Beranda Munakahat Pasangan Muallaf Harus Mengulang Pernikahannya?

Pasangan Muallaf Harus Mengulang Pernikahannya?

484
0

Pertanyaan:

Jika ada pasangan suami istri yang beragama nasrani kemudian suatu saat mereka memutuskan menjadi muslim. Apakah pernikahannya perlu diulangi dengan tata cara Islam?

Jawaban:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ غَيْلَانَ بْنَ سَلَمَةَ الثَّقَفِيَّ أَسْلَمَ وَلَهُ عَشْرُ نِسْوَةٍ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَأَسْلَمْنَ مَعَهُ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَتَخَيَّرَ أَرْبَعًا مِنْهُنَّ

“Dari Ibnu Umar bahwa Ghailan bin Salamah Ats Tsaqafi masuk Islam sedang dia saat itu memiliki sepuluh orang istri dari masa Jahiliyah. Mereka semuanya masuk Islam juga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya agar memilih empat dari mereka.”
(HR. Tirmidzi 1128)

Dalam hadits ini, Nabi saw tidak menyuruh Kembali memperbaharui akad nikah kepada Ghailan, beliau hanya menyuruh memilih 4 dari istrinya karena 4 itulah batas maksimal poligami yang dilegalkan dalam Islam.

Demikian pula para sahabat yang lain, mereka rata-rata masuk islam telah menikah dimasa jahiliyahnya, tidak didapati satupun keterangan Nabi saw menyuruh pembaruan akad nikah mereka. Secara tauqifi, ini menjadi dalil bahwa suami istri yang masuk Islam, akad nikah mereka dimasa sebelum islam otomatis terakui seiring keislaman mereka.

Ibnu Abdil Barr berkata:

فَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ أَنَّ الزَّوْجَيْنِ إِذَا أَسْلَمَا مَعًا فِي حَالٍ وَاحِدَةٍ أَنَّ لَهُمَا الْمُقَامَ عَلَى نِكَاحِهِمَا إِلَّا أَنْ يَكُونَ بَيْنَهُمَا نَسَبٌ أَوْ رَضَاعٌ يُوجِبُ التَّحْرِيمَ وَأَنَّ كُلَّ مَنْ كَانَ لَهُ الْعَقْدُ عَلَيْهَا فِي الشِّرْكِ كَانَ لَهُ الْمُقَامُ مَعَهَا إِذَا أَسْلَمَا مَعًا وَأَصْلُ الْعَقْدِ مَعْفِيٌّ عَنْهُ لِأَنَّ عَامَّةِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوا كُفَّارًا فَأَسْلَمُوا بَعْدَ التَّزْوِيجِ وَأُقِرُّوا عَلَى النِّكَاحِ الْأَوَّلِ وَلَمْ يُعْتَبَرْ فِي أَصْلِ نِكَاحِهِمْ شُرُوطُ الْإِسْلَامِ وَهَذَا إِجْمَاعٌ وَتَوْقِيفٌ (التمهيد لما في الموطأ من المعاني والأسانيد (12/ 23

“Sungguh bersepakat para ulama bahwa suami istri jika masuk Islam bersamaan dalam satu kondisi, bahwa status pernikahan mereka diakui kecuali jika antara mereka ada hubungan nasab, sesusu yang memestikan pengharaman. Dan bahwa bagi setiap yang sudah memiliki akad semasa kemusyrikan, akad itu diakui bersamanya ketika mereka masuk islam. Dasar akadnya ditolelir karena keumuman sahabat Rasulillah saw, mereka dari kalangan kafir lalu masuk Islam dalam keadaan sudah menikah serta mereka pun diakui atas pernikahan terdahulu dan tidak dinilai pada pernikahan tersebut syarat keislaman. Ini adalah ijma’ dan tauqif.” (at Tamhid 12/23)

Ibnul Qayyim berkata:

أن الزوجين إذا أسلما معا فهما على نكاحهما، ولا يسأل عن كيفية وقوعه قبل الإسلام، هل وقع صحيحا أم لا؟ ما لم يكن المبطل قائما، كما إذا أسلما وقد نكحها وهي في عدة من غيره، أو تحريما مجمعا عليه، أو مؤبدا، كما إذا كانت محرما له بنسب أو رضاع، أو كانت مما لا يجوز له الجمع بينها وبين من معه كالأختين والخمس وما فوقهن (زاد المعاد في هدي خير العباد (5/ 123

“Bahwa suami isteri jika masuk islam bersamaan, maka mereka tetap atas pernikahan mereka, tidak ditanya cara nikahnya sebelum islam, apakah benar atau salah? Selama tidak ada yang membatalkan, seperti jika mereka masuk Islam dan si suami menikahi istrinya dimasa iddah orang lain, atau ada pengharaman yang disepakati atau dikuatkan, seperti jika istrinya mahram karena senasab, sesusu, atau termasuk diantara yang tidak boleh dipoligami seperti dua bersaudara dan sejumlah lima isteri atau lebih.” (Zaadul Ma’ad 5/123)

Ibnu Qudamah berkata:

أَنْكِحَةُ الْكُفَّارِ صَحِيحَةٌ، يُقَرُّونَ عَلَيْهَا إذَا أَسْلَمُوا أَوْ تَحَاكَمُوا إلَيْنَا، إذَا كَانَتْ الْمَرْأَةُ مِمَّنْ يَجُوزُ ابْتِدَاءُ نِكَاحِهَا فِي الْحَالِ، وَلَا يُنْظَرُ إلَى صِفَةِ عَقْدِهِمْ وَكَيْفِيَّتِهِ، وَلَا يُعْتَبَرُ لَهُ شُرُوطُ أَنْكِحَةِ الْمُسْلِمِينَ، مِنْ الْوَلِيِّ، وَالشُّهُودِ، وَصِيغَةِ الْإِيجَابِ وَالْقَبُولِ، وَأَشْبَاهِ ذَلِكَ. بِلَا خِلَافٍ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ. (المغني لابن قدامة (7/ 151

“Pernikahan orang kafir adalah sah, mereka diakui atas pernikahan itu jika mereka masuk Islam, atau berhukum kepada kita jika ternyata keadaan istri termasuk diantara yang boleh dinikahi, tidak diteliti sifat akad mereka dan caranya. Dan tidak dinilai dengan syarat-syarat pernikahan kaum muslimin, baik berkenaan wali, saksi, shighat ijab qabul dan sebangsanya. Tanpa ada perselisihan dikalangan kaum Muslimin.” (al Mughni 7/151)

Wallahu ‘alam bis shawab.

Oleh : Ismail Hasyim Al-Fasiri