Beranda Muamalah Menggugat Harta Wakaf

Menggugat Harta Wakaf

310
0

Bagaimana bisa seorang anak menggugat harta yang diwakafkan oleh ayahnya ?

Wakaf berasal dari kata waqf yang arti asalnya habs yaitu menahan sedangkan secara istilah

حَبْسُ مَالٍ يُمْكِنُ اْلاِنْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ بِقَطْعِ التَّصَرُّفِ فِيْ رَقَبَتِهِ عَلَى مَصْرَفٍ مُبَاحٍ مَوْجُوْدٍ

“menahan harta yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyap bendanya, dengan cara tidak melakukan tindakan hukum terhadap benda tersebut, disalurkan pada sesuatu yang mubah (tidak haram) yang ada,” (Asnal Mathalib, 2/457)

Sedangkan dalam hukum nasional, wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya guna kepentingan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam. (Pasal 215 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Adapun terkait dengan ketentuan wakaf, maka perhatikan sabda Rasulullah Saw kepada Umar bin Khattab :

إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ وَتَصَدَّقَ بِهَا فِي الْفُقَرَاءِ وَفِي الْقُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ قَالَ فَحَدَّثْتُ بِهِ ابْنَ سِيرِينَ فَقَالَ غَيْرَ مُتَأَثِّلٍ مَالًا

…Jika kamu mau, kamu tahan (pelihara) pepohonannya lalu kamu dapat bershadaqah dengan (hasil buah) nya. Ibnu Umar ra berkata: Maka Umar menshadaqahkannya di mana tidak dijualnya, tidak dihibahkan dan juga tidak diwariskan namun dia menshadaqahkannya untuk para faqir, kerabat, untuk membebaskan budak, fii sabilillah, Ibnu sabil dan untuk menjamu tamu. Dan tidak dosa bagi orang yang mengurusnya untuk memakan darinya dengan cara yang ma’ruf (benar) dan untuk memberi makan orang lain bukan bermaksud menimbunnya. (HR. al-Bukhari, sahih al-Bukhari, 3/102)

Dari berbagai keterangan diatas dapat diambil kesimpulan,

pertama harta ketika diwakafkan maka menjadi milik Allah.

kedua, harta pokok wakaf mesti terjamin eksistensi, tidak hilang atau habis, tidak diperjualbelikan, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan dan dipergunakan untuk kepentingan dan kemaslahatan umat, serta terlarang dimanfaatkan jadi sarana kemaksiyatan.

Ketiga wakaf mesti diberdayakan supaya dapat mengalir pahalanya kepada wakif.

keempat, mengambil kepemilikan harta yang dipastikan telah diwakafkan menjadi milik pribadi hukumnya haram.

Kelima anak yang mengambil harta yang dipastikan telah diwakafkan oleh orang tuanya telah durhaka kepada kedua orang tuanya.

keenam, wakaf sudah seharusnya diurus menjadi akta ikrar wakaf atau sertifikat wakaf, sehingga mempunyai kekuatan hukum secara administatif dan meminimalisir kemungkinan gugatan terhadap harta wakaf.

Ginanjar Nugraha