Beranda Ilmu Hadis Takhrij Hadis Bendera dan Panji Rasulullah Saw

Takhrij Hadis Bendera dan Panji Rasulullah Saw

1649
0

KAJIAN ANALISIS DERAJAT HADITS

Liwa dan Panji Rasulullah Saw berlafazkan kalimat Tauhid

Oleh Robi Permana

  1. PENDAHULUAN

Terdapat beberapa hadits terkait liwa atau panji Rasulullah Saw, berawal dari hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah saw mengunakan imamahnya sebagai tanda Rasul masuk kotaYatsrib, kemudian terdapat pula hadits bendera berwarna putih ketika Rasul masuk kota makkah, redaksi lain berwarna hitam, dan bahkan terdapat hadits bendera rasul bertuliskan lafaz Laa ilaaha illallah Muhammadu ar-rasuulullah. Dari sekian banyaknya hadits, apakah riwayat-riwayat tersebut maqbul sehinga bisa diyakini bahwa bendera rasul itu berlafazkan tauhid ataukah haditsnya ghair maqbul?

  • PERBEDAAN AL-RAYAH DAN AL-LIWA

Al-Royah dan Al-Liwa menurut bahasa berarti bendera. Secara istilah bendera adalah sepotong kain atau kertas segi empat atau segitiga yang diikatkan pada ujung tongkat, tiang, dan sebagainya, dan dipergunakan sebagai lambang negara, perkumpulan, badan, dan sebagainya, atau sebagai tanda, panji-panji, tunggul. Dalam beberapa kamus Arab-Indonesia disebutkan bahwa antara al-’Alamal-Royah, dan al-Liwa’bermakna sama yaitu bendera, padahal ketiga kata tersebut mempunyai makna yang berbeda. Menurut Ibnu al-Manzhur dalam Lisan al-’Arab, al-Fairuz Abadi dalam Qamus al-Muhith, Ibnu al-’Atsir dalam kitabnya al-Nihayah fi Gharib al-’Atsar, dan juga Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Bari-nya mengatakan bahwa antara al-Royah dan al-Liwa’ itu sama dari segi makna, yang mana ia adalah  panji yang dipegang oleh pemimpin pasukan.

Dengan demikian, maka al-Royah dan al-Liwa’ itu adalah sebuah bendera yang dipakai oleh pemimpin perang dan mempunyai ukuran, fungsi serta peletakan yang berbeda. Jika berukuran kecil maka disebut al-Royah dan jika berukuran besar maka disebut al-Liwa’. Al-Royah diletakkan di ujung tombak sedang al-Liwa’ di bawah al-Royah, dan juga al-Liwa’ digunakan untuk mengumpulkan pasukan perang sedang al-Royah untuk mengkomandoi pasukan ketika perang.

  • KAJIAN ANALISIS HADITS
  • Hadits panji Rasulullah saw berwarna hitam dan benderanya berwarna putih

عن ابن عباس قال: كانت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم سوداء، ولواؤه أبيض

Dari Ibnu Abbas, beliau berkata: “Panji Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berwarna hitam dan benderanya berwarna putih”.[1]

TAKHRIJ HADITS

Hadits ini diriwayatakan oleh Ibn Majah no. 2818[2], al-Tirmidzi no 1681[3], Sunan shagir al-Baihaqi no. 2989[4], Mu’jam kabir al-Thabarani no. 1161[5], 12909[6], Sunan kubra al-Nasai no. 2818[7], Ibn Majah no. 2818[8], Mu’jam al-Ausath no. 219[9], Musnad Abi Ya’la no. 2370[10]

SKEMA SANAD PER JALUR

  • Analisis Sanad

Dari skema sanad diatas, kita bisa mengetahui jalur-jalur penerimaan hadits tersebut

  • Ibn Abbas > Abu Mijlaj
  • Abu Mijlaj sebagai madar, bercabang meriwayatkan kepada Yazid bin Hayyan, dan Hayyan bin Ubaidillaah bin Zuhair
  1. Ibn Abbas > Abu Mijlaj > Yazid bin Hayyan
  2. Ibn Abbas : Shahabi
  3. Abu Mijlaj : Tabi’in thabaqoh ke-3, Tsiqoh. Yahya bin Main berkata: Mudhtaribul Hadits dan tidak sama’i kepada Khudzaifah
  4. Yazid bin Hayyan:
  5. Al-Haafizh Ibn Hajar berkata dalam At-Taqriib: Shaduuq Yukhthi
  6. Imam Al-Bukhari berkata :

عنده غلط كثير

Padanya terdapat kesalahan yang amat banyak[11]

  • Ibn Hibban berkata dalam Ats-Tsiqat: Dia rawi yang keliru dan mukholafah[12]

Titik masalah jalur ini pada rawi bernama Yazid bin Hayyan, dimana beliau memiliki jarh yang sangat berat hingga periwayatannya terindikasi nakaroh. Dengan demikian, jalur dari Yazid adalah Dhaif.

  • Ibn Abbas > Abu Mijlaj > Hibban bin Ubaidillah

Analisis sanad kedua adalah jalur dari hibban bin Ubaidillah atau Hayyan bin Ubaidillah, kekdua nama ini satu orang.

Berikut Jarh Ta’dil Hayyan bin Ubaidillah:[13]

  1. Dia rawi yang suka membawa riwayat munkar, riwayat gharib dan tidak pernah melihat rawi yang banyak kelirunya selian dia[14]
  2. Abu Hatim Ar-Raazi berkatata: Shaduq[15]
  3. Adz-Dzahabi berkata : Tidak bisa dijadikan hujjah[16]
  4. Ad-Daraquthni berkata : Tidak kuat
  5. Ibn Hazm berkata : Majhul
  6. Al-Bukhari berkata : Mukhtalith

Al-Bukhori berkata: hayyan bin Ubaidillah Abu Zuhair tergolong Bani ‘Adi Bishri beliau mendengar Abu Majla Lahiq bin Humaid dan Ad-Dhahak[17]

Dengan demikian, Hayyan atau Hibban bin Ubaidillah ini rawi maqbul, artinya riwayatnya tidak ditinggalkan dan bisa diterima jika ada mutaba’ah (penyaerta) dan tidak syadz, namun dia lemah jika bersifat tafarrud.

Dalam kondisi ini, Hayyan membawakan dua redaksi hadits:

  1. Hadits yang menerangkan panji Rasul berwarna hitam dan liwa Rasul berwarna putih

Redaksi matan hahdits ini Hayyan tidak bersendirian dalam periwayatannya, ada Yazid bin Hayyan yang menyertainya sebagai tawabi. Dengan kata lain, hadits ini berderajat Hasan Lighairih.

Dalam jalur ini Hayyan menerima dari dua jalur

  • Hayyan > Abu Mijlaj > Ibn Abbas
  • Hayyan > Abdullah bin Buraidah > Buraidah
  • Dari jalur yang sama, dimana Hayyan menerima dari Abu Mijlaj terdapat tambahan pada matannya dengan redaksi:

مَكْتُوْبٌ عَلَيْهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

“(Bendera itu) bertuliskan kalimat : Laa ilaaha Illallaah muhammadurrasuulullaah”

Dan jalur ini Hayyan menyendiri dalam periwayatannya serta dianggap munkar. Maka yang mahfuzh adalah hadits yang mengatakan bahwa panji Rasul berwarna hitam dan liwa Rasul berwarna putiih.

  • Terdapat Jalur lain sebagai Syahid yang menyatakan Rasulallah Saw memasuki kota Makkah dengan membawa bendera putih

عن جابر، أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل مكة ولواؤه أبيض

“Dari Jabir, bahwasanya nabi -shallallahu alaihi wa slalam- masuk ke Makkah (Fathu Makkah) dengan membawa bendera warna putih.” (HR. Tirmidzi no. 1679, An-Nasa’i no. 2866)

TAKHRIJ LENGKAP SANADNYA

Sunan At-Tirmidzi

1679 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ الوَلِيدِ الكِنْدِيُّ الكُوفِيُّ، وَأَبُو كُرَيْبٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ قَالُوا: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، عَنْ شَرِيكٍ، عَنْ عَمَّارٍ يَعْنِي الدُّهْنِيَّ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ مَكَّةَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ.

Sunan An-Nasa-I

2866 – أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: أَنْبَأَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، قَالَ: حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ عَمَّارٍ الدُّهْنِيِّ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ مَكَّةَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ»

ANALISIS SANAD

Hadits ini dhaif karena idhtirab rawi bernama Syarik.

Berikut Jarh dan Ta’dilnya:

  • Qodhi, salah satu imam yang kuat terhadap sunnah. Imam adz-dzahabi berkata: hasanul hadiits, Imam faqih dan muhaddits[18]
  • Ath-Thobari berkata: dia faqih, ‘aaliman[19]
  • Al-‘Ijli berkata: Tsiqoh Hasanul Hadiits[20]
  • Syarik bin Abdullah An-Nakhai (TW 140H), ia itu shaduq, banyak salah, hafalannya berubah ketika menjadi qadhi di Kufah.[21]
  • Al-Haafizh Ibn Hajar berkata dalam At-Taqriib: ‘aadilan, faadhilan, ‘aabidan, keras terhadap ahli bid’ah[22]
  • Ibrahim bin Sa’iid berkata: Syarik telah keliru dalam periwayatan haditsnya sebanyak 400 hadits[23]
  • Ad-Daraquthnie berkata: Syarik tidak kuat dalam periwayatannya jika ia menyendiri[24]
  • Abul Hasan bin Al-Qoth-thaan Al-Faasi berkata: Masyhud dengan tadlis, aku memandangnya sebagai rawi yang pikun, pada asalnya dia rawi yang shaduq namun ketika menjabat menjadi qadhi dia berubah hafalannya [25]
  • Abul fathi Al-Adzdaa-I berkata: jelek hafalannya, banyak wahm nya, mudhtharibul hadits
  • Abu Hatim Ar-Raazi berkata: shaduq dia banyak sekali kelirunya
  • Abu Isa At-Tirmidzi menyebutkannya dalam ash-shahiih al-jaami’ dan ilal al-kabir : banyak sekali kesalahan dan kekeliruannya
  • Abu Zur’ah berkata:

قَالَ عَبْدُ الرَّحْمنِ سَأَلْتُ أَبَا زُرْعَةَ عَنْ شَرِيْكٍ يُحْتَجُّ بِحَدِيْثِهِ قَالَ كَانَ كَثِيْرَ الْحَدِيْثِ صَاحِبَ وَهْمٍ يَغْلَطُ أَحْيَانًا

Abdurrahman berkata, “Aku bertanya kepada Abu Zur’ah tentang Syarik, apakah hadisnya dapat dipakai hujjah?” Beliau menjawab, “Dia banyak hadisnya, shahiba wahm (orang yang ragu-ragu), kadang-kadang keliru.”[26]

 Imam al-Mizzi, mengutip pernyataan Abu Zur’ah dengan redaksi:

كَانَ كَثِيْرَ الْخَطَأِ صَاحِبَ وَهْمٍ وَهُوَ يَغْلَطُ أَحْيَانًا

“Dia banyak salah, shahiba wahm (orang yang ragu-ragu), kadang-kadang keliru.”[27]

 Abu Hatim berkata:

وَقَالَ أَبُوْ حَاتِمٍ لاَ يَقُوْمُ مَقَامَ الْحُجَّةِ فِي حَدِيْثِهِ بَعْضُ الغَلَطِ

Abu Hatim berkata, “Dia tidak dapat mencapai derajat hujjah, pada hadisnya terdapat sedikit kekeliruan.”[28]

  • Al-Juzajani

قَالَ إِبْرَاهِيْمُ بْنُ يَعْقُوْبَ الْجُوْزَجَانِي سَيِّءُ الْحِفْظِ مُضْطَرِّبُ الْحَدِيْثِ مَائِلٌ

Ibrahim bin Ya’qub al-Juzajani berkata, “Dia buruk hapalan, mudhtaribul hadits, maa’il.”[29]

  • Ya’qub bin Syaibah

 وَقَالَ يَعْقُوْبُ بْنُ شَيْبَةَ شَرِيْكٌ صَدُوْقٌ ثِقَةٌ سَيِّءُ الْحِفْظِ جِدًّا

Ya’qub bin Syaibah berkata, “Syarik Shaduq, tsiqat, sangat buruk hapalan.”[30]

Memperhatikan dari beberapa penilaian ulama ahli naqd, maka Syaikh Nashiruddin Al-Albani mengambil kesimpulan sebagai berikut:

وَهُوَ سَيِّئُ الْحِفْظِ عِنْدَ جُمْهُوْرِ الأَئِمَّةِ وَبَعْضُهُمْ صَرَّحَ بِأَنَّهُ كَانَ قَدِ اخْتَلَطَ, فَلذَالِكَ لاَ يُحْتَجُّ بِهِ إِذَا تَفَرَّدَ

“Dia buruk hapalan menurut jumhur imam, dan sebagian mereka menjelaskan bahwa ia sungguh mukhtalith (berubah hapalannya). Karena itu ia tidak dapat dipakai hujjah bila meriwayatkan hadis sendirian.”[31]

Analisis Kami Terhadap Rawi Syarik

Pertama, secara ‘adalah (akidah dan akhlaq), syarik tidak terdapat jarh, namun ia mendapat jarh dalam segi dhabt seperti sayyiul hifzhi, katsiral khotho, yaghlathu, dan mudhtharribul hadits. Dengan begitu, periwayatan Syarik bisa diterima jika adanya mutaba’ah dan atau syawahid, dan periwayatannya ditolak jika tafarrud (sendirian dalam meriwayatkan hadis) atau mukhalafah (bertentangan) dengan rawi yang tsiqat (kuat),

Kedua, Pada tahun 155 H/771 M, ketika berusia 60 tahun, ia menjadi hakim di Wasith. Satu tahun kemudian (tahun 156 H/771 M) menjadi hakim di Kufah (Tahdzibut Tahdzib IV:336). Ketika menjadi qadhi di Kufah inilah Syarik mukhtalith (hapalannya berubah) (Lihat, Taqribut Tahdzib I:243). Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh Shalih bin Muhammad bahwa Syarik itu Shaduq dan setelah menjadi qadi di kufah idhthirab (rusak) hapalannya (Lihat, Tarikh Bagdad IX:285). Demikian pula menurut Ibnu Hiban dan Ibnu Hajar. Ibnu Hiban menyatakan:

كَانَ فِي آخِرِ عُمْرِهِ يُخْطِىءُ فِيْمَا يَرْوِيْ تَغَيَّرَ عَلَيْهِ حِفْظُهُ

“Di akhir usianya ia keliru dalam periwayatan, hapalannya berubah.”[32]

 Ibnu Hajar menyatakan:

صَدُوْقٌ يُخْطِئُ كَثِيْرًا تَغَيَّرَ حِفْظُهُ مُنْذُ وُلِّيَ القضاءَ بِالْكُوْفَةِ

“Shaduq, banyak salah, berubah hafalannya sejak diangkat jadi qodhi di Kufah.”[33]

Keadaan ini menyebabkan Syarik melakukan kekeliruan dalam meriwayatkan sebagian hadisnya ketika di Kufah. Menurut Ibrahim bin Sa’id al-Jauhari, “Syarik keliru pada 400 hadis.”[34]

Dengan begitu, Jarh itu didudukan berdasarkan dua kategori di atas, maka jarhnya tidak bertentangan dengan ta’dil (pujian) para ulama yang sezaman dengan Syarik, yaitu dengan kata lain:

Pertama, Ta’dil ditujukan terhadap Syarik sebelum menjadi hakim di Kufah atau sebelum tahun 155 H. Sedangkan jarh (celaan) ditujukan terhadap Syarik setelah berubah hapalannya atau setelah menjadi hakim di Kufah atau setelah tahun 155 H.

Kedua, Ta’dil ditujukan terhadap periwayatan 8.600 hadis. Sedangkan jarh ditujukan terhadap periwayatan 400 hadis.

Maka untuk mengetahui apakah suatu hadis yang diriwayatkan oleh Syarik itu:

  1. sebelum menjadi qadhi di Kufah (sebelum tahun 155 H) atau sesudahnya (setelah tahun 155 H)?
  2. Dikelompokkan pada jumlah 8.600 atau 400?
  3. Sebelum mukhtalith (berubah hapalan) atau sesudahnya?

Terkhusus dalam periwayatan ini, terdapat bukti keidhtiraban dan kemukhalafahan Syarik dengan data sebagai berikut,

sanad lengkapnya jalur Syarik ke Yahya bin Adam adalah sebagai berikut:

1679 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ الوَلِيدِ الكِنْدِيُّ الكُوفِيُّ، وَأَبُو كُرَيْبٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ قَالُوا: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، عَنْ شَرِيكٍ، عَنْ عَمَّارٍ يَعْنِي الدُّهْنِيَّ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ مَكَّةَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ.

Jalur ini dari Yahya bin Adam dari Syarik. namun jalur ini bermasalah dari arah Syarik. Syarik dari jalur ini sebenarnya bukan hanay meriwayatkan ke Yahya bin Adam namun juga meriwayatkan ke:

  1. Abu Nu’aim al-Fadl bin Dukain (Imam al-Baihaqy dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra No. 5978 juga Imam an-Nasai dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra No. 9672)
    1. Abu Salam al-Khuza’ie (Imam Ahmad dalam kitab Musnad nya. No. 15157)
    1. ‘Aly bin Hakim (Imam Muslim dalam kitab Shahih nya No. 1357 juga Imam al-Baihaqy dalam kitab Syu’abul Iman No. 5832)
    1. Muhammad bin Sa’id (Imam at-Thohawy dalam kitabnya Syarhu Ma’any No. 4152)
    1. Mu’allaa bin Mansur (Imam at-Thohawy dalam kitabnya Syarhu Ma’any No. 5468)

Ke-lima  rawi tersebut juga sama-sama meriwayatkan dari Syarik namun tidak seperti berita yang dibawa oleh Yahya bin Adam. Berikut riwayatnya:

(1358) حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَكِيمٍ الْأَوْدِيُّ، أَخْبَرَنَا شَرِيكٌ، عَنْ عَمَّارٍ الدُّهْنِيِّ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ، وَعَلَيْهِ عِمَامَةٌ سَوْدَاءُ

Dari Jabir r.a bahwasanya Nabi saw. Telah masuk Makkah dengan memakai sorban hitam.[35]

Ke-lima rawi tsiqah diatas membawakan riwayat yang sama dan seirama dari jalur Syarik hingga ke Jabir r.a dengan berita bahwa Rasulullah saw masuk Makkah dengan memakai sorban hitam. Namun berbeda dengan apa yang di informasikan oleh Yahya bin Adam yang juga sama dari jalur Syarik bahwa Rasulullah saw memasuki Makkah dengan bendera putih. Atas dasar ini sangat telihat bahwa Yahya bin Adam menyalahi 5 rowi lain yang juga sama-sama dapat dari Syarik tentang sebuah berita.

Namun Yahya bin Adam adalah rawi tsiqah. Abu Hatim, Ya’qub bin Syaibah telah menilainnya Tsiqah  begitupun Yahya bin Ma’in menilainya tsiqah.   karena itu ke 6 imam mukharrij yang di dalamnya al-Bukhari dan Muslim menjadikan riwayat dari Yahya bin Adam sebagai bagian riwayat dalam kitab-kitab mereka.

karena itu lebih tepatnya ini kekeliruan Syarik yang menyampaikan ke Yahya berubah informasinya tidak seperti apa yang ia sampaikan kepada ke lima rawi yang lain.

Dengan analisa ini memebrikan kesimpulan, bahwa titik masalahnya adalah pada Syarik. Karena itu pula Imam al-Bukhari begitu cerdasnya mengetahui kejanggalan ini. al-Bukhari ketika ditanya oleh murid kesayangannya (imam al-Tirmidzi) tentang riwayat Syarik ke Yahya dengan bendera hitamnya, al-Bukhari mengatakan:

وقَالَ: حَدَّثَنَا غَيْرُ وَاحِدٍ، عَنْ شَرِيكٍ، عَنْ عَمَّارٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ مَكَّةَ وَعَلَيْهِ عِمَامَةٌ سَوْدَاءُ قَالَ مُحَمَّدٌ: وَالحَدِيثُ هُوَ هَذَا

Ia mengatakan hadits yang bener ini dia.. (yaitu Rasulullah saw masuk ke mekkah dengan memakai sorban hitam). bukan membawa bendera putih.

Kemdian, Imam Al-Tirmidzi mengomentari hadits yang diriwayatkan olehnya dengan ungkapan:

 ( هذا حديث غريب ) وأخرجه أبو داود والنسائي وابن ماجه ( قال محمد : والحديث هو هذا ) أي الحديث المحفوظ هو هذا الحديث لأنه رواه غير واحد عن شريك ، وأما حديث يحيى بن آدم عن شريك بلفظ : دخل مكة ولواؤه أبيض ، فليس بمحفوظ لتفرد يحيى بن آدم به ومخالفته لغير واحد من أصحاب شريك

Imam At-Tirmidzi berkata: hadits ini adaah gharib. Hadits gharib jelas hadits munkar menurut ulama hadits mutaqoddimin.

Kemudian di jelaskan oleh penyarah (Ibn Badurrahmaan Al-Mubarakafuri) dengan ungkapannya: banyak hadits yang mahfuzh dari riwayat Syarik, namun hadits Yahya bi Adam yang menerima dari Syarik dengan lafazh : Rasul masuk mekkah dengan membawa bendera putih, maka statusnya tidak mahfuzh karena ke-tafarrudan Yahya bin Adam dan ke-Mukholafahan dengan beberapa murid Syarik.

Dengan demikian, hadits ini derajatnya Dhaif, Munkar. Dan hadits Dhaif syadiid itu tidak bisa menjadi penguat.

  • Bendera Rasululloh Saw bertuliskan lafazh Tauhid (Laa Ilaaha Illallah Muhammadu Ar-rasuulallah)

Terdapat hadits yang menyatakan bahwa royah Rasulullah Saw berwarna hitam dan benderanya berwarna putih terulis padanya kalimat : لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

Hadits yang dimaksud adalah:


حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بن رِشْدِين قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْغَفَّارِ بْنُ دَاوُدَ أَبُوْ صَالِحٍ الْحَرَّانِي قَالَ حَدَّثَنَا حَيَّانٌ بن عُبَيْدُ اللهِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُوْ مَجَازٍ بن حُمَيْدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللهِ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ مَكْتُوْبٌ عَلَيْهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

“Dari Ibnu Abbas mengatakan: “Bendera (pasukan) Rasulullah itu hitam dan panjinya itu putih yang bertuliskan di atasnya La Ilaha illa Allah Muhammadu Rasulullah” (HR. Thabrani)

Hadisyang menerangkan tentang bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid di atas terdapat dalam kitab Mu’jam al-’Awsath karya imam al-Thabarani.

Selain terdapat dalam Mu’jam al-Thabarani, Hadis serupa juga terdapat dalam kitab Akhlaq al-Nabi Saw wa Adabuhu karya Abu al-Syaikh al-Ashbihani.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ زَنْجَويه المخرمي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ بن أَبِي السَّرِي العَسْقَلَانِي، حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ بن طَالِبٍ، عَنْ حَيَّان بن عُبَيْدِ اللهِ، عَنْ أَبِيْ مَجَازٍ، عَنِ ابْنُ عَبَّاسٍ، قال:  كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ سَوْدَاءَ وَلِوَاءُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوْبٌ فِيْهِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

Analisis Sanad

Hadis di atas termaktub dalam kitab al-Kamil fi Dhu’afa al-Rijal karya Ibnu ‘Adi, yang mana kitab tersebut menghimpun Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang lemah.

Adapun kedhaifan Hadis riwayat al-Thabarani ini dikarenakan;

  1. Hayyan bin Ubaidillah

Jarh Ta’dilnya sudah dikemukakan pada pembahasan awal. Dan dalam hadits ini Hayyan membawa riwayat Tafarrud, gharib dan munkar dengan menambahkan kalimat lafazh tauhid.

  • Ahmad bin Risydin.

Oleh imam al-Nasa’i, perawi dikategorikan sebagai kadzdzab, imam al-Dzahabi memberikan status muttaham bi al-wadh’, imam Ibnu Hatim mengomentarinya dengan takallamu fihi, dan Ibnu ‘Adi mengatakan bahwa ia adalah perawi yang banyak memilki riwayat Hadis akan tetapi banyak sekali yang munkar dan palsu, dan ia termasuk orang yang riwayat Hadisnya banyak ditulis. Sedangkan Ibnu Yunus, Ibnu ‘Asakir, Ibnu al-Qaththan, dan Maslamah bin al-Qasim mengatakan bahwa Ahmad bin Risydin merupakan huffazh al-Hadis  dan tsiqah. Setelah menimbang sesuai dengan kaidah al- jarh Mufassar muqoddamun ‘alaa at-ta’dil yang mengatakan “bila terdapat dua keterangan antara jarh dan ta’dil maka diutamakan jarh apabila terdapat keterangan”, maka penulis mengategorikan Ahmad bin Risydin sebagai muttaham bi al-kidzb.

  • Sedangkan kedhaifan dalam Hadis riwayat Abu Syaikh dari Abu Hurairah di atas disebabkan oleh perawi bernama Muhammad bin Abu Humaid. Oleh kebanyakan ulama ahli Hadits seperti al-Bukhari, Ibnu Hibban, Ahmad bin Hanbal, Abu Hatim al-Razi, al-Nasa’i, Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in, dan al-Daruquthni, semuanya  mengatakan bahwa rawi tersebut lemah karena ia termasuk dalam kategori munkar al-Hadis.

Jadi, Hadits di atas tergolong Hadis yang tingkat kedaifannya parah sehingga hadis riwayat al-Thabarani termasuk dalam lingkup Hadis matruk (Hadits syibhu maudhu) dan hadis riwayat Abu Syaikh dari Abu Hurairah tergolong sebagai hadis munkar. 

  • KESIMPULAN
  1. Hadits dari Ibn Abbas yang menyatakan royah rasulullah saw berwarna hitam dan liwanya berwarna putih adalah hasan lighairih
  2. Hadits dari Jabir yang menyatakan bahwa Rasulallah Saw masuk kota Makkah (Futh Al-Makkah) dengan membawa bendera hitam adalah MUNKAR
  3. Hadits dari Ibn Abbas yang menyatakan panji Rasulallah Saw berwarna hitam dan benderanya berwarna putih dengan bertuliskan kalimat Laa Ilaaha Illallaah adalah MUNKAR
  4. Yang mahfuzh terkait masuknya Rasul ke kota Makkah adalah Rasul memakai sorban hitam, bukan membawa bendera hitam.

Wallahu A’lam

Robi Permana (Abu Quthbie)

Bibliography

ابن حجر , ا. (2011). تقريب التهذيب. Riyadh: Baitul Afkar Ad_Dauliyah.

Abdullah ibn ‘Adii Al-Jurjani, I. (1997). Ala-Kaamil fii Dhu’afaa Ar-Rijaal. Riyadh: Maktabah Ar-Rusyd.

Abu Hatim Ar-Raazi, A. M.-T. (2009). Al-Jarh wa At-Ta’dil. Bairut-Libanon: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.

Adz-Dzahabai, M. b.-d. (2009). Al-Mughni fii Adh-Dhu’afaa. Qatar: ihyaa At-Turaats.

Adz-dzahabi, M. b. (2009). Mizan Al-I’tidal fii An-Naqdi Ar-Rijaal. Bairut – Libanon: Tashwiir Daar Al-Ma’rifah.

Adz-Dzahabi, S. A. (1967). Tarikh Al-Islaam. Beirut – Libanon: Dar Al-Fikr.

Adz-dzahabi, S. A. (1998). Thobaqootu Al-Huffaazh Lidz-Dzahabi. Bairut – Libanon: Dar Al-Kutub Al-‘Alamiyyah.

Al-Albani, M. N. (1985). Irwaa-u Al-Ghaliil Fii Takhriij Al-Ahaadiits min As-Sabiil. Bairut – Libanon: Maktab Islamii.

Al-Mizzi, J. A. (2008). Tahdzib Al-Kamal fii Asmaa’i Ar-Rijaal. Bairut – Libanon: Mu-assasah Ar-Risaalah.

Al-Mubarakafuri, A. A.-‘. (2010). Tuhfah Al-Ahwadzi. Bairut – Libanon: Dar Kutub Al-‘Alamiyyah.

As-Sujustani, M. b.-T. (2009). Ats-Tsiqoot. Libanon: Daar Fikr.

Bukhari, M. b.-J.-B. (2009). Tarikh Al-Kabir. Mesir: Al-Faruq Al-Haditsiyah.

Ibn ‘Adii, A. a.-J. (1984). Al-Kaamil fii Adh-Dhu’afaa Ar-rijaal. Bairut – Libanon: Dar Al-Kutub Al-‘Alamiyah, Dar Al-Fikr.

Ibn Hajar, A. b.-A. (2008). lisaan Al-Miizan. Beirut-Libanon: Maktab Al-Matbu’at Al-Islamiyyah.

Ibn Hajar, A. b.-A.-F. (2008). Taqriib At-Tahdziib. suriya: Dar Ar-Rasyiid.


[1]  (HR. Tirmidzi no. 1651, Ibnu Majah no. 2818, Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra no. 13061, dll)

[2] 2818 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِسْحَاق الْوَاسِطِيُّ النَّاقِدُ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاق، عَنْ يَزِيدَ بْنِ حَيَّانَ، سَمِعْتُ أَبَا مِجْلَزٍ يُحَدِّثُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَايَةَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَتْ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَض

[3] 1681 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ وَهُوَ السَّالِحَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ حَيَّانَ، قَال: سَمِعْتُ أَبَا مِجْلَزٍ لاَحِقَ بْنَ حُمَيْدٍ يُحَدِّثُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ.

[4] 2989 – رُوِّينَا، عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ الْأَنْصَارِيِّ، أَنَّهُ كَانَ صَاحِبَ لِوَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَأَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، أنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أنا الْعَبَّاسِ الدُّورِيُّ، أنا أَبُو زَكَرِيَّا السَّالِحَانِيُّ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ حَيَّانَ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا مِجْلَزٍ، يُحَدِّثُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ:  «كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ»

[5] 1161 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَجَّاجِ السَّامِيُّ، ثنا حَيَّانُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ أَبُو زُهَيْرٍ الْعَدَوِيُّ، ثنا أَبُو مِجْلَزٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ حَيَّانُ:، وَحَدَّثَنَا ابْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ: «أَنَّ رَايَةَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ سَوْدَاءَ ولِوَاؤُهُ أَبْيَضُ»

[6] 12909 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ، وَمُوسَى بْنُ هَارُونَ، قَالَا: ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَجَّاجِ، ثنا حِبَّانُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ أَبُو زُهَيْرٍ، ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، وَحَدَّثَنَا أَبُو مِجْلَزٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: «أَنَّ رَايَةَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ»

[7] 13061 – أَخْبَرَنَا أَبُو زَكَرِيَّا يَحْيَى بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى , أنا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ سَلْمَانَ الْفَقِيهُ قَالَ: قُرِئَ عَلَى الْحَسَنِ بْنِ مُكْرَمٍ وَأَنَا أَسْمَعُ , ثنا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ السَّالَحَانِيُّ , عَنْ يَزِيدَ بْنِ حَيَّانَ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا مِجْلَزٍ يُحَدِّثُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: ” كَانَتْ رَايَاتُ “، أَوْ قَالَ: ” رَايَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ “

[8] 2818 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِسْحَاقَ الْوَاسِطِيُّ النَّاقِدُ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ حَيَّانَ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا مِجْلَزٍ يُحَدِّثُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ «رَايَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ»

[9] 219 – حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ رِشْدِينَ قَالَ: نا عَبْدُ الْغَفَّارِ بْنُ دَاوُدَ أَبُو صَالِحٍ الْحَرَّانِيُّ قَالَ: نا حَيَّانُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ: نا أَبُو مِجْلَزٍ لَاحِقُ بْنُ حُمَيْدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوبٌ عَلَيْهِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ» . لَا يُرْوَى هَذَا الْحَدِيثُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ إِلَّا بِهَذَا الْإِسْنَادِ، تَفَرَّدَ بِهِ: حَيَّانُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ

[10] 2370 – حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَجَّاجِ، حَدَّثَنَا حَيَّانُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ حَيَّانَ أَبُو زُهَيْرٍ الْعَدَوِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو مِجْلَزٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: وَحَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ: «أَنَّ رَايَةَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ»

[11] Tarikh al-kabiir 325:8

[12] Ats-Tsiqoot 619:7

[13] Lisaanul miizan II:370

[14] Tarikh Al-Islam IV : 374

[15] Al-Jarh III:246

[16] Al-Mughnii fii Adh-Du’afaa I : 198

[17] Al-kaamil fii dhu’afaa Ar-Rijaal_Tahqiiq Suhail Zikaar hal.425

[18] Tadzkirah al huffazh juz II hal. 232 no. 218

[19] Tahdzib at-tahdzib juz 4 hal. 295 no. 587

[20] Ma’rifatu tsiqoot, juz 1 hal. 453 no. 727

[21] Tuhfatul ahwadzi, II:134

[22] Tahdzib Al-Kamal juz 12 hal. 470 no. 2736

[23] idem

[24] idem

[25] Tahdzib Al-Kamal juz 12 hal. 470 no. 2736

[26] Lihat, Al-Jarh wat Ta’dil, IV:366

[27] Tahdzibul Kamal, XII:471

[28] Al-Mughni fid Dhu’afa, I:297). Dalam kitab ad-Dhu’afa wal Matrukin karya Ibnul Jauzi (II:39) dengan redaksi

لَهُ أَغَالِيْطُ

[29] Tahdzibul Kamal, XII:471; Mizanul I’tidal, III:373

[30] Tahdzibul Kamal, XII:471

[31] Irwaul Ghalil fi Takhrij Ahadits Manaris Sabil, II:76

[32] Lihat, al-Kawakibun Nirat, I:47

[33] Taqribut Tahdzib, I:243

[34] Mizanul I’tidal,III:373; Al-Kamil fi Dhu’afair Rijal, IV:8

[35] H.R. Imam Muslim: Shahih Muslim. Juz 4 hal. 112