Beranda Munakahat STATUS HADIS LARANGAN MENIKAH SEMATA KARENA KEDUDUKAN, HARTA, dan KECANTIKAN

STATUS HADIS LARANGAN MENIKAH SEMATA KARENA KEDUDUKAN, HARTA, dan KECANTIKAN

2166
0

STATUS HADIS LARANGAN MOTIF MENIKAH SEMATA KARENA KEDUDUKAN, HARTA, dan KECANTIKAN

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ تَزَوَّجَ امْرَأَةً لِعِزِّهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلَّا زُلًّا، وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِمَالِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلَّا فَقْرًا، وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِحَسَبِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلَّا دَنَاءَةً، وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لَمْ يَتَزَوَّجْهَا إِلَّا لِيَغُضَّ بَصَرَهُ، وَيُحَصِّنَ فَرْجَهُ، أَوْ يَصِلَ رَحِمَهُ، إِلَّا بَارَكَ اللهُ لَهُ فِيهَا، وَبَارَكَ لَهَا فِيهِ» غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ إِبْرَاهِيمَ، تَفَرَّدَ بِهِ ابْنُ عَبْدِ الْقُدُّوسِ

“Barangsiapa menikahi wanita karena kemuliaan (kedudukan)nya, maka ALLAH tidak akan menambahkan untuknya kecuali kehinaan. Barangsiapa yang menikahi wanita karena hartanya, maka ALLAH tidak akan menambahkan untuknya kecuali kefakiran. Barangsiapa menikahi wanita karena kecantikannya, maka ALLAH tidak akan menambahkan untuknya kecuali kerendahan (keburukan). Dan barangsiapa yang menikahi seorang wanita karena ingin menuundukkan pandangan matanya, membentengi kemaluannya, dan mempererat tali silaturahmi, maka ALLAH akan melimpahkan barokah-NYA kepada dia (suami) dan istrinya (dalam kehidupan keluarganya).”

Takhrij al-Hadits : Mu’jam al-Ausath, 3/21, Musnad as-Syamiyyin, 1/29, Hilyah al-Auliya, 5/245, al-Majruhin 2/150
Dalam sanadnya ada Abdussalam bin Abdul Quddus para ulama menilai. Imam al-Uqaily berkata “tidak ada mutabi’ hadisnya dan bukan termasuk yang tegak hadisnya” (ad-Du’afa li al-Uqaily, 3/67), Abu Hatim berkata : “lemah” (al-Jarh wa Ta’dil, 6/48), Ibn ‘Adi berkata : “kebanyakan hadis yang dia riwayatkan tidak mahfudz” (al-Kamil fi ad-Dhu’afa ar-Rijal, 5/330), Imam Abu Dawud “Bukan sesuatu” (Su’alat aba Dawud, 2/7) Imam Ibn Hibban berkata “dia meriwayatkan hadis-hadis maudlu dari Hisyam bin Urwah dan Ibn Abi ‘Abalah, tidak sah untuk dijadikan hujjah” al-Majruhin, 2/151/152) diantara penilaian para ulama diatas yang paling sarih atau jarh mufassar adalah imam Ibnu Hibban, dengan menyebutkan bahwa Abdussalam meriwayatkan hadis maudlu dari Ibrahim Ibn Abi ‘Abalah, dengan menyebutkan contoh hadis diatas.
Hadis yang sahih adalah hadis riwayat imam al-Bukhari yaitu

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Dari Abu Hurairah Ra dari Nabi Saw bersabda perempuan dinikahi karena empath al, pertama karena harta, kedua nasab, ketiga karena kecantikannya keempat karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya maka engkau akan beruntung (H.R. Sahih al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, 7/7)

Kesimpulan, pertama dalam sanadnya gharib munkar. Kedua dalam sanad ada rawi yang bernama Abdussalam bin Abdul Quddus para ulama melemahkannya. ketiga, jarh mufassar dari Ibn Hibban meriwayatkan hadis maudlu dari jalur Ibrahim bin Abi ‘Abalah. Keempat statusnya hadisnya dhoif jiddan (sangat lemah) tidak dapat dijadikan dalil dan hujjah serta tidak sah dinisbatkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Kelima hadis yang sahih dan sah dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Hr. Bukhari tentang motif menikah dan anjuran untuk memilih karena agamanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here