Beranda Munakahat Mewakilkan Ijab dan Qabul

Mewakilkan Ijab dan Qabul

717
0
  1. Saya melihat terkadang praktik akad pernikahan ada yang diwakilkan wali ataupun pengantinnya, apakah ada dalil dan sah pernikahannya ?

Jawab :

Pernikahan merupakan salah satu ibadah dalam Islam. Rukun akad pernikahan terdiri dari kedua mempelai, wali, dua orang saksi dan ijab qabul. Jika rukun tersebut tidak terpenuhi maka batal pernikahannya atau tidak sah. Pertanyaan yang muncul, bagaimana jika salah satu yang terlibat dalam akad pernikahan mewakilkan, misalnya wali atau mempelai kepada yang lain. Pernikahan dengan cara salah satu mempelai mewakilkan kepada yang lain telah terjadi zaman Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam. Dalilnya sebagai berikut :

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِرَجُلٍ أَتَرْضَى أَنْ أُزَوِّجَكَ فُلَانَةَ قَالَ نَعَمْ وَقَالَ لِلْمَرْأَةِ أَتَرْضَيْنَ أَنْ أُزَوِّجَكِ فُلَانًا قَالَتْ نَعَمْ فَزَوَّجَ أَحَدَهُمَا صَاحِبَهُ فَدَخَلَ بِهَا الرَّجُلُ وَلَمْ يَفْرِضْ لَهَا صَدَاقًا وَلَمْ يُعْطِهَا شَيْئًا وَكَانَ مِمَّنْ شَهِدَ الْحُدَيْبِيَةَ وَكَانَ مَنْ شَهِدَ الْحُدَيْبِيَةَ لَهُ سَهْمٌ بِخَيْبَرَ فَلَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَوَّجَنِي فُلَانَةَ وَلَمْ أَفْرِضْ لَهَا صَدَاقًا وَلَمْ أُعْطِهَا شَيْئًا وَإِنِّي أُشْهِدُكُمْ أَنِّي أَعْطَيْتُهَا مِنْ صَدَاقِهَا سَهْمِي بِخَيْبَرَ فَأَخَذَتْ سَهْمًا فَبَاعَتْهُ بِمِائَةِ أَلْف

dari ‘Uqbah bin ‘Amir, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada seorang laki-laki: “Apakah engkau rela aku nikahkah engkau dengan Fulanah?” Ia berkata; Iya. Beliau berkata kepada wanita tersebut: “Apakah engkau rela aku nikahkan engkau dengan Fulan?” Wanita tersebut berkata; Iya. Kemudian beliau menikahkan si perempuan dengan wakil seorang sahabat laki-laki yang bersedia menikah. Kemudian laki-laki tersebut bercampur dengannya (menggaulinya) dalam keadaan belum menentukan mahar dan belum memberikan sesuatupun kepadanya. Ia termasuk orang-orang yang menyaksikan perdamaian Al Hudaibiyah, orang yang menghadiri perdamaian Al Hudaibiyah, dan memiliki saham di Khaibar. Kemudian tatkala kematian menjemputnya ia berkata; sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menikahkanku dengan Fulanah dan aku belum menentukan mahar untuknya dan belum memberikan sesuatupun kepadanya, dan aku meminta persaksian kalian bahwa aku telah memberikan kepadanya sahamku di Khaibar sebagai mahar. Kemudian wanita tersebut mengambil saham tersebut dan menjualnya seratus ribu. HSR Abu Dawud no 1808

Wajhul istidlal atau kalimat pokok dan kuncinya adalah

فَزَوَّجَ أَحَدَهُمَا صَاحِبَه

“Maka Rasulullah Saw menikahkan salah satu dari keduanya (catin perempuan) kepada sahabat catin laki-laki (sebagai wakil)”

Disamping itu, Imam As-Syaukani dalam kitab Nail al-Authar menyimpan hadis tersebut dalam Bab

باب ما جاء في الزوجين يوكلان واحدا في العقد

“Bab tentang catin mewakilkan salah seorang dalam akad pernikahan”

Hadis diatas menjadi dalil bolehnya catin laki-laki atau yang berakad mewakilkan kepada seseorang dalam akad pernikahan, begitu juga secara mafhum muwafaqahnya termasuk mewakilkan wali didalamnya. Syarat penerima wakalah adalah muslim, aqil balig, amanah, ddisertai bukti tertulis dan saksi.