Asal dalam ibadah itu haram dan batal, kecuali ada dalil yang memerintahkannya. Do’a iftitah merupakan do’a yang disyariatkan dibaca setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama sebelum ta’awudz. Praktik do’a iftitah yang ditanyakan merupakan gabungan dari dua do’a iftitah yang sahih. Berikut dalilnya


عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنِ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا ». قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ ». قَالَ ابْنُ عُمَرَ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ ذَلِكَ.


Dari Ibnu Umar berkata ; ketika kami salah bersama Rasulullah Saw salah seorang dari sebuah kaum berkata Allahu Akbar kabiran wal hamdulillahi katsiran wa subhanallah bukrataw wa ashila. Rasulullah Saw bertanya “Siapa yang berucap tadi kalimat ini dan itu ?” Seorang laki-laki dari kaum tersebut menjawab “Saya wahai Rasulullah. Rasulullah Saw bersabda :” Aku takjub karena kalimat tersebut, pintu-pintu langit dibuka”. Ibnu Umar berkata “ maka aku tidak tinggalkan (mempraktekan) semenjak aku mendengar rasulullah Saw bersabda demikian. (HR. Muslim, Sahih Muslim, 2/99)
Adapun do’a kedua dalilnya


عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ قَالَ « وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ. أَنْتَ رَبِّى وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِى وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِى فَاغْفِرْ لِى ذُنُوبِى جَمِيعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ وَاهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ »


Dari Ali bin Abi Thalib dari Rasulullah Saw sungguh beliau bila mendirikan salat membaca “ aku hadapkan wajahku kepada yang menciptakan langit dan bumi secara hanif dan aku bukanlah termasuk dari kaum musyrik sesungguhnya salatku, kurbanku, hidupku, matiku bagi Allah tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu baginya. Dimana aku diperintahkan untuk hal itu. Dan aku benar-benar termasuk golongan muslimin. Ya Allah engkaulah raja diraja tidak ada tuhan selain engkau. Engkau tuhanku dan aku hamba-Mu. Aku telah mendhalimi diriku. Dan aku mengakui dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku seluruhnya. Sungguh tidak ada yang mengampuni dosa selain engkau. Tunjukanlah aku kepada jalan yang kepada sebaiknya akhlak. Tidak ada yang bisa menunjukan kepada sebaiknya Akhlak kecuali engkau. Jauhkanlah aku dari ahlak yang buruk, dimana tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali engkau. Aku patuh kepadamu, kebahagian dan kebaikan semuanya dalam genggamanMu. Kejahatan bukanlah dariMu, dan aku berlindung darinya hanya kepada Mu. Engkau Maha berkah, Maha Tinggi aku meminta ampun dan bertaubat kepada-Mu (HR. Muslim, Sahih Muslim, 2/185)


Praktik amaliyah menggabungkan dua do’a iftitah dalam satu salat tersebut, kami belum menemukan dalilnya baik pengamalan Nabi Saw maupun para sahabat secara sahih dan sarih. Karena itu lebih baik ditinggalkan. Dikhawatirkan masuk dalam kategori bid’ah. Seandainya mau menghidupkan sunahpun bukan dengan cara menggabungkan dua do’a iftitah, tapi membaca satu do’a iftitah secara bergantian dari berbagai doa iftitah yang sahih dalam setiap rakaat pertama salat, baik salat wajib maupun sunat.