطْرِ قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى صَلَاةِ الْعِيدِ)

Dari Abdullah Ibn Umar: Bahwasannya Nabi saw memerintahkan untuk mengeluarkan zakat fitri sebelum orang – orang keluar menuju shalat, dan Abdullah Ibn Umar sendiri menunaikannya sehari sebelumnya atau dua hari. (HR Ibn Khuzaimah, Shahih Ibn Khuzaimah, 2/1162)

Jika difahami sebagai waktu pendistribusian zakat fitrah ke mustahiq sebelum terbit fajar atau dua hari sebelumnya, maka akan bertentangan dengan keterangan yang menegaskan waktu pendistribusian itu setelah terbit fajar sampai didirikan salat ied. Karena itu, lebih tepat keterangan Ibn Umar diatas difahami sebagai waktu waktu penunaian wajib zakat atau muzakki zakat fitrah kepada amilin, sehingga tidak ada pertentangan. Disamping itu ada qarinah dari keterangan yang lain, sebagai berikut :

قَالَ: قُلْتُ: مَتَى كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُعْطِي الصَّاعَ؟ قَالَ: إِذَا قَعَدَ الْعَامِلُ، قُلْتُ: مَتَى كَانَ الْعَامِلُ يَقْعُدُ؟ قَالَ: قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَين

Dia berkata: Aku berkata: “Kapan Ibn Umar menyerahkan sha’ (zakat fitri)?” Dia berkata: “jika Amil sudah datang”. Aku berkata: “kapan Amil datang?” Dia berkata: “sebelum Idul fitri, sehari atau dua hari”. (HR Ibn Khuzaimah, Shahih Ibn Khuzaimah, 4/82)

Ketiga, apabila zakat didistribusikan sebelum atau setelah waktu yang ditentukan, masuk dalam shadaqah biasa, bukan sebagai zakat fitrah

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

Dari Ibn Abbas r.a. beliau berkata: “Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitri untuk mensucikan orang yang shaum dari kesia-siaan dan perbuatan keji, dan sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa saja yang menunaikannya sebelum shalat maka ia adalah zakat yang diterima. Adapun bagi yang menunaikannya setelah shalat maka ia adalah sedekah diantara sedekah lainnya. (HR Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, 3/39)

Karena itu hendaknya amilin wajib menunaikan tugasnya secara amanah dengan mendistribusikan zakat fitrah sesuai waktu yang ditentukan. Jika seandainya waktu yang ditentukan masih ada zakat yang belum terdistribusikan, maka panitia zakat atau amilin dapat mengakadkan zakat tersebut menjadi milik mustahiq sesuai dengan bagiannya. Sehingga amilin dapat mendistribusikan apa yang telah menjadi hak mustahiq.

Adapun dalam kondisi khusus seperti pandemic covid-19 bolehkah mendistribusikan zakat fitrah sebelum waktunya ? dalam hal ini alasan yang membolehkan lebih kepada alasan untuk menolong masyarakat yang berada dalam kedaruratan. Perlu difahami, salah satu kaidah kedaruratan adalah ketika tidak ada jalan lain kecuali dengan melaksanakan apa yang diharamkan atau yang tidak sesuai syariat secara azimah. Namun dalam kasus pendistribusian zakat fitrah, masih ada solusi lain yaitu dengan memaksimalkan infaq dan soqadoh yang tidak terikat dengan waktu, tanpa harus melanggar ketentuan waktu pendistribusian zakat fitrah.

Karena itu mengawalkan pendistribusian zakat fitrah dari waktu yang ditentukan, pertama alasan kedaruratan untuk mendistribusikan zakat fitrah sebelum waktunya, merupakan alasan yang tidak tepat. Kedua, amilin tidak amanah karena sudah mendistribusikan diluar waktu yang ditentukan. Ketiga, pendistribusian zakat fitrah diluar waktu yang ditentukan, maka menjaid shadaqah biasa.

Dengan demikian kesimpulannya

pertama, Zakat fitrah diberikan pada hari Iedul Fitri kepada mustahiq mulai terbit fajar sampai sebelum shalat Iedul Fitri. Kedua, dalam kondisi pandemi Covid-19, pendistribusian zakat fitrah kepada mustahiq sebelum atau sesudah waktu yang ditentukan, tidak termasuk zakat fitrah melainkan shadaqah biasa. Ketiga, tidak tepat kedaruratan dijadikan alasan untuk mengawalkan penditsribusikan zakat, karena adanya solusi lain, diantaranya pemaksimalan infaq dan shadaqah dan lainnya.  Keempat, dalam kondisi pandemi Covid-19, kaum muslimin dianjurkan untuk memperbanyak infaq dan shadaqah.