Beranda Akidah Mengkritik Pemimpin

Mengkritik Pemimpin

1120
0

jihadBolehkah menasihati atau mengkritik pemimpin secara terang-terangan ? Abu Lasira

Jawab :

Setiap muslim adalah da’i yang bertugas untuk berdakwah amar ma’ruf nahyi munkar sesuai dengan kemampuannya

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran : 104)

Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda :

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»

Barangsiapa diantara kalian melihat kemunkaran, rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu, rubahlah dengan lisannya dan jika tidak mampu, (bencilah) dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim, Shahih Muslim, 1/69)

Objek dakwah itu beragam, diantaranya juga pemimpin. Bahkan menasihati pemimpin merupakan sebaik-baiknya jihad dakwah, Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda :

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ ، أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ

Sebaik-baiknya jihad adalah berkata adil di sisi sultan atau pemimpin yang zalim (H.R. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 4/124)

Adapun terkait dengan bagaimana cara menasihati, apakah dengan diam-diam atau terang-terangan, masuk dalam kategori wasail atau strategi dakwah yang sifatnya ta’aquli dengan pertimbangan kemaslahatan, situasi dan kondisi, serta efektifitas sehingga tujuan dakwah dapat tercapai. Dalam istilah orang sunda “laukna benang caina herang”. Adapun hadis secara sarih mengkhususkan larangan menasihati secara terang-terangan dan sebaliknya wajib secara sembunyi-sembunyi, yaitu Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda

” مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلا يُبْدِهِ عَلانِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُوا بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ ”

“Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa maka jangan ia tampakkan terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri dengannya. Jika dengan itu, ia menerima (nasihat) darinya maka itulah (yang diinginkan, red.) dan jika tidak menerima maka ia (yang menasihati) telah melaksanakan kewajibannya.” (H.R. Ibn Abi Ashim, as-Sunnah, 907)

Dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syuraih bin Ubaid, walapun tsiqat, namun tidak mendengar langsung dari sahabat Iyad bin Ghanam yang mriwayatkan hadis tersebut, sebagaimana ditegaskan oleh al-Haitsami  (Majma’ az-Zawaid, 5/277) sehingga sanadnya terputus. Adapun hadis-hadis lain yang semakna tidak dapat menguatkan satu sama lain, karena kedhoifannya dan bertentangan dengan periwayatan asal yang ada dalam sahih Muslim.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here