Beranda Saum Qadha’ Saum Sunat

Qadha’ Saum Sunat

778
0

Apakah boleh menggodo saum sunat?

Jawab :

Dalam kajian ushulfiqh, pembagian  hukum taklifi bagian wajib muaqqat atau kewajiban yang terbatas waktu pelaksanaannya, ditinjau dari pelaksanaan mukallaf/manusia dalam merealisasikan kewajiban tersebut terbagi menjadi tiga keadaan, yaitu al-ada’, al-i’adah dan al-qadha’. Pertama, Al-Adha’ yaitu melaksanakan kewajiban pada waktunya sesuai dengan yang ditentukan oleh syara’ misalnya melaksanakan salat subuh antara waktu terbit fajar sampai sebelum terbit matahari.

Kedua, al-I’adah adalah melaksanakan kewajiban untuk yang kedua kalinya pada waktu yang ditentukan oleh syara’ karena sebab tertentu, misalnya salat zuhur pada waktu zuhur di awal waktu tanpa berwudlu terlebih dahulu, kemudian salat kembali ketika waktu zuhur masih ada. Ketiga, al-Qadha’ ialah melaksanakan kewajiban diluar atau/setelah waktu yang ditentukan oleh syara’, misalnya melaksanakan salat subuh pada waktu dluha karena ketiduran.

Terkat dengan qodlo, karena termasuk dalam perkara ibadah, maka penetapannya mesti dengan dalil yang dapat diterima, baik aspek kekuatan dalil maupun dalalah. Karena itu para ulama membuat kaidah

الْقَضَاءُ بِأَمْرٍ جَدِيدٍ – البحر المحيط في أصول الفقه (3/ 337)

Qadha itu mesti ada perintah baru. (Al-Bahr Al-muhith fi Ushul Al-Fiqh, III : 337)

Artinya tidak semua kewajiban ada syariat qodlo, perkara yang dapat diqodlo hanyalah terbatas pada kewajiban yang didalamnya ada perintah untuk diqodlo. Adapun ketika tidak ada dalil maka, tidak ada qodlo. Contoh kasus saum ramadlan

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۚ

Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain (al-Baqarah : 184)

Ayat diatas menunjukan bahwa bagi yang sakit atau safar kemudian berbuka, maka wajib menggantinya pada hari lain diluar bulan ramadlan.

Kami belum menemukan dalil sahih dan sarih bahwa saum sunat dapat diqodlo, apabila diqiyaskan kepada saum ramadlan, maka qiyas tersebut batal atau fasid karena tidak ada qiyas dalam masalah ibadah. Sesuai dengan kaidah

لا قياس فى العبادات

Tidak ada qiyas dalam Ibadah

Kesimpulannya qodlo saum sunat tidak disyariatkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here