Beranda Uncategorized METODE SYARAH HADITS TAQRIRI

METODE SYARAH HADITS TAQRIRI

7956
0

Bab ini membahas tentang problematika pemahaman hadits taqriri, kehujahannya, kriterianya, tingkatannya, dilalahnya dan metode syarahnya.

  1. Pengertian Taqrir Rasulullah Saw

Istilah “taqrir” berasal dari kata “qarra, aqarra, qarrara”. “Qarra, qarrar” berarti menetap di suatu tempat, diam, dan tenang. “Qurratu ain” berarti penyejuk mata hati. “Aqarra, iqrar” berarti menetapkan sesuatu pada suatu tempat. Ia juga bermakna mengakui dalam arti tidak menolak dan tidak mengingkari. “Qarrara, taqrir” semakna dengan “Aqarra, iqrar”, oleh karena itu, hadis taqriri berarti hadis yang berupa sikap Rasulullah Saw. membiarkan atau menyetujui tindakan yang dilakukan oleh para sahabat, baik yang beliau saksikan secara langsung maupun yang dilaporkan kepada beliau. Namun, pengertian hadis taqriri tidak terbatas pada hadis yang berisi tentang persetujuan Rasulullah Saw, melainkan juga yang berisi tentang pengingkaran beliau, baik hanya dengan menampakkan kekecewaan maupun disertai dengan teguran.

  • Ciri Hadits Taqriri
  1. Pada awal matan suatu hadis berupa pernyataan sahabat, “Kunna naf ‘alu kadza alâ ahdi Rasiulillah Saw.” (Kami melakukan hal demikian pada zaman Rasulullah Saw.), yaitu pengakuan sahabat pernah melakukan suatu perbuatan yang masyhur pada zaman Rasulullah Saw., seperti pernyataan Abdullah bin Umar pada riwayat berikut,

1880 – حَدَّثَنَا أَبُو السَّائِبِ سَلْمُ بْنُ جُنَادَةَ الكُوفِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَمْشِي، وَنَشْرَبُ وَنَحْنُ قِيَامٌ.

Dari Ibn Umar. ia berkata, Pada zaman Rasulullah Saw. kami makan sambil berjalan dan minum sambil berdiri. [1]

Hadis tersebut menunjukkan bahwa makan sambil berjalan dan minum sambil bediri merupakan hal yang biasa dilakukan para sahabat ketika Rasulullah Saw, masih hidup, sedangkan Rasulullah saw, tidak mengingkarinya. [2]

  • Ciri hadis taqriri yang lain adalah bahwa matan hadis yang bersangkutan diawali dengan cerita tentang perbuatan sahabat dan disaksikan atau diketahui oleh Rasulullah Saw., baik langsung maupun tidak langsung, lalu Rasulullah Saw. memujinya, diam, atau mengingkarinya.

Di antara contoh persetujuan Rasulullah Saw terhadap tindakan yang beliau saksikan secara langsung adalah ketika Ummu Hafidah -bibi Ibnu Abbas- menghadiahkan bubur gandum, mentega, dan daging biawak kepada Rasulullah saw. Maka Rasulullah Saw, memakan bubur gandum dan mentega, dan tidak memakan daging biawak. Namun ketika para sahabat berniat memakan daging biawak itu, beliau tidak melarang, melainkan membiarkan mereka memakannya dengan perkakas yang ada di rumah beliau. (HR Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya). [3]

Hadits lain disebutkan dengan redaksi sebagai berikut,

5391 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ أَبُو الحَسَنِ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو أُمَامَةَ بْنُ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ الأَنْصَارِيُّ، أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ، أَخْبَرَهُ أَنَّ خَالِدَ بْنَ الوَلِيدِ، الَّذِي يُقَالُ لَهُ سَيْفُ اللَّهِ، أَخْبَرَهُ أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مَيْمُونَةَ، وَهِيَ خَالَتُهُ وَخَالَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ، فَوَجَدَ عِنْدَهَا ضَبًّا مَحْنُوذًا، قَدْ قَدِمَتْ بِهِ أُخْتُهَا حُفَيْدَةُ بِنْتُ الحَارِثِ مِنْ نَجْدٍ، فَقَدَّمَتِ الضَّبَّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ قَلَّمَا يُقَدِّمُ يَدَهُ لِطَعَامٍ حَتَّى يُحَدَّثَ بِهِ وَيُسَمَّى لَهُ، فَأَهْوَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ إِلَى الضَّبِّ، فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنَ النِّسْوَةِ الحُضُورِ: أَخْبِرْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا قَدَّمْتُنَّ لَهُ، هُوَ الضَّبُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ عَنِ الضَّبِّ، فَقَالَ خَالِدُ بْنُ الوَلِيدِ: أَحَرَامٌ الضَّبُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «لاَ، وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي، فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ» قَالَ خَالِدٌ: فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيَّ

Bahwa Ibnu Abbas telah mengabarkan kepadanya bahwa Khalid bin Al Khalid yang juga dijuluki sebagai Saifullah telah mengabarkan kepadanya; Bahwa ia dan Rasulullah Saw pernah menemui bibinya yaitu Maimunah yang juga bibi daripada Ibnu Abbas. kemudian ia mendapati biawak yang telah terpanggang yang dibawa oleh saudara bibinya yakni, Hudzaifah bintu Al Harits dari Najed. Maka Maimunah pun menyuguhkan Biawak itu kepada Rasulullah Saw. Jarang sekali beliau memajukan tangannya untuk mengambil makanan hingga beliau dipersilahkan bahwa makanan itu untuk beliau. Saat itu, Rasulullah Saw menggerakkan tangannya ke arah biawak, lalu seorang wanita yang hadir di situ berkata dan memberitahukan kepada beliau tentang makanan yang telah disuguhkan, “Itu adalah Biawak ya Rasulullah?” Maka seketika itu, Rasulullah Saw segera menarik tangannya kembali dari daging Biawak sehingga Khalid bin Al Walid pun bertanya, “Apakah daging Biawak itu haram ya Rasulullah?” beliau menjawab: “Tidak, akan tetapi daging itu tidak terdapat di negeri kaumku, karena itu aku tidak memakannya.” Khalid berkata, “Lalu aku pun menarik dan memakannya. Sementara Rasulullah Saw melihat ke arahku.” [4]

        Jadi yang melatarbelakangi kemunculan hadits taqriri adalah dari perilaku sahabat Nabi. Artinya, sebenarnya suatu sunnah atau materi hadis itu tidak bersumber dari Nabi, melainkan dari para sahabat Nabi. Merekalah yang menginisiasi suatu perbuatan atau perilaku. Merekalah yang berinovasi. Lalu disampaikan kepada Nabi, dilihat, disaksikan, atau didengar oleh Nabi. Setelah itu, barulah Nabi meresponnya.

  • Posisi dan Kehujjahan Hadis Taqriri

Hadis taqriri memiliki urgensi tersendiri dalam kaitannyadengan misi “bayan” Rasulullah Saw., karena tidak semua materi ajaran Islam dapat dijelaskan secara lisan. Sebagian besar ajaran Islam memang memerlukan penjelasan secara lisan, sehingga sebagian besar hadis berupa hadis qawli. Sebaian lainnya memerlukan penjelasan berupa contoh tindakan Rasulullah saw. secara langsung. Namun masih ada materi lain yang tidak dapat diucapkan atau dilakukan oleh Rasulullah Saw melainkan para sahabat dibiarkan oleh Rasulullah Saw untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu. Lalu apabila beliau membiarkannya dan tidak mengingkarinya, maka hukumnya mubah (boleh). Sedangkan apabila beliau mengingkarinya atau menegur pelakunya dengan teguran keras, maka hal itu haram. Jadi posisi taqrir Rasulullah saw merupakan satu bentuk bimbingan dan pemantauan terhadap perilaku para sahabat.

dalam kondisi lain, perbuatan shahabat ini jika disetujui oleh Rasul dan adanya anjuran,maka hukumnya menjadi sunnah.

Rasulullah saw mengajarkan kepada mereka bagaimana menyikapi apa yang tidak beliau jelaskan, sebagaimana dalam riwayat berikut,

7288 – حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «دَعُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ، إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ»

Rasulullah Saw bersabda, “Biarkanlah apa yang aku tinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya umat sebelum kalian celaka karena mereka (banyak) bertanya kepada nabi mereka, lalu mereka menyalahinva. Oleh karena itu, apabila aku melarangmu melakukan sesuatu, maka Jauhilah dia. Dan apabila aku memerintahkan kepadamu untuk melakukan sesuatu, maka lakukanlah sesuatu itu sebatas kemampuammu.” [5]

Hadits ini memberikan dilalah:

  1. Para sahabat diberikan kebebasan berbuat sehingga rasul melarang dalam urusan keduniaan, dan memerintahkan dalam urusan ibadah
  2. Jika Rasul mengetahui perbuatan sahabat nemun beliau membiarkannya, maka hukum sesuatu itu mubah/boleh
  3. Komentar Rasul dari perbuatan sahabat menjadi hukum pokok dan hujjah dalam syari’at. Hal ini sebagaimana Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan adanya kesepakatan (ijma) atas kehujjahan hadits taqriri. [6]

Dasar hukum kehujjahan hadis taqriri selain hadis di atas adalah firman Allah Swt.

اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْإِنْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْ أُنْزِلَ مَعَهٗۙ أُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Qs. Al-A’raf : 157)

Mafhum ayat di atas menunjukkan bahwa diantara missi Rasul adalah Amar Ma’ruf Nahyi Munkar, maka setiap perbuatan sahabat yang menyimpang, dan Rasul mengetahhuinnya, pasti akan beliau luruskan. Karna itu Rasulullah Saw. sendiri menegaskan keharusan setiap orang untuk mengadakan perubahan terhadap kemungkaran yang dilihatnya,

78 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ كِلَاهُمَا، عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ – وَهَذَا حَدِيثُ أَبِي بَكْرٍ – قَالَ: أَوَّلُ مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ قَبْلَ الصَّلَاةِ مَرْوَانُ. فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ، فَقَالَ: الصَّلَاةُ قَبْلَ الْخُطْبَةِ، فَقَالَ: قَدْ تُرِكَ مَا هُنَالِكَ، فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ: أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Dari Abu Sa id A-Khudri bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Barangsiapa melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Lalu jika ia tidak mampu, maka dengan lisan (ucapan)-nya. Lalu jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang demikian adalah selemah-lemahnya iman (HR Muslim, Ahmad, dan empat penyusun kitab sunan) [7]

  • Kriteria Hadis Taqriri

Tidak semua tindakan sahabat yang didiamkan Rasul disebut Hadits Taqriri yang bisa dijadikan hujjah. Ada syarat tindakan rasul sehingga disebut hadits taqriri, yaitu:

  1. Rasulullah Saw. benar-benar menyaksikan atau mendengar suatu tindakan sahabat secara langsung atau mengandung indikasi bahwa beliau mengetahuinya, meskipun tidak secara langsung.
  2. Persetujuan itu dilakukan oleh Rasulullah Saw. secara ikhtiari (dengan suka rela), sementara beliau dapat mengingkarinya, karena apabila beliau membiarkan suatu tindakan karena terpaksa atau tidak disengaja maka tidak dapat dikatagorikan sebagai persetujuannya.
  3. Orang yang disetujui perbuatannya adalah orang Muslim, karena apabila Rasulullah Saw. membiarkan orang kafir melakukan suatu maksiat, maka sebenarnya bukan karena beliau menyetujuinya dan tidak menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan boleh melakukan maksiat tersebut.
  4. Tidak diketahui bahwa Rasulullah Saw. mengingkarinya sebelum dan sesudah taqrir itu diberikan. [8]
  • Tingkatan-tingkatan Taqrir

Ditinjau dari tingkat kekuatan persetujuannya, taqrir Rasulullah Saw, dapat diklasifikasikan menjadi enam, sebagai berikut,

  1. Taqrir yang disertai pujian atas orang yang melakukannya, seperti pujian. beliau terhadap kabilah Asy’ari yang sangat solider di antara mereka. Rasulullah Saw. bersabda,

2486 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ العَلاَءِ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ أُسَامَةَ، عَنْ بُرَيْدٍ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الأَشْعَرِيِّينَ إِذَا أَرْمَلُوا فِي الغَزْوِ، أَوْ قَلَّ طَعَامُ عِيَالِهِمْ بِالْمَدِينَةِ جَمَعُوا مَا كَانَ عِنْدَهُمْ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ اقْتَسَمُوهُ بَيْنَهُمْ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ بِالسَّوِيَّةِ، فَهُمْ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ»

Sesungguhnya kabilah Asy’ari ketika kehabisan perbekalan perang atau ketika makanan mereka di Madinah sangat sedikit, maka mereka mengumpulkan seluruh makanan yang mereka miliki di satu wadah, lalu mereka membaginya secara rata di antara mereka. Maka mereka termasuk kelompokku dan aku termasuk kelompok mereka.” (HR Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad). [9]

Beliau sangat menyetujui solidaritas mereka sehingga beliau mengidentifikasikan mereka sebagai kelompok beliau, dan demikian juga beliau sebagai kelompok mereka.

  • Beliau membantu atau mendukung tindakan yang bersangkutan, seperti beliau mendampingi Aisyah ketika menonton pertunjukan perang gulat orang-orang Sudan di masjid pada hari raya. (HR Al-Bukhari dan Muslim).
  • Beliau menghalalkan hasil (upah) dari suatu tindakan, seperti beliau meminta bagian dari hasil ruqyah (pengobatan dengan pembacaan ayat-ayat Al-Quran). Setelah sejumlah sahabat melakukan ruqyah, lalu mereka mendapatkan upah seekor anak domba, lalu mereka menghadap kepada Rasulullah saw. Maka beliau bersabda,

2276 – حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ أَبِي بِشْرٍ، عَنْ أَبِي المُتَوَكِّلِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: انْطَلَقَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا، حَتَّى نَزَلُوا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ العَرَبِ، فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ، فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الحَيِّ، فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ شَيْءٌ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلاَءِ الرَّهْطَ الَّذِينَ نَزَلُوا، لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَيْءٌ، فَأَتَوْهُمْ، فَقَالُوا: يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ، وَسَعَيْنَا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ، فَهَلْ عِنْدَ أَحَدٍ [ص:93] مِنْكُمْ مِنْ شَيْءٍ؟ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: نَعَمْ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْقِي، وَلَكِنْ وَاللَّهِ لَقَدِ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُونَا، فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا، فَصَالَحُوهُمْ عَلَى قَطِيعٍ مِنَ الغَنَمِ، فَانْطَلَقَ يَتْفِلُ عَلَيْهِ، وَيَقْرَأُ: الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ، فَانْطَلَقَ يَمْشِي وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ، قَالَ: فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمُ الَّذِي صَالَحُوهُمْ عَلَيْهِ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: اقْسِمُوا، فَقَالَ الَّذِي رَقَى: لاَ تَفْعَلُوا حَتَّى نَأْتِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِي كَانَ، فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرُنَا، فَقَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرُوا لَهُ، فَقَالَ: «وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ»، ثُمَّ قَالَ: «قَدْ أَصَبْتُمْ، اقْسِمُوا، وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ سَهْمًا» فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: وَقَالَ شُعْبَةُ: حَدَّثَنَا أَبُو بِشْرٍ، سَمِعْتُ أَبَا المُتَوَكِّلِ، بِهَذَا

Ketahuilah bahwa yang demikian itu ruqyah Kemudian beliau bersabda, Kalian telah melakukan sesuatu yang benar, maka bagilah di antara kalian dan berikanlah kepadaku sebagian darinya bersama kalian. [10]

  • Rasulullah Saw. diam disertai roman yang ramah dan menunjukkan persetujuan seperti tindakan dan pernyataan Abdullah bin Mughaffal yang memperoleh satu ember lemak padat dalam penyerbuan ke Khaibar, setelah dengan cekatan meraihnya ia berkata tidak akan memberikan sedikit pun kepada seseorang. Ketika melihat tindakannya dan mendengar ucapan tersebut Rasulullah Saw. diam dan tersenyum. (HR Muslim, Abu Dawud, Al-Nasa’i, dan Ahmad)
  • Rasulullah Saw. diam tanpa menunjukkan persetujuan maupun kebencian, seperti beliau membiarkan Abu Thalhah memungut dan mengumpulkan rambut beliau. Lalu dalam kesempatan lain setiap beliau bercukur beliau membiarkan para sahabat mengitari beliau sehingga setiap helai rambut yang terpotong akan jatuh ke tangan mereka. (HR Al-Bukhari dan Ahmad)
  • Rasulullah Saw. membiarkan suatu tindakan disertai dengan sikap kecewa dan cemas atau sikap lain yang menunjukkan bahwa beliau tidak senang. Sikap beliau yang demikian diperselisihkan oleh para ulama, apakah termasuk persetujuan ataukah termasuk inkar. Al-Subuki berpendapat bahwa diamnya Rasulullah saw. membiarkan suatu tindakan menunjukkan bahwa tindakan tersebut boleh, meskipun beliau tidak menunjukkan sikap senang terhadapnya.[11] Contoh kasus terakhir ada beliau membiarkan para sahabat memakan biawak, padahal beliau tidak ikut memakannya dan menunjukkan bahwa beliau jijik terhadapnya.

Di antara contoh keingkaran Rasulullah Saw. terhadap perbuatan para sahabat adalah kebencian yang tampak pada beliau ketika Ali bin Abi Thalib mengenakan kain sutera yang beliau berikan kepadanya. Maka tatkala Ali memahami kebencian tersebut, ia lalu menyobek kain tersebut menjadi dua untuk kerudung istrinya dan wanita lain dari keluarganya. (HR Al-Bukhari dan Ahmad). Setelah itu Rasulullah Saw. banyak mengemukakan keharaman sutera bagi laki-laki.

  • Dilalah Hadis Taqriri

Telah dikemukakan bahwa dilalah tidak hanya diambil dari hadis qouli, melainkan juga dari hadis fi ‘li dan hadis taqriri, karena semuanya melambangkan maksud yang searah dengan misi kerasulan Muhammad saw.

Perlu diketahui bahwa sikap Rasulullah saw. itu perlu dipahami secara kontekstual guna pengambilan dilalah yang relevan. Seperti dalam kasus Abdullah bin Mughaffal yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, Al-Nasa’i, dan Ahmad di atas terkandung petunjuk boleh “menjarah” harta milik orang-orang Yahudi dan memperbudak mereka yang tertangkap dan tertawan ketika umat Islam berhasil menundukkan mereka dalam perang. Hingga Rasulullah saw. wafat ketentuan perang dan segala akibatnya membenarkan adanya perbudakan dan perampasan harta milik musuh yang kalah dalam perang. Namun, apakah ketentuan tersebut masih berlaku hingga sekarang?

Ketika Umar bin al-Khaththab menjadi khalifah ia berhasil menaklukkan banyak negara besar, termasuk negara-negara wilayah Byzantium dan Persia. Tapi ia tidak lagi merampas seluruh kekayaan negara-negara yang bersangkutan dan tidak pula mengusir atau menawan tentara dan rakyatnya sebagai tawanan dan dijadikan budak, melainkan menjadikannya sebagai negara bagian di wilayah kekuasaannya. Selain itu hukum Internasional dan HAM Internasional tidak lagi menerima ketentuan tersebut. Maka petunjuk hadis Abdullah bin Mughaffal itu tidak lagi berlaku untuk Saat ini.

  • Metoda Syarah Hadis Taqriri

Sebagaimana halnya hadis qouli dan hadis fi’li, seluruh hadis taqriri kini telah dikodifikasikan, maka langkah syarah terhadapnya yang pertama adalah melakukan takhrij terhadap hadis yang bersangkutan, yaitu menghimpun seluruh riwayat hadis tersebut, lalu menganalisis matannya dengan pendekatan ilmu-ilmu bahasa.

Mengingat hadis taqriri berisi tentang persetujuan atau pengingkaran Rasulullah Saw. terhadap perbuatan atau ucapan para sahabat, maka hadis taqriri termasuk katagori hadis fi’li. Tapi ditinjau dari materi tindakan yang menjadi rujukan hukum merupakan tindakan sahabat, maka dari sisi ini ia berbeda dari hadis fi’li. Oleh karena itu, dalam rangka memahami sikap Rasulullah Saw., secara umum metodologi syarat hadis fi’li dapat berlaku bagi syarah hadis taqriri. Hanya saja materi tindakan sahabat yang bersangkutan dijelaskan secara rinci, sehingga menjadi jelas batas-batas tindakan yang dibolehkan dan tindakan yang tidak dibolehkan Penjelasan dimaksud tentunya dengan memperhatikan berbagai faktor yang melingkupinya, seperti faktor tradisi para sahabat dan tradisi bangsa Arab waktu itu, faktor psikologis, faktor dampaknya bagi perkembangan moral dan hukum, dan sebagainya. Karena hakikatnya suatu tindakan tidak pernah lepas dari rangkaian situasi yang melingkupinya. Apabila faktor-faktor tersebut telah diketahui, maka konteks sikap Rasulullah saw. dengan tindakan tersebut tidak sulit dipahami dan kesimpulannya juga mudah diambil. Tinggal selanjutnya merumuskan konteks kekinian dan kedisiniannya.

Berikut ini adalah salah satu contoh hadis taqriri riwayat Al-Bukhari disertai dengan syarahnya dari kitab Fath al-Bari,

2628 – حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الوَاحِدِ بْنُ أَيْمَنَ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، وَعَلَيْهَا دِرْعُ قِطْرٍ، ثَمَنُ خَمْسَةِ دَرَاهِمَ، فَقَالَتْ: «ارْفَعْ بَصَرَكَ إِلَى جَارِيَتِي انْظُرْ إِلَيْهَا، فَإِنَّهَا تُزْهَى أَنْ تَلْبَسَهُ فِي البَيْتِ، وَقَدْ كَانَ لِي مِنْهُنَّ دِرْعٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَا كَانَتِ امْرَأَةٌ تُقَيَّنُ بِالْمَدِينَةِ إِلَّا أَرْسَلَتْ إِلَيَّ تَسْتَعِيرُهُ»

Aiman (bin Ummu Aiman berkata, “Saya menghadap kepada Aisyah, saat itu beliau mengenakan gaun katun seharga lima dirham. Beliau berkata, Pandanglah wanita pelayanku itu, sesungguhnya dia bangga mengenakan gaun ini di rumah. Saya memiliki gaun yang tidak mereka miliki pada masa Rasulullah Saw. dan setiap wanita yang dirias (untuk acara perkawinan) di Madinah pasti meminjam gaun tersebut dariku. “ [12]

Hadis ini termasuk hadis taqriri, karena apa yang dilakukan Aisyah, yaitu meminjamkan (menyewakan) gaun pengantin itu terjadi pada zaman Rasulullah saw. dan hal itu berlangsung berulang-ulang, serta tidak ada riwayat tentang pengingkaran Rasulullah Saw. terhadapnya. Adapun syarah matan hadis ini dalam Fath al-Bari selengkapnya adalah sebagai berikut,

قوله : ( وعليها درع قطر ) الدرع قميص المرأة وهو مذكر قال الجوهري : ودرع الحديد مؤنثة وحكى أبو عبيدة أنه أيضا يذكر ويؤنث . والقطر بكسر القاف وسكون المهملة بعدها راء ، وفي رواية المستملي والسرخسي بضم القاف وآخره نون والقطر ثياب من غليظ القطن وغيره ، وقيل من القطن خاصة وحكى ابن قرقول أنه في رواية ابن السكن والقابسي بالفاء المكسورة آخره راء وهو ضرب من ثياب اليمن تعرف بالقطرية فيها حمرة ، قالالبناسي : والصواب بالقاف ، وقال الأزهري الثياب القطرية منسوبة إلى قطر قرية في البحرين فكسروا القاف للنسبة وخففوا.

قوله : ( ثمن خمسة دراهم(  بنصب ثمن بتقدير فعل . وخمسة بالخفض على الإضافة أو برفع الثمن وخمسة على حذف الضمير ، والتقدير ثمنه خمسة وروي بضم أوله وتشديد الميم على لفظ الماضي ، ونصب خمسة على نزع الخافض أي قوم بخمسة دراهم . ووقع في رواية ابن شبويه وحده ” خمسة الدراهم ” . 


قوله : ( إلى جاريتي ) لم أعرف اسمها . قوله : ( تزهى ) بضم أوله أي تأنف أو تتكبر ، يقال زهي يزهى إذا دخله الزهو وهو الكبر ، ومنه ما أزهاه ، وهو من الحروف التي جاءت بلفظ البناء للمفعول وإن كانت بمعنى الفاعل مثل عني بالأمر ونتجت الناقة . قلت : ورأيته في رواية أبي ذر ” تزهى ” بفتح أوله ، وقد حكاها ابن دريد وقالالأصمعي : لا يقال بالفتح . 


قوله : ( تقين ) بالقاف أي تزين ، من قان الشيء قيانة أي أصلحه ، والقينة تقال للماشطة وللمغنية وللأمة مطلقا . وحكى ابن التين أنه روي ، ” تفين ” بالفاء أي تعرض وتجلى على زوجها . قلت : ولم يضبط ما بعد الفاء ، ورأيته بخط بعض الحفاظ بمثناة فوقانية ، قال ابن الجوزي : أرادت عائشة – رضي الله عنها – أنهم كانوا أولا في حال ضيق ، وكان الشيء المحتقر عندهم إذ ذاك عظيم القدر . وفي الحديث أن عارية الثياب للعروس أمر معمول به مرغب فيه وأنه لا يعد من الشنع . وفيه تواضع عائشة ، وأمرها في ذلك مشهور . وفيه حلم عائشة عن خدمها ، ورفقها في المعاتبة ، وإيثارها بما عندها مع الحاجة إليه ، وتواضعها بأخذها السلفة في حال اليسار مع ما كان مشهورا عنها من الجود رضي الله عنها[13]

Terjemah syarah:

Kata-kata ( وعليها درع قطر ) “dar” adalah gamis untuk perempuan. Namun dalam kajian ilmu nahwu ia merupakan kata mudzakkar. Al-Jauhari menyatakan bahwa ketika di-idhafah-kan kepada al hadid, menjadi dar al-hadid, maka kata “dar” menjadi kata mu’annats. Abu Ubaidah menyatakan bahwa kata “dar” dapat diperlakukan sebagai kata mudzkkar dan kata mu’ annats. Kata “al-qithr” dalam riwayat al-Mustamli dan al-Sarkhasi dibaca “al-quthn” (dari katun). “Al-qithr” adalah kain katun atau bahan lain yang tebal. Satu pendapat menyatakan bahwa “al qithr” adalah kain tebal dari katun saja. Ibnu Qurqul menjelaskan bahwa dalam riwayat Ibn al-Saka dan Al-Qabisi “al-fithr”, sejenis kain Yaman yang dikenal dengan istilah “qithriyyah”, karena padanya terdapat warna merah. Al-Bannasi menyatakan bahwa yang benar adalah dengan “qaf” yaitu “al-qithr”. Al-Azhari menyatakan bahwa istilah “al tsiyab al-qithriyyah” adalah pakaian yang dinisbatkan kepada “al qithr”, suatu kota di Bahrain, maka ia dibaca kasrah qaf-nya tanpa ada tasydid.

Kata-kata  ثمن خمسة دراهمkata “tsaman” dibaca nashab, yaitu tsamana, dengan memperkirakan kehadiran satu kata kerja, sementara itu kata “khamsat” dibaca khafah, yaitu khamsati, karena idhafah. Atau kedua-duanya dibaca rafa dengan membuang dhamir, dan aslinya adalah tsamanuhu khamsatu. Dalam satu riwayat dibaca tsummina khamsata (dihargai lima dirham). Dalam riwayat Ibnu Syibawaih (semata) dibaca khamsatu al-daráhim.

Kata-kata  ( إلى جاريتي ) tidak diketahui namanya.

Kata-kata ( تزهى ) ; dibaca dhummah awalnya, yakni tuz-há, yaitu membanggakan diri atau sombong. Dikatakan “zuhiya, yuz ha” ketika seseorang dirasuki rasa bangga. Kalimat “Ma az-hahu” (alangkah sombongnya) dibentuk dari kata yang sama. Lafal ini selalu dalam bentuk bina li al maf ul (pasif), namun bermakna bina li al-fa ‘il (aktif) seperti halnya lafal “uniya bi al-amr” (ia punya perhatian besar terhadap urusan itu) dan “nutijat al-naqah” (onta itu telah lahir). Saya (Ibnu Hajar) melihat dalam riwayat Abu Dzarr kata ini dibaca taz-ha, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Duraid. Al-Ashmu’i menyatakan bahwa kata ini tidak dapat dibaca fathah.

Kata-kata ( تقين ) artinya dihias. Kata ini diambil dari “qoona al-syay’a” seseorang memperbaiki sesuatu). Sebutan qoyyinah diberikan kepada tukang rias, penyanyi wanita, dan amat secara mutlak. Ibnu al-Tin membaca tufayyanu, artinya wanita itu ditunjukkan dan diperlihatkan kepada suaminya. Saya (Ibnu Hajar) menyatakan, “huruf setelah fa’ tidak diberi tanda dengan jelas namun saya lihat tulisan para hafizh diberi tanda dua titik di atas, Ibnu al-Jauzi menyatakan, “Dengan ungkapan itu Aisyah bermaksud menjelaskan bahwa semula mereka dalam kesempitan, sehingga sesuatu yang hina bagi mereka sangat berharga.

Rangkaian kisah dalam hadis ini sangat sederhana, sehingga tidak memerlukan penjelasan lagi, dan tinggal mengambil kesimpulan dari petunjuk hadis. Untuk itu Ibnu Hajar menuliskan pada lima baris terakhir, “Petunjuk hadis ini adalah bahwa menyewakan gaun pengantin merupakan hal yang boleh dilakukan dan dipandang baik…..”

Itu semua merupakan kisah Aisyah yang menggambarkan sejumlah kelebihannya. Dalam syarah tersebut tidak dikemukakan sikap Rasulullah Saw. sehubungan dengan tindakan Aisyah itu. Akan tetapi sehubungan dengan fiqh hadits-nya dinyatakan bahwa menyewakan gaun pengantin merupakan hal yang boleh dilakukan. Pernyataan “ala ahdi Rasulillah saw.” menunjukkan bahwa beliau mengetahui dan tidak melarangnya.

KESIMPULAN

Hadits taqriri merupakan Respon Nabi terhadap inisiatif dan inovasi sahabat Nabi, hukumnya ada 2:

  1. Adakalanya berupa penolakan yang berarti ketidaksetujuan nabi terhadap inovasi dan inisiatif Nabi.
  2. Adakalanya berupa persetujuan.
  3. Adakalanya yang disampaikan secara gamblang, luagas,
  4. Adakalanya hanya diekspresikan dengan diam, no comment. Semua jenis respon Nabi tersebut.

itulah yang dinamakan dengan sunnah taqririyah. Laporan tentang sunnah taqririyyah disebut dengan hadis taqriri.

Para sahabat diberikan kebebasan dalam bertindak, baik bertindak dalam urusan mu’amalah maupun ibadah. Hal ini dikarenakan masih adanya Rasul sebagai sumber bayan hukum, dimana syariat pada waktu itu belum bisa hanya diucapkan atau dipraktekan rasul, maka perbuatan sahabat itulah yang akan menopak turunnya hukum dengan latar beakang asbabul wurud, yang selanjutnya akan menjadi hujjah syar’iyyah, dengan kriteria,

  1. Jika masalah urusan muamalah (keduniaan) selama rasul tidak melarang, maka hukumnya boleh, sehingga ada dalil yang melarangnya
  2. Jika masalah urusan ibadah, lantas rasul mendiamkannya atau menganjurkannya,
  3. Perbuatan ibadah itu mejadi sunnah rasul taqriiriyyah
  4. Perbuatan ibadah itu menjadi terlarang, jika rasul menegurnya atau membantahnya.

Jadi, pada hakikatnya hukum itu tetap bersumber pada rasul, buka pada sahabat atau pada manusia lainnya. Perbuatan sahabat belum menjadi hukum sebelum ada komentar dari Rasulullaah Saw.

  • Bacaan Yang Dianjurkan
  • Abu Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yusuf Al-syairazi Al-Fairuzabadi Al-Syafi’i, Al-Luma fi Ushiil al-Figh, syirkah Maktabah wa Mathba’ah Ahmad bin Sa’d bin Nabhan wa Auladuhu, Surabaya, t.t
  • Muhammad Sulaiman Al-Asyqar, Af al ‘al-Rasul Saw. wa Dilâlatuha ala al-Ahkam al-Syar iyah, Mu’assasah Al-Risalah, Beirut, 1991

________
Robi Permana (Abu Quthbie)


[1] Sunan At-Tirmidzi no. 1880

[2] Adapun pengakuan seorang sahabat telah melakukan sesuatu namun tidak ada indikasi bahwa Rasulullah saw. menyaksikan atau mengetahuinya, maka hal itu tidak termasuk hadis taqriri.

[3] Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih hari (Tahqiq Mushthafa al Bugha), Dar Ibn Katsir, Beirut, I407 H1987 H, No. 2436.

[4] Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih hari (Tahqiq Mushthafa al Bugha), Dar Ibn Katsir, Beirut, I407 H1987 H, No. 5391

[5] Muttafaq ‘Alaih, Lafazh dari Shahih Al-Bukhari no. 7288

[6] Al-Asqalani, Fath al-Bari, III: 323

[7] Muslim bn Al-Hajjaj Al-Qusyairy, Shahih Muslim I no. 78

[8] Muhammad Sulaiman Al-Asyqar mengemukakan tiga syarat lain, yaitu (1) tidak semakin jelek bila diingkari perbuatannya, (2) Pelakunya seorang mukallaf (syarat ini diperselisihkan), dan (3) tidak ada faktor yang menghalangi Rasulullah saw. mengingkarinya.

[9] Muhammad bin Ismail, Shahih Bukhari, II no. 2486

[10] Muhammad bin Ismail, Shahih Bukhari, II no. 2276

[11] As-Subki, Jam’ Al-Jawami, II:95

[12] Shahih Al-Bukhari no. 2628

[13] Dikutip dari maktabah pustaka digital tholibul ‘ilmi versi terbaru 3.64 edisi tahun 2017_Syamela Kubro 61GB juz V/242 tahun 2017