Beranda Uncategorized STUDI KITAB AL-MUSTADRAK IMAM AL-HAKIM

STUDI KITAB AL-MUSTADRAK IMAM AL-HAKIM

7038
0

Abstrack

Mashadir Ashliyah merupakan kitab-kitab induk yang menjadi sumber utama penelitian sebuah hadits, kitab-kitab ini terdiri dari kutu al-tis’ah (kitab yang sembilan), kitab-kitab musnad, mushannaf dan lain sebagainya. Kitab al-Mustadrak merupakan tingkatan kedua dari kelompok mashadir ashliyyah, dengan kata lain kitab al-Mustadrak Imam al-Hakim merupakan salah satu kitab yang perlu diperhatikan sama halnya dengan kitab mashadir ashliyyah lainnya. Al-Mustadrak sebagai salah satu klasifakasi kitab hadits memiliki masa dan periode sendiri. Kitab ini juga memiliki karakteristik tersendiri dalam penulisannya. Kitab Al-Mustadrak ‘ala Shahihain atau yang lebih dikenal dengan Al-Mustadrak Al-Hakim merupakan salah satu kitab Mustadrak yang paling menonjol. Secara garis besar, kitab ini berisikan hadits-hadits shahih yang tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Kajian terhadap kitab ini dirasa perlu, karena masih banyak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadits-hadits yang terdapat di dalam kitab ini merupakan kumpulan hadits-hadits shahih menurut syarat dan kriteria yang ditentukan oleh Syaikhani (Bukhari-Muslim), meskipun didalamnya juga terdapat hadits-hadits shahih berdasarkan kriteria Imam Hakim sendiri. Dalam penelitian ini akan dibahas tentang bagaimana manhaj imam al-Hakim dalam menentukan derajat hadits shahih, bagaimana karakteristik kitab al-Mustadrak dan bagaimana corak imam al-Hakim dalam menuangkan hadits-hadits dalam kitab al-Mustadrak.

Keyword: Al-Hakim, Manhaj, Mustadrak

  1. PENDAHULUAN

Perkembangan hadits dalam dunia intelektual Islam memiliki sejarah yang panjang. Dimulai dari masa hidup Rasulullah Saw, hadits terus mengalami perkembangan hingga saat ini. Para pakar mambagi periodesasi penulisan hadits menjadi tujuh. Dari perkembangan sejarah ini, dapat diketahui kondisi perkembangan hadits dari masa ke masa. Perkembangan hadits ini sangat penting diketahui, khususnya bagi para civitas akademik yang konsen di bidang kajian hadits. Hal ini tidak lain dikarenakan hadits menempati posisi yang sangat strategis sebagai sumber rujukan hukum setelah Al-Qur’an.

Kitab al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain merupakan kontribusi terbesar imam al-Hakim dalam kajian Hadis. Selain kitab al-Mustadrak, ada dua karya al-Hakim yang tak kalah penting, yaitu Kitab al-Madkhal ila al-Iklil dan Ma‟rifatu ‘ulum al-Hadits. Dua karya yang terakhir ini, mengkaji konsep-konsep teoritis dan kerangka epistemologis ke-shahih-an sebuah Hadis. Ketiga karya tersebut membuktikan kepiawaian al-Hakim dalam studi Hadis dan ilmu Hadis sekaligus  menunjukkan penguasaannya dalam bidang Hadits, baik secara teoritis maupun operasionalnya. Oleh karena itu, kehadiran al-Hakim dalam sejarah pemikiran Hadis tidak bisa dipandang sebelah mata, meskipun popularitasnya dibawah penulis Kutub al-Sittah. Sebagai hasil sebuah pemikiran, penyusunan kitab al-Mustadrak tidak bisa dilepaskan begitu saja dari konteks sosial-kultural dan politik yang melingkupinya. Realitas yang ada serta cara pandang masyarakat ketika itu memberikan hembusan “angin” dalam pemikiran al-Hakim sehingga menimbulkan nuansa yang berbeda secara metodologis dengan kitab-kitab Hadis sebelumnya. Nuansa itu pada akhirnya menimbulkan berbagai penilaian kepada al-Hakim, baik negatif maupun positif. Pada dasarnya,  ulama Hadis sepakat memberikan penilaian tasahul kepada al-Hakim, namun mereka berbeda tentang penyebab ke-tasahul-annya. Ada yang menilai, ke-tasahul-an al-Hakim terletak pada tasyayyu’ (kecendrungannya kepada syi’ah), khususnya dalam memposisikan peran para sahabat Nabi Saw. Asumsi dasar yang memotivasi al-Hakim menyusun al-Mustadrak adalah masih banyak Hadis shahih yang beredar dan belum sepenuhnya tercantum dalam kitab-kitab Hadis yang ada. Asumsi tersebut kemudian diperkuat dengan pernyataan penulis shahihain, bahwa kitab shahihnya tidak memuat seluruh Hadis shahih. Oleh karena itu, al-Hakim menamakan kitabnya dengan al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, yang artinya ditambahkan atau disusulkan atas shahihain. Tulisan ini akan menguraikan secara global Manahij “metode‟ kitab al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, latar belakang penulisan, klasifikasi status Hadis, kriteria ke-shahih-an Hadis, penilaian ulama serta biografi intelektual al-Hakim yang melingkupi riwayat hidup, guru dan muridnya, dan setting sosial-budaya masyarakat yang membentuk karakter berpikir al-Hakim.

  • FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI AL-HAKIM MENYUSUN KITAB MUSTADRAK AL-HAKIM

Diantara faktor imam al-Hakim dalam tashnif kitab al-Mustadrak sudah penulis kemukakan dalam pendahuluan, terdapat alasan lain yang melatarbelakangi imam al-Hakim dlaam tashnifnya,

  1. Banyaknya permintaan tokoh intelektual, supaya ia menghimpun Hadis dalam sebuah kitab berdasarkan syarat Shahihain
  2. Masih banyak Hadis sahih yang belum dicatat ulama terdahulu dan belum dicatat dalam kitab shahihain (Bukhari –Muslim)
  3. Kondisi sosial-intelektual/banyaknya tokoh-tokoh terkemuka seperti imam Mislim dan Imam Al-Daraquthni yang semangat menyusun hadits sehingga imam al-Hakim terdorong untuk memberikan kontribusi dalam penyusunan kitab yang ia namai Mustadrak
  4. Faktor eksternal kondisi politik yang memanas anatara Bani Fatimiyyah di Mesir, Bani Umayah di Cordiva, Bani Abasiyah di Baghdad yang bermusuhan sehingga banyaknya para intelektual kelelahan untuk membuat karya, pada saat ini kitab Mustadrak disusun guna untuk mengembangkan sunnah yang terpendam.
  • IMAM AL-HAKIM AL-NAISABURI
  • Biografi Al-Hakim

Nama lengkap al Hakim adalah al-Hafizh Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Hamdun bin Hakam bin Nu’aim bin al-Bayyi’.[1]Beliau dilahirkan di Naisabur pada hari senin 12 Rabiul awal 321 H, dan wafat pada tahun 405 H, Beliau sering disebut dengan Abu Abdullah al-Hakim al-Naisaburi atau Ibn al-Bayyi’ atau al-Hakim Abu Abdullah, Ayah al-Hakim, Abdullah bin Hammad bin Hamdun adalah seorang pejuang yang dermawan dan ahli ibadah yang sangat loyal terhadap penguasa bani Saman yang menguasai daerah Samaniyyah.[2]

Dalam catatan sejarah daerah Samaniyah pada abad ke 3 telah melahirkan ahli hadits ternama diantaranya Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Abu Daud, al-Tirmidzi, al-Nasa’I, dan ibn Majah, Di tempat inilah al-Hakim dilahirkan dan dibesarkan, Kondisi sosiokultural ini yang mempengaruhi al-Hakim sebagai seorang pakar hadits abad 4 H, Pada usia 13 tahun (334 H), ia berguru pada ahli hadits Abu Hatim Ibn Hibban dan ulama-ulama yang lainnya, Al Hakim melakukan pengembaraan ilmiah ke berbagai wilayah, seperti Iraq, Khurasan, Transosiana, dan hijaz, Rihlah ilmiah yang dilakukannya untuk mendapat sanad yang bernilai ‘ali (tinggi), nampakknya al-Hakim ingin menerapkan pandangan al-Bukhari, Al-Hakim telah mensyaratkan tatap muka dengan guru dalam penerimaan riwayat hadits, meski hanya sekali, Dalam perjalanan hidupnya yang berlangsung selama 84 tahun, al Hakim telah melakukan banyak kontribusi dalam bidang hadis melalui karya fonumentalnya al Mustadrak ala Sahihain namun sebelum menuntaskan kajiannya, beliau yelah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa pada tanggal 3 bulan Safar tahun 405 H.

  • Guru-guru, Murid-murid, Dan Karya-karyanya

Diperkirakan jumlah guru al-Hakim mencapai kurang lebih 1000 orang, diantaranya selain ayahnya sendiri al-Mudzakkir, al-A’sham, al-Syaibani, ar-Razi, al-Masarjisi, al-Hirri, Ibnu Hibban, al-Daruquthni dan Abu Ali al-Naisaburi, al-Jallab, Ali as-Suturi, Ali al-Hakim, dll.

Murid di sini bisa diartikan sekaligus sebagai pengagum dan atau mitra dialognya, seperti al-Daraquthni, al-Fawari, al-Wasithi, al-Hiwari, Abu al-Falah al-Fawari, Abu al-A’la al-Washiti, Mu’ammal al-Walid, Abu Ya’la al-Khalili, Abu Bakr al-Baihaqi dan al-Atsram, Al-Hakim tidak secara transparan mencontoh al-Daruquthni (mitra diskusinya) dan Ibnu Hibban (gurunya), justru shahihain (Bukhari dan Muslim-yang hidup tidak sezaman dengannya) yang secara tegas dinyatakan sebagai contoh.

Karya-karya Al Hakim diantaranya: Al Arba’in, Al Asma` Wa Al Kuna, Al Iklil fi Dalail An-Nubuwwah, Amali Al ’Asyiyyat, Al Amali,Tarikh Naisabur,Ad-Du’a, Su`alat Al Hakim li Ad-Daraquthni fi Al Jarh wa At-Ta’dil, Su`alat Mas’ud As-Sajzi li Al Hakim, Adh-Dhu’afa’, Ilal Al Hadits, Fadhail Fathimah, Fawa`id Asy-Syuyukh, Ma Tafarrada bihi Kullun min Al Imamain, Al Madkhal ila ’Ilmi Ash-Shahih, Al Madkhal ila Ma’rifati Al Mustadrak, Muzakki Al Akhbar, Mu’jam Asy-Syuyukh, Al Mustadrak ala Ash-Shahihain (kitab Ini), Ma’rifah Ulum Al Hadits, Al Ma’rifah fi Dzikri Al Mukhadhramin, Maqtal Al Husain, Manaqib Asy-Syafi’i.

  • Penilaian ulama terhadap al-Hakim

Dalam muqoddimah kitabnya terdapat bab tentang pujian para ulama kepada al-Hakim, di antaranya yaitu Imam Adz-Dzahabi mengatakan bahwa beliau ( al-Hakim) adalah seorang Imam, orang yang hafidz, seorang kritikus, orang yang sangat alim, ulama yang ahli hadits, pengarang kitab, Seorang perawi (pentakhrij), penjarh dan penta’dil.[3] Imam Khalil Bin ‘Abdullah berkata beliau (al-Hakim) adalah ulama yang luas ilmunya, beliau juga seorang ulama ahli sejarah didaerahnya terbukti dengan kitab karangannya “تاريخ النيسابوريين “. Kemudian Imam al-Hafidz Abu Hazim berkata beliau adalah imam ahli hadits pada masanya. Kemudian Imam Khatib berkata bahwa beliah termasuk ahlu al ‘ilm, ahli ma’rifah, ahli fadhilah, seorang yang hafidz, dan memiliki banyak karangan dalam bidang hadits.[4]

  • KITAB ALMUSTADRAK ALA SHAHIHAIN
  • Latar Belakang Penulisan Kitab

Al Hakim tidak secara eksplisit menyebutkan tentang latar belakang penulisan kitab al Mustadrak ala Shahihain, yang mulai disusun pada tahun 373 H (ketika beliau berusia 52 tahun). Namun secara implisit bisa terekam bahwa inisiatif penulisan tersebut berangkat dari dua faktor, yaitu internal dan eksternal.

  1. Faktor internalnya adalah ketika al Hakim berasumsi bahwa masih banyak hadis shahih yang berserakan, baik yang belum dicatat oleh para ulama maupun yang sudah tercantum dalam beberapa kitab hadis yang sudah ada. Disamping penegasan dari pengarang kitab Shahihain yaitu Bukhari dan Muslim bahwa tidak semua hadis shahih telah terangkum dalam kitab Shahih-nya. Dua hal tersebut yang mendorong al Hakim menyusun kitabnya berdasarkan kaedah ilmu dalam menentukan keabsahan sanad dan matan.
  2. Sementara faktor eksternalnya adalah, kitab al Mustadrak disusun karena kondisi politik, intelektual dan ekonomi yang terjadi pada saat itu. Dari segi politik, pada abad 4 H (disebut masa-masa disintegrasi), wilayah Islam terpecah ke dalam 3 kekuasaan besar yakni
  3. Bani Fatimiyah di Mesir,
  4. Bani Umayah di Cordiva, dan
  5. Bani Abasiyah di Baghdad,

Ketiganya saling bermusuhan. Keadaan ini menyebabkan para intelektual lelah untuk menghasilkan karya. Pada saat kitab al Mustadrak ditulis, pada saat itu al Hakim berada dalam masa transisi dinasti Samani (yang bermadzhab Syiah) ke dinasti Ghaznawi (yang bermadzhab Sunni). Walaupun secara garis besar pada abad ke 4 H ini dunia intelektual Islam mengalami kemerosotan dibanding pada abad ke 3 H, namun hal ini membuat al Hakim justru terpacu semangatnya untuk menghasilkan karya.

  • Penamaan Kitab

Kitab karya al Hakim dinamakan al mustadrak yang artinya ditambahkan atau disusulkan atas al Shahihain. Al Hakim menamakan demikian kerena berpendapat bahwa hadis-hadis yang terdapat dalam kitabnya memenuhi kriteria yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim, sedangkan hadis tersebut belum tercantum dalam kitab Shahih Bukhari maupun Muslim. Dengan demikian kandungan kitab al Mustadrak dapat kita klasifikasikan menjadi 4 kemungkinan:

Dalam kitab Al-Mustadrak ‘Ala Shahihain karya Imam Hafidz Abi Abdillah Al-Hakim yang telah diterbitkan oleh Darul Haramain li At-Thaba’ah wa At-Tauzi’ terdiri dari lima jilid. Di setiap jilidnya terdapat beberapa kitab atau bab. Jumlah hadits yang terdapat dalam kitab ini adalah 8864.[5] Seperti kitab hadits lainnya, kitab ini disusun berdasarkan bab-bab fiqhiyah. Namun demikian, dalam kitab Al-Mustadrak ini terdapat beberapa baba tau bahasan di luar bab-bab fiqhiyah. Dimulai dari Bab Iman di juz satu, kitab ini diakhiri dengan Bab Ahwal yang berada di juz 5. Untuk mengetahui rinciain bab yang terdapat di setiap juz, serta jumlah haditsnya, bisa dilihat tabel-tabel berikut ini:

Juz 1 Jumlah Hadits
كتاب لايمان 287
كتاب العلم 157
كتاب الطهارة 230
كتاب الصلاة 350
كتاب الجمعة 60
كتاب صلاة العيدين 29
كتاب الوتر 34
كتاب صلاة التطوع 50
كتاب السهو 12
كتاب لاستسقاء 12
كتاب الكسوف 17
كتاب صلاة الخوف 9
كتاب الجنائز 173
كتاب الزكاة 103
كتاب الصوم 79
كتاب المناسك 240
كتاب الدعا و التكبير و التهليل و التسبيح 230
كتاب فضائل القرآن 110
Juz II Jumlah Hadits
كتاب البيوع 248
كتاب الجهاد 210
كتاب قسم الفيء 60
كتاب أهل البغي وهو آخر الجهاد 28
كتاب النكاح 122
كتاب الطلاق 49
كتاب العتق 18
كتاب المكاتب 13
كتاب التفسير 1119
كتاب تراويخ المتقدمين من لأنبياءو المرسلين 265
Juz III Jumlah Hadits
كتاب الهجرة 40
كتاب المغازى و السرايا 108
كتاب معرفة الصحابة 2088
Juz IV Jumlah Hadits
كتاب لأحكام 69
كتاب لأطعمة 129
كتاب لأشربة 40
كتاب البر و الصلة 112
كتاب اللباس 68
كتاب الطب 97
كتاب لأضاحي 54
كتاب الذبائح 31
كتاب التوبة و لإنابة 78
كتاب لأدب 121
كتاب لأيمانوالنذور 37
كتاب النذور 7
كتاب الرقاق 104
كتاب الفرائض 76
كتاب الحدود 149
كتاب تعبير الرؤيا 31
كتاب الطب 50
كتاب الرقى و التمائم 27
كتاب الفتن و الملاحم 378
Juz V Jumlah Hadits
كتاب لأهوال 125

Selain itu, Kitab Al-Mustadrak ‘ala Shahihain ini juga dilengkapi dengan fahras athraf al-hadits. Fahrasini memudahkan pembaca untuk mencari hadits sesuai dengan abjad awal hadits yang ingin dicarinya.[6]

Seperti yang tertera dalam judul kitab, kitab Al-Mustadrak ‘Ala Shahihain ini merupakan kitab yang berisikan hadits-hadits yang perawinya memenuhi kriteria syaikhani, Imam Bukhari dan Imam Muslim. Imam Dzahabi berpendapat bahwa kitab ini banyak diisi oleh hadits-hadits yang yang memenuhi kriteria Syaikhani (Bukhari-Muslim), memenuhi syarat Bukhari saja, atau memenuhi syarat Muslim saja.[7]

Dalam menentukan atau menukil hadits-hadits yang kemudian dibukukan dalam kitab Al-Mustadrak ‘ala Shahihain, Imam Al-Hakim Al-Naisaburi menggunakan ijtihadnya sendiri. Hal ini dapat terlihat dari pernyataan beliau yang tercantum dalam kitab tersebut.

“Aku memohon perlindungan kepada Allah Swt dalam mentakhrij hadits-hadits yang perawinya tsiqat. Hal ini telah dilakukan oleh Syaikhani (Bukhari-Muslim), atau salah satunya untuk berhujah dengan menggunakan para perawi tersebut. Ini adalah syarat hadits shahih yang telah disepakati oleh ulama fiqh, bahwa menambahkan sanad atau matan yang tsiqah dapat diterima.”[8]

Secara garis besar, hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Al-mustadrak ini dapat diklasifikasikan menjadi lima bagian:

Hadits ini biasanya akan diberikan penjelas di akhir matan hadits dengan kutipan, “hadza hadits shahihlam yakhruj fi shahihain.” (Hadits ini shahih, akan tetapi tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim). Contoh dari hadits ini ialah:

حدثناه علي بن حمشاد العدل ثنا أبو المثنى ثنا مسدد ثنا أبو الوهاب ثنا محمد ابن عمرو عن أبي سلمة عن أبي هريرة أن النبن صلي الله عليه وسلم: (أكمل المؤمنين إيمانل أحسنهم خلقا)

هذا حديث صحيح لم يخرج في الصحيحين[9]

Adapun redaksi lain yang digunakan Al-Hakim untuk mengindikasikan hadits yang memenuhi syarat syaikhani adalah “hadza hadits shahih ‘ala syarthi syaikhani wa lam yakhrujahu”[10]

  • Hadits yang memenuhi kriteria Bukhari saja

Al-Hakim Al-Naisaburi menjelaskan hadits yang memenuhi kriteria bukhari saja dengan ungkapan “hadza hadits shahih ‘ala syarthi bukhari wa lam yakhrujahu”, (Hadits ini shahih berdasarkan kriteria Bukhari, tetapi Imam Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya). Contoh dari hadits ini:

أخبرني الحسن بن حكيم الموزي ثنا أبو الموجه أنبأ عبد الله أنبأ محمد بن معد الغفاري أبو معن ثنا زهرة بن معبد القرشي عن أبي صالح مولى عثمان قال سمعت غثمان بن عفان رضي الله عنه في مسجد الخيف بمنى و حدثنا أنه سمع رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول: ((يوم في سبيل الله خير من ألف يوم فيما سواه فلينظر كل امرئ لنفسه))

هذا حديث صحيح علي شرط البخارى و لم يخرجاه[11]

  • Hadits yang memenuhi kriteria Muslim saja

Hadits yang terdapat dalam kitab Al-Mustadrak ini juga mencantumkan hadit shahih berdasarkan kriteria Imam Muslim saja. Redaksi yang digunakan untuk mengindikasikan hadits ini ialah, “hadza hadits shahih ‘ala syarthi muslim wa lam yakhrujahu”, (hadits ini shahih berdasarkan kriteria Imam Muslim, tetapi tidak diriwayatkan olehnya dan Bukhari). Contoh dari Hadits ini ialah:

حدثنا أبو بكر بن إسحاق ثنا أبو المثني معاذ بن المثني ثنا أبو الوليد الطيالسي ثنا حماد بن سلمة عن عاصم عن زر عن عبد الله قال: كنا يوم بدر كل ثلاثة غلي بعير, قال: و كان علي و أبو لبابة زميلي رسول الله صلي الله عليه و سلم و علي أله, قال: و كان إذا كانت عقبة قلنا : اركب حتي نمشي فيقول : ((ما أنتما بأقوى مني و ما أنا بأغنى عن لأجر منكم))

هذا حديث صحيح علي شرط المسلم و لم يخرجاه[12]  

  • Hadits yang memenuhi kriteria Al-Hakim

Selain ketiga jenis hadits yang telah disebutkan sebelumnya, Al-Hakim juga melengkapi kitabnya dengan hadits-hadits yang menurutnya shahih. Redaksi yang mengindikasikan hal tersebut, “hadza hadits shahihul isnd wa lam yakhrujahu” (hadits ini shahih sanadnya, tetapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim”). Contoh dari hadits ini:

حدثنا أبو عمرو عثمان بن أحمد بن السماك ثنا عبد الرحمن بن محمد بن منصور ثنا يحيى بن سعيد ثنا ابن أبي ذئب عن عثمان بن محمد الأخنسى عن سعيد المقبرى عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله عليه و سلم قال : ((من جعل قاضيا فكأنما ذبح بعير سكين))

هذا حديث صحيح الإسناد و لم يخرجاه

  • Hadits yang tidak dinilai Al-Hakim

Menurut Al-San’ani sebagaimana yang dikutip dari buku Studi Kitab-Kitab Hadits yang diedit oleh M. Fatih Suryadilaga mengatakan bahwa hadits tersebut belum sempat diedit oleh Al-Hakim karena kematian terlebih dahulu menjemputnya.[13]  Oleh karena itu, Al-Hakim belum sempat mengemukakan komentarnya mengenai keseluruhan hadits yang terdapat dalam kitab Al-Mustadrak ini. Untuk itu, ada kemungkinan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Al-Mustadrak karya Imam al-Hakim tidak semuanya shahih, karena masih ada hadits-hadits yang belum diverifikasi lebih lanjut.

  • MANHAJ IMAM AL-HAKIM

Setiap ulama Hadits baik sebagai nuqad ataupun mudawwin atau mu’arrikh, memiliki manhajnya masing-masing, termasuk imam al-Hakim memiliki manhaj secara khas. Secara umum, manhaj imam al-Hakim memiliki kesamaan dalam kriteria penetapan syarat hadits shahih, yaitu:

1- شرط الصحة العام: أن يكون الحديث متصل الإسناد، بنقل الثقة عن الثقة، من أوله إلى منتهاه، سالما من الشذوذ ومن العلة

2- الرجال (الرواة): أن يكون جميع رواة الحديث قد خرِّج لهم في الصحيحين أو في أحدهما، وأن يكون كل راو من هؤلاء الرواة قد خرِّج لهم في الصحيحين عن شيخه الذي يروي عنه ذلك الحديث

3- عدم تعمد الشيخين ترك تلك الرواية قصدا: أن يثبت لديه أن رجال هذا الحديث ممن تعمد البخاري ومسلم الإخراج عنهما، ولم تقع رواية هؤلاء الرواة في الصحيحين أو أحدهما اتفاقاً لا قصداً

Dari sini bisa kita perhatikan syarat yang ditetapkan oleh imam al-Hakim adalah:

  1. Sanadnya muttashil, diriwayatkan oleh rawi tsiqah dari awal hingga akhir, tidak syadz dan tidak ada illat
  2. Seluruh rawi digunakan dan terdapat dalam kitab shahihnya oleh Bukhari-Muslim atau salahsatunya
  3. Keitifaqan Bukhari-Muslim terkait rawi-rawi yang digunakannya dalam shaihain
  1. Manhaj Imam al-Hakim dalam penetapan Hadits
  1. Ijtihad

Menentukan status sebuah Hadis dengan jalan ijtihad, pada dasarnya sudah diterapkan oleh ulama-ulama Hadis. Nama-nama seperti al-Ramahurmuzy, al-Baghdadi, Ibn al-Asir, serta lainnya adalah ulama yang menggunakan prinsip ijtihad untuk menentukan kesahihan sebuah Hadis.[14] Prinsip ijtihad ini yang membedakan al-Hakim baik dengan para pendahulunya, maupun ulama semasa dan sesudahnya. Mengenai prinsip ijtihad ini, dipahami oleh ulama Hadis dari ungkapan al-Hakim sendiri dalam muqaddimah al-Mustadrak-nya, yaitu,

“Aku memohon pertolongan Allah untuk meriwayatkan Hadis-hadis yang para perawinya orang-orang yang tsiqah. Bukhari dan Muslim atau salah satu keduanya telah menggunakan perawi itu sebagai hujjah. Ini syarat Hadis Shahih menurut pandangan seluruh Fuqaha, bahwa penambahan pada sanad dan matan dari orang-orang yang tsiqah dapat diterima.[15]

Ungkapan al-Hakim di atas selanjutnya menjadi objek penelitian ulama Hadis untuk mengetahui substansi dari konsep ijtihad yang diterapkannya dalam al-Mustadrak.  Dari pernyataan ini banyak sekali makna-makna yang mesti ditafsirkan dari istilah-istilah yang digunakannya, seperti ruwatuha tsiqat “perawi terpercaya‟, bi mitsliha, menurut Fuqaha‟ al-Islam, dan al-ziyadah min al-tsiqah. Pernyataan di atas diuraikan oleh Abdurrahman sebagai berikut:

  1. Ruwatuha Tsiqah

Perawi tsiqah adalah perawi yang memiliki kapasitas intelektual yang baik serta kualitas pribadi yang sangat sempurna. Dalam bahasa lain, tsiqah adalah gabungan antara ‘adalah dan dhabit.[16]

  • Bi Mitsliha

Makna dari kata “bi mitsliha” dapat berarti “seperti itu atau seumpamanya”. Kata ini merupakan “kunci‟ dalam memahami ijtihad al-Hakim. Beragam pendapat ulama Hadis mengenai kata alHakim ini. Ada yang memahami kata bi mitsiliha adalah Hadis yang benar-benar mengacu kepada perawi yang menjadi persyaratan Syaikhain. Pendapat lain memahami bahwa ungkapan al-Hakim “sesuai syarat Bukhari-Muslim atau salah satu keduanya” bukan hanya rijal saja, tetapi juga mengacu kepada sifat-sifat yang sama dengan rijal Syaikhain. Kata bi mitsliha diterapkan oleh al-Hakim melalui ungkapan-ungkapan yang ia gunakan setelah meriwayatkan Hadis. Ungkapan-ungkapan itu, secara garis besar dikalsifikasikan dapat tiga bagian, yaitu:

  1. هذا حديث صحيح علي شرط البخارى و لم يخرجاه
  2. هذا حديث صحيح علي شرط المسلم و لم يخرجاه
  3. هذا حديث صحيح الإسناد و لم يخرجاه

Berikut contoh haditsnya:

أخبرني الحسن بن حكيم الموزي ثنا أبو الموجه أنبأ عبد الله أنبأ محمد بن معد الغفاري أبو معن ثنا زهرة بن معبد القرشي عن أبي صالح مولى عثمان قال سمعت غثمان بن عفان رضي الله عنه في مسجد الخيف بمنى و حدثنا أنه سمع رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول: ((يوم في سبيل الله خير من ألف يوم فيما سواه فلينظر كل امرئ لنفسه))

هذا حديث صحيح علي شرط البخارى و لم يخرجاه

حدثنا أبو بكر بن إسحاق ثنا أبو المثني معاذ بن المثني ثنا أبو الوليد الطيالسي ثنا حماد بن سلمة عن عاصم عن زر عن عبد الله قال: كنا يوم بدر كل ثلاثة غلي بعير, قال: و كان علي و أبو لبابة زميلي رسول الله صلي الله عليه و سلم و علي أله, قال: و كان إذا كانت عقبة قلنا : اركب حتي نمشي فيقول : ((ما أنتما بأقوى مني و ما أنا بأغنى عن لأجر منكم))

هذا حديث صحيح علي شرط المسلم و لم يخرجاه

حدثنا أبو عمرو عثمان بن أحمد بن السماك ثنا عبد الرحمن بن محمد بن منصور ثنا يحيى بن سعيد ثنا ابن أبي ذئب عن عثمان بن محمد الأخنسى عن سعيد المقبرى عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله عليه و سلم قال : ((من جعل قاضيا فكأنما ذبح بعير سكين))

هذا حديث صحيح الإسناد و لم يخرجاه

  • Menurut Fuqaha al-islam

Dalam penerapannya, al-Hakim tidak menjelaskan secara eksplisit bahwa apa bila suatu Hadis diriwayatkan oleh orang yang tsiqah dan memenuhi kriteria Bukhari dan Muslim, maka Hadis itu sudah memenuhi ketentuan Fuqaha’. Ia sendiri tidak menjelaskan baik dalam ilmu Hadisnya Ma’rifah fi ‘Ulum al-Hadits dan al-Madkhal maupun dalam al-Mustadrak itu sendiri, tentang ke-shahihan Hadis menurut Fuqaha’. Pernyataan al-Hakim ini kemudian memuncul pertanyaan, apakah ia menggunakan standar ganda dalam menentukan status sebuah Hadis. Sementara antara ahli Hadis dan Fuqaha‟ memiliki perbedaan dalam menetapkan ke-shahih-an suatu Hadis, dimana ahli Hadis cendrung lebih ketat dalam menilai suatu Hadis, sedangkan Fuqaha‟ lebih tasahul.

  • Al-Ziyadah min al-Tsiqah

Konsep al-ziyadah min al-tsiqah pada dasarnya adalah tambahan yang digunakan seorang rawi yang tsiqah, namun tidak diterdapat dalam riwayat tsiqah yang lain. Dalam pandangan Ibn Katsir, ziyadah tsiqah merupakan perbedaan persepsi antara Fuqaha’ dan ahli Hadits. Mayoritas ahli fikih mentolerir, sementara ahli Hadis tidak menerimanya. Sementara al-Hakim sendiri dalam alMustadrak-nya, memperkuat keberadaan konsep ini.

(21)- حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ سَلْمَانَ الْفَقِيهَانِ، قَالا: ثنا عُبَيْدُ بْنُ شَرِيكٍ، ثنا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، ثنا اللَّيْثُ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَجْلانَ، عَنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ “. قَدِ اتَّفَقَا عَلَى إِخْرَاجِ طَرَفِ حَدِيثِ ” الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَلَمْ يُخَرِّجَا هَذِهِ الزِّيَادَةَ وَهِيَ صَحِيحَةٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ زِيَادَةٌ أُخْرَى عَلَى شَرْطِهِ مِمَّا لَمْ يُخَرِّجَاهَا

Pada contoh di atas dapat diketahui pernyataaan al-Hakim bahwa Syaikhain tidak mencantumkan tambahan kata al-Mu’min sampai akhir Hadis ini. Sementara itu, dalam kitab-kitab Hadis yang lain banyak ditemukan teks Hadis yang sama dengan apa yang diriwayatkan oleh al-Hakim di atas. Oleh karena itu, al-Hakim menerima konsep ziyadah tsiqah dan menerapkannya dalam kitab al-Mustadrak.

  • Hadits yang tidak dinilai oleh imam al-Hakim

Al-Shan’ani mengatakan, bahwa hadits tersebut belum sempat diedit oleh Al-Hakim karena kematian terlebih dahulu menjemputnya.

Oleh karena itu, Al-Hakim belum sempat mengemukakan komentarnya mengenai keseluruhan hadits yang terdapat dalam kitab Al-Mustadrak ini. Untuk itu, ada kemungkinan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Al-Mustadrak karya Imam Al-Hakim tidak semuanya shahih, karena masih ada hadits-hadits yang belum diverifikasi lebih lanjut.

  • Status Sanad

Kajian terhadap sanad Hadis selanjutnya akan menentukan terhadap status suatu Hadis. Dalam menentukan keakuratan suatu rangkaian sanad, muncul konsep-konsep yang menunjukkan indentitas sebuah sanad, apakah sahih, hasan, dan dha‟if. Konsep-konsep keshahih-an sanad, misalnya, diantaranya, Ashahhu al-Asanid, Atsbatu alAsanid, Ajallu al-Asanid, Aqawa al-Asanid,. Tingkatan konsep keshahih-an sanad menurut al-Hakim ditentukan oleh rijal Hadis itu. AlHakim sendiri telah menetapkan  rijal sebuah Hadis yang masuk dalam kategori Ashahhu al-Asanid. Baginya, orang-orang yang termasuk Ashahhu al-asanid, jika jalurnya melalui ahli bait adalah Ja‟far bin Muhmmad melalui ayahnya dari kakeknya „Ali bin Abi Thalib. Jika Hadis diterima dari jalur Abu Bakar, maka sanad yang paling sahih adalah melalui Isma‟il bin Abi Khalid, dari Qays bin Abi Hazim. Demikian ijtihad al-Hakim dalam menentukan status sanad Hadis. 

  • Status Matan

Secara tegas dikemukakan oleh al-Hakim dalam bukunya Ma‟rifah fi ‘Ulum al-Hadits sebagai berikut:

Sesungguhnya Hadis sahih itu tidak hanya diketahui dengan berdasarkan riwayat saja, melainkan dengan pemahan, hafalan, dan banyak mendengar.[17] Pernyataan al-Hakim di atas adalah indikasi bahwa dalam mempertimbangkan status sebuah Hadis, banyak hal yang dikaji oleh ulama Hadis untuk mengetahui ‘illah-nya, apakah terdapat disanad atau matan Hadis. Prinsip ini kemudian melahirkan berbagai konsep, seperti rajah-marjuh, nasikh-mansukh, maqlub,mudraj, dan mudltharib. Untuk mengetahui ke-shahih-an suatu matan Hadis misalnya, dilakukan komparasi antara satu Hadis dengan Hadis lainnya, bahkan juga matan Hadis dengan al-Qur’an. Jika Nampak adanya kontradiktif antar teks Hadis tersebut, maka salah satunya dha’if  dan tidak bisa dijadikan hujjah. Bahkan hasil komparasi juga menunjukkan adanya nasikh-mansukh antar keduanya.

  • Kriteria Kritik Sanad 

Kritik sanad dalam kajian ilmu Hadis adalah berkaitan dengan cara menggunakan ungkapan jarh untuk menilai perawi Hadis. Perbedaan dalam menggunakan ungkapan jarh melahirkan berbagai madzhab atau kecendrungan dalam mengkritik rijal Hadis. Kecendrungan itu dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok. Pertama adalah tasyaddud, dengan tokoh-tokohnya, seperti Ibn Ma’in, „Ali bin Madini, dan al-Bukhari. Kedua, mutawassith, dan tokohnya, Imam Ahmad. Ketiga, mutasahil, yaitu Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban, Abu Hatim, dan al-Hakim. Perbedaan kritik sanad akibat perbedaan sudut pandang serta topik-topik yang dikandung Hadis. Prinsip yang dipedomani oleh ulama Hadis berkaitan dengan akidah, ibadah mahdhah, muamalah adalah tasyaddud (ketat) dalam menilai rijal. Sedangkan berkaitan dengan fadhail „amal, targhib wa tarhib sedikit longgar (tasahul).   Prinsip ini diterapkan oleh al-Hakim ketika akan menentukan status Hadis. Ia menggunakan prinsip yang amat ketat (tasyaddud) terhadap Hadis-hadis yang berkaitan dengan akidah dan syari‟ah, smentara terhadap Hadis-hadis yang berhubungan dengan fadilah amal, sejarah Rasul, sejarah para nabi-nabi terdahulu, dan para sahabat, al-Hakim cendrung agak longgar (tasahul).[18]

  • DIANTARA KARYA IMAM AL-HAKIM

Al Arba’in, Al Asma` Wa Al Kuna, Al Iklil fi Dalail An-Nubuwwah, Amali Al ’Asyiyyat, Al Amali,Tarikh Naisabur,Ad-Du’a, Su`alat Al Hakim li Ad-Daraquthni fi Al Jarh wa At-Ta’dil, Su`alat Mas’ud As-Sajzi li Al Hakim, Adh-Dhu’afa’, Ilal Al Hadits, Fadhail Fathimah, Fawa`id Asy-Syuyukh, Ma Tafarrada bihi Kullun min Al Imamain, Al Madkhal ila ’Ilmi Ash-Shahih, Al Madkhal ila Ma’rifati Al Mustadrak, Muzakki Al Akhbar, Mu’jam Asy-Syuyukh, Al Mustadrak ala Ash-Shahihain, Ma’rifah Ulum Al Hadits, Al Ma’rifah fi Dzikri Al Mukhadhramin, Maqtal Al Husain, Manaqib Asy-Syafi’i.

  • PANDANGAN ULAMA TERHADAP AL-HAKIM DAN AL-MUSTADRAK 

Seperti karya lainnya, kitab al-Mustadrak tidak lepas dari kritikan baik yang bernada memuji dan maupun yang bernada menghujat. Pujian itu terutama ditujukan kepada pribadi al-Hakim sendiri. Muhammad al-Dzahabi, misalnya, dalam bukunya Siyar „Alam al-Nubala‟ menyatakan al-Hakim sebagai “al-Imam al-Hafidz, al-Naqid „ahli kritik‟, al‟Allamah, Syaikh alMuhadditsin, dan Shahibu al-Tashanif„ (muqaddimah kitab al-Mustadrak). Dalam bukunya Tadzkiratu al-Haffadz, al-Dzahabi memberikan pernyataan “al-Hafidz al-Kabir, Imam al-Muhaddtsin. Masih dalam buku yang sama pada halaman yang berbeda, ia juga menyatakan “ Abu „Abdullah al-Hakim adalah Imam ahli Hadis, orang yang paling tahu tentang ilmu Hadis” (muqaddimah kitab al-Mustadrak).

Komentar-komentar di atas menunjukkan bahwa kepiawaian al-Hakim dalam kajian Hadis dan Ilmu Hadis tidak diragukan lagi. Bahkan beberapa karyanya, seperti kitab alMadkhal ila al-Iklil dan Ma‟rifah „Ulum al-Hadits menjadi referensi dalam menentukan status rijal dan kaidah-kaidah yang berkaitan dengan sanad dan matan Hadis. Meskipun demikian, kitabnya al-Mustadrak tidak lepas dari berbagai kekurangan yang menyebabkan ia mendapat “lemparan” kritikan yang sangat tajam. Dalam penilaian sebagian ahli Hadis, kesalahan yang terdapat dalam al-Mustadrak karena faktor usia yang cukup tua. Selain itu, al-Hakim tidak sempat meneliti kembali Hadis-hadis dalam al-Mustadrak karena kematian yang menjemputnya.

Dalam catatan Nunun Najwah, ada beberapa kritikus Hadis yang memberikan penilaian terhadap kitab al-Mustadrak. Mereka itu adalah :

  1. Al-Baihaqi: ia tidak setuju bahwa al-Mustadrak memuat Hadis-hadis yang memenuhi persyaratan Bukhari dan Muslim.
  2. Abu Sa‟id al-Malini: ia menyatakan bahwa dalam al-Mustadrak tidak ada Hadis yang memenuhi persyaratan Syakhain. Bahkan ia mengatakan “aku telah meneliti al-Mustadrak dari awal sampai akhir, ternyata tidak ada satu pun Hadis yang memenuhi kriteria Syaikahin.
  3. Muhammad bin Thahir: ia menilai al-Hakim seorang pengikut Syi‟ah rafidhah, hanya berpura-pura sunni[19]
  4. Al-Dzahabi: menurutnya, kritikan al-Malini terlelalu berlebih-lebihan. Dalam penelitiannya, separuh dari Hadis al-Mustadrak memenuhi kriteria Syaikhain atau Bukhari dan Muslim saja. Meskipun demikian, menurut al-Dzahabi, penyataan al-Hakim bahwa suatu Hadis memenuhi persyaratan Syaikhain, tidak bisa diterima begitu saja, karena ada Hadis yang dinyatakan ‘ala syarthi Syaikhain, ternyata hanya memenuhi krtiteria salah satu keduanya. Masih dalam pandangan al-Dzahabi, pengakuan al-Hakim bahwa Hadis yang dimuat dalam al-Mustadrak merupakan Hadis Shahih yang tidak terdapat dalam Shahihain, tidak dapat diterima sepenuhnya, karena ada Hadis yang sudah tercantum dalam Shahihain, tapi masih dimasukkan dalam al-Mustadrak. Dalam konteks ini, al-Dzahabi bekomentar “Hadis ini ada dalam Shahihain, tapi mengapa masih anda muat dalam kitab ini”[20]
  • STATUS HADITS DALAM KITAB AL-MUSTADRAK IMAM AL-HAKIM
  • Berdasarkan syarat rawi ; Menurut al-Hakim, di dalam kitab al-Mustadrak jumlah hadis yang memenuhi kriteria al-Shahihain ada 985 hadis, 113 hadis yang memenuhi kriteria al-Bukhari, 571 hadis memenuh kriteria Muslim, 3447 hadis yang dinilai shahih al-isnad, sedangkan yang lainnya belum sempat mengemukakan komentarnya dalam al-Mustadrak, karena kematian yang menjemputnya.
  • Berdasarkan kualitas rawi ; penelitian terhadap kualitas rawi-rawi dari kitab al-Hakim adalah sebagai berikut:
  • Jilid I : terdapat 45 hadis yang di duga lemah (8 hadis menggunakan sigat maudu’, munkar 23 hadis, matruk 13 hadis, laisa tsabit 1 hadis).
  • Jilid II : terdapat 66 hadis yang di duga lemah (maudhu’ 11 hadis, munkar 23 hadis, matruk 23 hadis, kazzab 4 hadis, la yu’arafu 3 hadis, la a’rifu jayyidan 2 hadis)
  • Jilid III : terdapat 47 hadis yang tidak layak di gunakan; maudhu’ 4 hadis, qabbaha Allahu Rafidhiyan iftara’u 1 hadis, ahsibu maudu’an wa azunnu mudhu’an 6 hadis, syibhu maudhu’ 1 hadis, aina sihah wa haramun fihi 1 hadis, munkar 17 hadis, matruk 17 hadis.
  • Jilid IV : terdapat 109 hadis yang tidak layak di gunakan; la aslah lahu 2 hadis, halik 11 hadis, la ihtijja bihi ahadun 1 hadis, la hujjata 1 hadis,  matruk 30 hadis, maudhu’ 22 hadis, munkar 35 hadis, muttaham 4 hadis, muttaham saqit 1 hadis, muttaham ta’lif 1 hadis, nadarun 1 hadis.
  • Dengan demikian jumlah hadis yang di anggap sangat lemah dalam al-Mustadrak adalah 3,1% dari 8690 hadis yang ada. Sedang yang lain ada yang shahih, hasan, salih, jayyid, da’if, munkar maupun bathil.
  • Jumlah hadis maudu’ dalam al-Mustadrak adalah : masing-masing satu hadis dalam bab ‘idain, tatawwu’, do’a-do’a, faraid,hudud, buyu’, nikah, jihad, fadhail al-Quran dan al-ahwal. Sejarah peperangan 41 hadis, tafsir 10 hadis, riqaq 5 hadis, al-fitan wa al-malahim 5 hadis, salat 4 hadis, pengobatan 3 hadis dan makanan 2 hadis.
  • Beberapa hal yang perlu di garis bawahi: Pertama, meskipun al-Hakim bermaksud menyusun hadis sahih sebagai tambahan yang belum termuat dalam sahih Bukhari dan Muslim dan menggunakan persyaratan shahihain, namun ternyata tidak semua hadis dalam kitabnya berstatus sama (sahih semua). Kedua, adanya standar ganda yang di gunakan sebagai bentuk ijtihad al-Hakim, yakni tasahul terhadap hadis-hadis fadail amal, sejarah rasul dan sahabat, serta sejarah masa silam. Tasyadud untuk persoalan aqidah dan syariah (halal dan haram, nikah, riqa, mu’amalah), al-Hakim terlalu longgar dalam menerapkan kaidah kesahihan suatu hadis.
  1. KESIMPULAN

Nama lengkap al Hakim adalah al-Hafizh Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Hamdun bin Hakam bin Nu’aim bin al-Bayyi’. Beliau dilahirkan di Naisabur pada hari senin 12 Rabiul awal 321 H, dan wafat pada tahun 405 H. Guru beliau mencapai 1000 guru dan beliau juga mempuyai banyak murid, karya-karya beliau juga amat banyak. Beliau termasuk ulama ahli hadits pada masanya menurut Adz-Dzahabi.

Uraian di atas menunjukkan bahwa al-Mustadrak masih jauh dibanding dengan shahihain ,walaupunal-Hakim mengaplikasikan syarat syaykhayn dalam al-Mustadrak. Hal ini disebabkan karena standar ganda yang digunakan secara konsisten oleh al-Hakim dalam menilai hadis. Ia bersikap tasyaddud pada bidang akidah dan ibadah, tetapi tasahul pada bidang tarikh, biografi sahabat, fadha`il al-‘amal dan lainnya, akibatnya apa yang dinilai shahih oleh al-Hakim bisa dinilaidha’if bahkan palsu oleh ulama lain.

Selain itu, dalam beberapa kasus, al-Hakim dinilai tidak tepat dalam mengaplikasikan syarat syaykhayn. Alasan lainnya adalah sebagian hadis hanya dinilai berdasarkan syarat al-Hakim sendiri (bukan berdasarkan syarat syaykhayn) dan ada pula hadis yang belum dinilai sama sekali. Yang lebih parah adalah dalam al-Mustadrak terdapat hadis-hadis yang tidak layak karena sangat lemah dan palsu. Fakta ini menunjukkan bahwa kualitas al-Mustadrak tidak dapat disejajarkan dengan al-shahihain, karena al-shahihain hanya berisi hadis yang berkualitas shahih. Walaupun beberapa sisi lemah ini mempengaruhi kualitas dan peringkat al-Mustadrak, namun jumlah hadis shahih dalam al-Mustadrak masih jauh lebih banyak dibanding hadis yang tidak layak. Karena itu, kitab hadis ini tetap menjadi referensi hadis yang penting sebagaimana kitab-kitab hadis lainnya.

Bibliography

al-Bassam, A. i. (1423 H/2003 M). Taudlihul-Ahkam min Bulughil-Maram. Makkah: Maktabah al-Asadi, cet. V, jilid 1, hlm. 22.

al-Mubarakfuuri, M. A. (1999). Tuhfatul Ahwadzi Syarhu Jaami’ at-Tirmidzi. Beitut – Libanon: Al-Dauliyyah.

al-Nawāwi, M. a.-D. (1392 H, hal 10:51). Sharḥu al-Nawāwi ‘alā Sḫaḫīh Muslim. Beirut: Dar al-ikhaa al-Turats.

al-Razi, M. b. (1967). Mukhtar al-Sitah. Bairut – Libanon: Dar al-Kutub al-‘Arabi .

Bukhārī, ‘. ‘. (2009). SHAHIH BUKHARI. Bairut_Libanon: Dar al-Fikr.

 Al-Naisaburi, Imam Hafidz Abi Abdillah Al-Hakim. Al-Mustadrak ‘ala shahihain, (Kairo:Darul Haramain li Ath-thba’ah wa At-tauzi’, 1997), Juz 1-5

Najwa, Nurun. al-Mustadrak ‘Ala Shahihaini al-Hakim, dalam M. Fatih Suryadilaga (ed), Studi Kitab Hadits, (Yogyakarta: Teras, 2003), cet 1.

Imam Hafidz Abi Abdillah Al-Hakim Al-Naisaburi, Al-Mustadrak ‘ala shahihain, (Kairo:Darul Haramain li Ath-thba’ah wa At-tauzi’, 1997) juz 1, hal: 6

Nurun Najwa, al-Mustadrak ‘Ala Shahihaini al-Hakim, dalam M. Fatih Suryadilaga (ed), Studi Kitab Hadits, (Yogyakarta: Teras, 2003), cet 1, hal 240

Al-Hakim Al-Naisaburi, Al-Mustadrak ‘ala shahihain, juz 1 hal:6

Lihat Kitab Al-Mustadrak ‘ala Shahihain juz 5, Fahras Athraf Al-Ahadits.

Al-Hakim Al-Naisaburi, Al-Mustadrak ‘ala shahihain, juz 1, hal. 9

Nurun Najwa, al-Mustadrak ‘Ala Shahihaini al-Hakim, dalam M. Fatih Suryadilaga (ed), StudiKitab Hadits, (Yogyakarta: Teras, 2003), cet 1, hal. 253.


[1] Imam Hafidz Abi Abdillah Al-Hakim Al-Naisaburi, Al-Mustadrak ‘ala shahihain, (Kairo:Darul Haramain li Ath-thba’ah wa At-tauzi’, 1997) juz 1, hal: 6

[2] Nurun Najwa, al-Mustadrak ‘Ala Shahihaini al-Hakim, dalam M. Fatih Suryadilaga, Studi Kitab Hadits, (Yogyakarta: Teras, 2003), cet 1, hal 240

[3] Al-Hakim Al-Naisaburi, Al-Mustadrak ‘ala shahihain, juz 1 hal:6

[4] Ibid hal:7

[5] Ibid,  Juz 5, hal. 75

[6] Lihat Kitab Al-Mustadrak ‘ala Shahihain juz 5, Fahras Athraf Al-Ahadits.

[7]Al-Hakim Al-Naisaburi, Al-Mustadrak ‘ala shahihain, juz 1, hal. 9

[8] Ibid, hal. 40

[9] Ibid, hal. 41

[10] Ibid, juz 2, hal. 5

[11] Ibid, hal. 86.

[12] Ibid, juz 3, hal. 25

[13] Ibid, hal. 41

[14] Abdurrahman, M, Pergeseran Pemikiran Hadits ; Ijtihad al-Hakim dalam Menentukan Status Hadits. Jakarta: Paramadina. 2000

[15] Al-Hakim, 1997: 40

[16] Tsiqah merupakan bentuk kejujuran dan terpeliharanya harga diri seorang rawi hingga ditetapkan sebagai rawi yang selamat dari kedustaan. Tsiqah merupakan gabungan dari adalah dan dhabat; ‘adalah adalah terpeliharanya diri dari sifat-sifat kemunafiqan, syirik dan atau kedustaan, sedangkankan dhabt adalah hafalan, baik hafalan secara kitab maupun shadr

[17] Al-Hakim, 1977: 59-60

[18] Najwah, Nurun, “Al-Mustadrak „Ala al-Shahihain al-Hakim” dalam Studi Kitab Hadis. Yogyakarta: Teras. 2003

[19] Najwah, 2003 : 256

[20] Untuk lebih jelasnya komentar-komentar al-Dzahabi, bisa dilihat dalam catatan kaki kitab al-Mustadrak pada jilid pertama bagian muqaddimah

_____________
Robi Permana (Abu Quthbie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here