Beranda Fikih Salat Pada waktu Terlarang

Salat Pada waktu Terlarang

1511
0

Mohon Penjelasan terkait dengan larangan salat pada tiga waktu ?  Ikhwan

Salat adalah ibadah mahdah, sehingga semua kaifiyatnya harus sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Jika terpenuhi rukun dan syaratnya maka salatnya sah. Sebaliknya, jika tidak terpenuhi maka tidak sah. Terkait dengan waktu salat, ada beberapa hadis yang menerangkan dimana terlarang melaksanakan salat didalamnya

Pertama, larangan salat pada tiga waktu dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّىَ فِيهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ

“Ada tiga waktu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk shalat atau untuk menguburkan orang yang mati di antara kami yaitu: (1) ketika matahari terbit (menyembur) sampai meninggi, (2) ketika matahari di atas kepala hingga tergelincir ke barat, (3) ketika matahari  akan tenggelam hingga tenggelam sempurna.”  (HR. Muslim, Sahih Muslim, 2/208)

Kedua, Setelah salat Subuh dan salat Ashar berdsarkan hadis dari Abi Said al-Khudri

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا صَلَاةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ وَلَا صَلَاةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ

Aku mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Tidak ada shalat setelah shalat Shubuh sampai matahari meninggi dan tidak ada shalat setelah shalat ‘Ashar sampai matahari tenggelam.” (HR. Bukhari, sahih al-Bukhari,1/121)

Dari dua hadis diatas dapat ditarik kesimpulan waktu terlarang salat adalah sebagai berikut :

  1. Ketika terbit matahari
  2. Ketika matahari diatas di kepala sekitar lima menit sebelum waktu zuhur
  3. Ketika matahari terbenam atau lima menit sebelum waktu salat magrib
  4. Setelah  salat subuh sampai terbit matahari
  5. Setelah  salat ashar sampai terbenam matahari

Adapun yang menjadi asbab al wurud hadis keharaman salat pada waktu-waktu tersebut karena pada waktu tersebutlah  kaum musyrikin beribadah menyembah matahari

«صَلِّ صَلَاةَ الصُّبْحِ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ، ثُمَّ صَلِّ فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ حَتَّى يَسْتَقِلَّ الظِّلُّ بِالرُّمْحِ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلَاةِ، فَإِنَّ حِينَئِذٍ تُسْجَرُ جَهَنَّمُ، فَإِذَا أَقْبَلَ الْفَيْءُ فَصَلِّ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ حَتَّى تُصَلِّيَ الْعَصْرَ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلَاةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ»

“Kerjakanlah shalat subuh kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat ketika matahari terbit sampai tinggi karena matahari terbit di antara dua tanduk setan dan ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari. Kemudian shalatlah karena shalat itu disaksikan dihadiri (oleh para malaikat) hingga tombak tidak memiliki bayangan, kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat karena ketika itu neraka Jahannam dinyalakan/dibakar dengan nyala yang sangat. Apabila telah datang bayangan (yang jatuh ke arah timur/saat matahari zawal) shalatlah karena shalat itu disaksikan dihadiri (oleh para malaikat) hingga engkau mengerjakan shalat ashar (terus boleh mengerjakan shalat sampai selesai shalat ashar, pent.), kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat hingga matahari tenggelam karena matahari tenggelam di antara dua tanduk syaitan dan ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari.” (HR. Muslim, Shahih Muslim, 1/570)

Namun disisi yang lain terdapat hadis yang menjadi takhsis dari keumuman larangan salat pada waktu tersebut

Pertama hadis dari sahabat Abu Hurairah

مَنْ أَدْرَكَ مِنْ الصُّبْحِ رَكْعَةً قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ

siapa yang mendapatkan satu rakaat salat subuh sebelum terbit matahari, maka dia telah mendapatkan salat subuh, siapa yang mendapatkan satu rakaat dari salat ashar sebelum terbenam matahari, maka dia telah menunaikan salat ashar (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/120)

kedua, hadis dari sahabat Anas bin Malik

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ

 “siapa yang lupa satu salat (wajib) hendaklah dia salat ketika ingat, tidak ada penebusnya kecuali hal tersebut (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 2/142)

Ketiga, hadis dari sahabat Abu Qatadah as-Salami

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

 “apabila masuk salah seorang diantara kamu ke masjid, maka salatlah dua rakaat sebelum duduk” (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/96)

Keempat hadis dari dari Qais bin Amr

رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يُصَلِّي بَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَصَلَاةَ الصُّبْحِ مَرَّتَيْنِ؟» فَقَالَ لَهُ الرَّجُلُ: إِنِّي لَمْ أَكُنْ صَلَّيْتُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَهَا، فَصَلَّيْتُهُمَا. قَالَ: فَسَكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

dari Qais bin Amru ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki shalat dua raka’at setelah subuh, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bertanya kepadanya: “Apakah ada shalat subuh dikerjakan dua kali! ” laki-laki itu menjawab, “Aku belum mengerjakan dua raka’at sebelum subuh, maka aku mengerjakannya, ” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun diam. ” (H.R. Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, 1/365)

Hadis pertama secara manthuq menunjukan bahwa siapa yang mendapatkan hanya satu rakaat dari salat subuh sebelum terbit matahari, maka dia mendapatkan salat tersebut, begitu juga dengan salat ashar, hanya mendapatkan satu rakaat sebelum terbenam matahari, maka dia mendapatkan salat tersebut. Hadis kedua menegaskan bahwa jika seseorang lupa atau ketiduran, maka salatlah ketika dia bangun atau ingat, kapanpun dia ingat tanpa terbatas waktu. Sedangkan hadis ketiga menunjukan disyariatkannya salat tahiyat al-masjid bila telah masuk masjid, tidak terikat dengan waktu tertentu. Begitu juga dengan hadis keempat, boleh melaksanakan salat qabla subuh setelah subuh berdasarkan hadis taqrir dan hadis-hadis lainnya.

Secara dalalah, keempat hadis diatas bertentangan dengan hadis larangan waktu salat. Metode jama yang ditempuh adalah dengan menjama’ dan menempatkan hadis-hadis tersebut dengan semestinya sehingga menjadi tidak bertentangan. Dintaranya oleh Imam Ibn hajar al-Asqalani hadis-hadis diatas sebagai berikut :

وَالْجَمْعِ بَيْنَ الْحَدِيثَيْنِ مُمْكِنٌ بِأَنْ تُحْمَلَ أَحَادِيثُ النَّهْيِ عَلَى مَا لَا سَبَبَ لَهُ مِنْ النَّوَافِلِ

Mengkompromikan kedua hadis diatas memungkinkan yaitu dengan memaknai hadis-hadis larangan waktu salat tersebut pada salat-salat sunat yang tidak ada sebabnya  (Fath al-Bari, 2/56)

Salat itu terbagi dua, pertama, salat dengan tidak terikat dengan sebab tertentu misalnya salat mutlaq. Kedua salat yang mempunyai sebab, misalnya salat tahiyat al-masjid sebabnya karena akan masuk ke masjid, salat istisqa, sebabnya karena kekeringan yang sangat membutuhkan hujan, salat istikharah, sebabnya meminta kepada Allah pilihan yang terbaik, salat syukr al-wudlu yaitu salat dengan sebab seseorang telah berwudlu. Salat fait sebabnya karena luput salat baik dengan sebab ketiduran atau lupa. Salat jenazah, sebabnya karena ada muslim yang meninggal. Salat qabla subuh, jika sudah terbiasa, kemudian luput dengan sebab tertentu, maka boleh dilaksanakan setelah salat subuh dan contoh-contoh lainnya.

Dengan demikian kesimpulannya, salat yang tidak boleh dilaksanakan pada waktu terlarang adalah salat yang tidak memiliki sebab, diantaranya salat mutlaq. Sedangkan salat yang memiliki sebab, maka boleh dikerjakan pada waktu terlarang tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here