Beranda Takhrij Hadis TAKHRIJ HADITS TENTANG MUSTAJABNYA DOA PADA 5 WAKTU MALAM

TAKHRIJ HADITS TENTANG MUSTAJABNYA DOA PADA 5 WAKTU MALAM

750
0

Terdapat beberapa riwayat bahwa doa seseorang akan mustajab apabila dilaksanakan pada lima waktu, yaitu pada awal malam dari bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, awal malam Idul Fitri dan awal malam Idul Adha. Adapun hadits-haditsnya sebagai berikut :

Hadits Pertama

Abul Fathi Nasrullah bin Muhammad telah mengkhabarkan kepada kami; Nasr bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami; Abu Said Bundar bin Umar Ar-Ruyani telah mengkhabarkan kepada kami; Abu Muhammad (Abdullah bin Ja’far Al Khabazi, Abu Ali Al Hasan bin Ali bin Muhammad telah mengkhabarkan kepada kami) bin Basyar Az Zahidi telah mengkhabarkan kepada kami – di Hamdan (tempat) dengan membacakan dari asal sima’nya – Ali bin Muhammad Al Qazwini telah mengkhabarkan kepada kami; Ibrahim bin Muhammad bin Burrah As Shanani telah menceritakan kepada kami; Abdul Quddus telah menceritakan kepada kami; Ibrahim bin Abi Yahya telah menceritakan kepada kami, dari Abu Qa’nab, dari Abu Umamah Al Bahili berkata; Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda :

“Pada lima malam yang tidak akan ditolak (diijabah) padanya doa, yaitu : Awal malam pada bulan Rajab, malam pertengahan bulan Sya’ban, malam Jum’at, malam Idul Fitri dan malam Idul Adha”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam kitabnya Tarikh Madina Dimasyq, yang lebih dikenal dengan Tarikh Ibnu Asakir, 10/408.

Hadits ini dhaif karena pada sanadnya terdapat tiga rawi yang dinyatakan dhaif, yaitu :

1. Bundar bin Umar Ar Ruyani.

An Nakhsyi mengatakan, “Ia rawi pendusta”.
[Mizanul ‘Itidal, 1/353 dan Lisanul Mizan, 2/64]

2. Ibrahim bin Abi Yahya, Ia adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Abu Yahya Al Aslami Al Madani, salah seorang ulama yang lemah.

Ibrahim bin ‘Ar’arah mengatakan, “Saya mendengar Yahya bin Said berkata, ’Aku bertanya kepada Malik tentang dia apakah ia rawi yang tsiqat dalam urusan hadits? Ia menjawab, ‘Tidak! Juga ia tidak terpercaya dalam urusan agama. Yahya bin Ma’in mengatakan, Aku mendengar Al Qaththan berkata, “Ibrahim bin Abu Yahya, Kadzdzab (pendusta)”. Abbas meriwayatkan dari Ibnu Ma’in, ‘(Ibrahim bin Abu Yahya), Kadzdzab, Rafidhi. An Nasa’i, Ad Daruqutni juga yang lainnya mengatakan, “Matruk”.
[Mizanul ‘Itidal, 1/57-58]

3. Abu Qa’nab, namanya ialah Muamal Ibnu Umaral Qaini.

Ia seorang rawi yang tidak dikenal di kalangan ahli hadits. Dan hanya tercantum dalam kitab Al Ikmal Libni Ma’kul, 2/82. Dan Al Albani mengatakan dalam kitab Silsilatul Ahadits Adh Dhaifah, 3/643, ‘Saya tidak mengenal rawi itu’.

Hadits Kedua

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dan Abdurrazzaq dari sahabat Ibnu Umar.

Abdullah Al Hafizh memberitahukan kepadaku dengan cara Ijazah dan Imam Abu Utsman Isma’il bin Abdurrahman As Shabuni meriwayatkan pula darinya; Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Abdil Hamid mengkhabarkan kepada kami; Ishaq bin Ibrahim mengkhabarkan kepada kami; Abdur Razzaq mengkhabarkan kepada kami; Orang yang mendengar dari Al Bailamani telah mengkhabarkan kepada kami, ia menceritakan dari Ayahnya, dari Ibnu Umar berkata :

“Lima malam yang tidak akan ditolak padanya doa, yaitu malam Jum’at, awal malam dari bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban dan dua malam hari raya (Idul Adha & Idul Fitri)”.
[Syu’abul Iman, 3/342 dan Abdurrazzaq, 4/317]

Hadits ini pun dhaif karena terdapat beberapa kelemahan antara lain :

– Rawi yang tertulis dengan lafazh man sami’ Al Bailamani adalah mubham yang tidak diketahui nama dan identitasnya. Sedangkan Al Bailamani sendiri adalah termasuk rawi yang lemah. Ia adalah Abdurrahman bin Al Bailamani. Bapak Muhammad bin Abdurrahman bin Al Bailamani, Maula Umar bin Khaththab.

– Abu Hatim mengatakan, ‘Ia seorang rawi yang lemah’. Al Bazzar mengatakan, ’Baginya memiliki periwayatan yang munkar’. Ia rawi yang dhaif menurut kalangan ahli ilmu.’

– Ad Daruqutni mengatakan, ”Dhaif, tidak bisa dijadikan hujjah apabila hadits yang ia riwayatkan secara mausul, terlebih lagi apabila ia meriwayatkan hadits secara mursal”.

– Ibnu Hajar menerangkan dalam kitabnya At Taqrib, ‘Ia rawi yang dlaif’.

[Tahdzibul Kamal, 17/9]

Hadits Ketiga

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari sahabat Abu Darda.

Abu Sa’id Muhammad bin Musa telah mengkhabarkan kepada kami; Abul Abbas Al Asham telah mengkhabarkan kepada kami; Ar Rabi telah mengkhabarkan kepada kami; Asy Syafi’i telah mengkhabarkan kepada kami; Ibrahim bin Muhammad telah mengkhabarkan kepada kami, ia berkata; Tsaur bin Yazid berkata; dari Khalid bin Ma’dan dari Abu Darda berkata :

“Barangsiapa yang berdiri (shalat) pada dua malam ‘Id karena mengharap ridha Allah, hatinya tidak akan mati disaat semua hati itu mati. Asy Syafi’i berkata, telah sampai kepada kami, bahwa beliau….

“Sesungguhnya doa itu akan diijabah pada lima malam, yaitu malam Jum’at, malam Idul Adha, Malam Idul Fitri, awal malam bulan Rajab dan awal malam pertengahan bulan Sya’ban”.
[Syu’abul Iman, 3/34]

Pada sanad hadits ini terdapat rawi yang bernama Ibrahim bin Muhammad. Ia adalah salah satu guru Imam Asy-Syafi’i. Yang dimaksud Ibrahim bin Muhammad dalam sanad hadits ini adalah Ibrahim bin Muhammad bin Abu Yahya karena yang menjadi guru Imam Asy-Syafi’i sebagaimana yang diterangkan oleh Al-Mizzi dalam kitab Tahdzibul Kamal bahwa tidak terdapat nama Ibrahim bin Muhammad yang menjadi guru Imam Asy-Syafi’i selain Ibrahim bin Muhammad bin Abu Yahya Al-Aslami. Adapun tentang kedhaifannya sebagaimana yang telah diterangkan di atas.

Menelusuri Kutipan Imam Syafi’i :

Dalam Al-Umm (1/264) yang juga dijumpai dalam As-Sunanul Kubra (3/445), Syu’abul Iman (5/287), Ma’rifatus Sunan wal Atsar (5/118) dan Fadha’ilul Auqat (hal. 312). disebutkan :

(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ: إنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِي خَمْسِ لَيَالٍ فِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ، وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى، وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ، وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ

Imam Syafi’I berkata :
“Dan telah sampai pada kami bahwasanya ada dikatakan: Sesungguhnya do’a akan diijabah pada 5 malam : Malam Jum’at, Malam I’edul Adlha, Malam I’edul Fitri, Malam pertama bulan Rajab dan malam Nishfu Sya’ban.”

Kutipan di atas merupakan keterangan dari Imam Syafi’i mengenai hadits yang sampai kepadanya tanpa disebutkan siapa yang menyampaikannya dan siapa sumber perkataan tersebut apakah dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam atau dari yang lainnya.

Kutipan di atas dirangkaikan oleh Imam Syafi’i di ujung hadits mauquf yang diriwayatkan beliau dari Abu Darda’ mengenai keutamaan orang yang menghidupkan dua malam hari raya dengan shalat/beribadah. Dan hadits mauquf tersebut statusnya maudhu’/palsu sebab Imam Syafi’i menerima riwayat tersebut dari seorang rawi matruk bernama Ibrahim bin Muhammad bin Sam’an bin Abi Yahya Al-Aslami (w. 184 H). Matruk adalah status rawi yang periwayatannya diduga dusta/palsu.

Imam Ibnul Jauzi berkata :
“Hadits ini tidak sah datangnya dari Rasulillah shallallahu’alaihi wasallam.”
(Al-Ilalul Mutanahiyah, 2/72)

Imam Nawawi rahimahullah dalam Al-Khulashah (2/847), berkata :

رواه الشافعي، وابن ماجه من رواية أبي أمامة مرفوعًا وموقوفًا، وعن أبي الدرداء موقوفًا والجميع ضعيف

“Diriwayatkan Imam Syafi’I dan Ibnu Majah dari riwayat Abu Umamah secara marfu’ maupun mauquf serta dari Abu Darda’ secara mauquf dan semuanya dha’if.”

Senada dengannya dikemukakan pula oleh Al Hafizh Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (2/247) serta Syaikh Al-Albani memaudhu’kannya dalam Silsilah Dhaifahnya (no. 5163).

Lalu hadits yang sampai kepada Imam Syafi’i itu, hadits riwayat siapa ? marfu dari Nabi atau perkataan siapa ?

Untuk mengetahui hal ini, ada beberapa riwayat yang dapat dijadikan hipotesis :

1. Hadits marfu’ yang diriwayatkan Imam Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasq 10/408,

أَخْبَرَنَا أَبُو الْفَتْحِ نَصْرُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَنْبَأَنَا أَبُو سَعِيدٍ بُنْدَارُ بْنُ عُمَرَ الرُّويَانِيُّ، أَنْبَأَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ الْخَبَّازِيُّ، أَنْبَأَ أَبُو عَلِيٍّ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ بَشَّارٍ الزَّاهِدُ، بِهَمَذَانَ، قِرَاءَةً عَلَيْهِ مِنْ أَصْلِ سَمَاعِهِ، أَنْبَأَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ الْقَزْوِينِيُّ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ بُرَّةَ الصَّنَعَانِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْقُدُّوسِ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي يَحْيَى، عَنْ أَبِي قَعْنَبٍ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” خَمْسُ لَيَالٍ لا تُرَدُّ فِيهِنَّ الدَّعْوَةُ: أَوَلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَلَيْلَةُ الْجُمُعَةِ، وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ، وَلَيْلَةُ النَّحْرِ ”

Isi pesan (matan) dalam hadits ini sama semuanya selain urutan malam yang disebutkan ada yang didahulukan dan diakhirkan. Sebagian Muhaddits memastikan bahwa hadits yang disebutkan oleh Imam Sya’fi’I adalah hadits yang sama dengan hadits riwayat Ibnu Asakir ini dengan alasan :

a). Sama redaksi matan selain taqdim dan takhir saja.

b). Ibrahim bin Abi Yahya yang menjadi rawi hadits di atas, adalah rawi guru juga bagi Imam Syafi’i, Beliau menerima riwayat darinya tercatat ada 99 riwayat.

Dalam Silsilah Al-Ahaddits Adh-Dha’ifah (3/649), Syaikh Al-Albani berkata :

وإبراهيم بن أبي يحيى كذاب أيضا كما قال يحيى وغيره. وهو من شيوخ
الشافعي الذين خفي عليه حالهم.

”Ibraahiim bin Abi Yahya adalah seorang kadzdzab juga sebagaimana dikatakan Yahya dan yang lainnya. Dan dia termasuk rawi guru Imam Syafi’I yang tersembunyi keadaan sebenarnya dalam pandangan Imam Syafi’I.”

Hadits Ibnu Asakir di atas statusnya Maudhu’ dengan 6 cacat :

a). Terputus sanadnya antara Abu Qa’nab dengan Abu Umamah, sebab Abu Qa’nab diketahui sejaman dengan Ibnu Uyainah dan Ibnu Ulayyah dari kalangan atba’ tabi’in menengah (Thabaqah 8) dan mustahil bertemu shahabat Nabi.

b). Abu Qa’nab adalah rawi majhul hal.

c). Ibrahim bin Abi Yahya adalah rawi kadzdzab (pendusta). Demikian dikatakan oleh Yahya bin Ma’in, dll.

d). Abdul Quddus adalah rawi Majhul Hal.

e). Al-Hasan bin Ali juga rawi Majhul Hal.

f). Abdullah bin Ja’far Al-Khabbazi juga majhul Hal.

g). Bundar bin Umar Ar-Ruyani seorang Kadzdzab juga, seperti dikatakan Imam Ibnu Asakir dari pernyataan Abdul Aziz An Nakhbasyi

(Tarikh Dimasyq, 10/408)

2. Hadits riwayat Ibnul Jauzi dalam Mutsirul Gharam As-Sakin Ila Asyrafil Amakin (hal. 176),

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي مَنْصُورٍ، أَنْبَأَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَحْمَدَ، أَنْبَأَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ، أَنْبَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُظَفَّرِ الْحَافِظُ، أَنْبَأَنَا أَحْمَدُ بْنُ كَعْبٍ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ، أَنْبَأَنَا سَعِيدُ بْنُ عِيسَى بْنِ مَعِنٍ، أَنْبَأَنَا مَالِكٌ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: ” يُفْتَحُ الْخَيْرُ فِي أَرْبَعِ لَيَالٍ سَحًّا: الْأَضْحَى، وَالْفِطْرِ، وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَلَيْلَةِ عَرَفَةَ إِلَى الْأَذَانِ “

Hadits ini berbeda dengan redaksi dan pesan hadits yang disebutkan Imam Syafi’i, mungkin hanya sedikit kemiripannya karena sama disebutkan malam Nishfu Syabannya, tetapi disini bukan 5 malam melainkan 4 malam dan sisi keutamaannya lebih umum tidak hanya diijabahnya do’a melainkan dibukakannya kebaikan.

Status hadits ini maudhu’ juga dengan 3 cacat :

a). Sa’id bin ‘Isa bin Ma’in dhaiful hadits seperti dinyatakan Imam Daraquthni. Ibnu Iraq berkata: “Dia meriwayatkan hadits maudhu yang dinisbatkan kepada Imam Malik.”

b). Muhammad bin Abdil Wahhab majhul hal dan didhaifkan secara muthlaq oleh Imam Daraquthni.

c). Al-Hasan bin Ahmad majhul hal.

3. Hadits riwayat Asy-Syajari dalam Amalinya (no. 1838),

وَأَخْبَرَنَا أَبُو طَاهِرٍ عَبْدُ الْكَرِيمِ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْحَسَنَابَاذِي شَيْخُ الصُّوفِيَّةِ بِأَصْفَهَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ حِبَّانَ، إِمْلَاءً، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَبَّاسِ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْبَخْتَرِيُّ بْنُ مِعْبَدٍ، عَنِ الْحَسَنِ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: ” أَرْبَعُ لَيَالٍ يُفْرِغُ اللَّهُ تَعَالَى الرَّحْمَةَ عَلَى عِبَادِهِ إِفْرَاغًا: أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَجَبٍ، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ، وَالْأَضْحَى “

Hadits ini sama dengan hadits pada no. 2, hanya disebutkan 4 malam dan sisi keutamaannya bukan diijabah do’a tetapi dicurahkan rahmat Allah.

Semua jalur hadits ini statusnya Maudhu’. Dan dalam sanad ini ada 4 cacat :

a). Tidak disebutkan rawi shahabat, tidak mungkin Al-Hasan menerima langsung dari Rasulillah shallallahu’alaihi wasallam (mursal).

b). Al-Bakhtari bin Mi’bad rawi Majhul Hal.

c). Hafsh bin Umar adalah rawi Matrukul Hadits.

d). Abdul Karim bin Abdil Wahid juga Majhul Hal.

4. Riwayat Al-Khallal dalam kitabnya Fadhail Syahri Rajab (hal. 75, hadits no. 16),

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ هارون المقرئ ثنا أَحْمَد بْن الْحَسَن الفقيه ثنا الْحَسَن بْن عليّ ثنا سويد بْن سَعِيد ثنا سَلَمة بْن مُوسَى الْأَنْصَارِيّ بالشام عن أَبِي مُوسَى الهلالي عن خَالِد بْن معدان قَالَ: خمس ليالٍ فِي السنة من واظب عليهن رجاء ثوابهن وتصديقًا بوعدهن أدخله الله الجنة أول ليلة من رجب يقوم ليلها ويصوم نهارها وليلة النصف من شعبان يقوم ليلها ويصوم نهارها وليلة الفطر يقوم ليلها ويصوم نهارها وليلة الأضحى يقوم ليلها ويصوم نهارها وليلة عاشوراء يقوم ليلها ويصوم نهارها.

Dalam hadits ini sama disebutkan lima malam seperti yang disebutkan dalam hadits Imam Syafi’i, tetapi amalan dan sisi keutamaan yang dikemukakan agak jauh berbeda. Dan riwayat ini bukan hadits marfu’ dari Nabi maupun mauquf dari shahabat. Riwayat ini hanya dinisbatkan pada perkataan Khalid bin Ma’dan dari kalangan tabi’in menengah dari negeri Syam.

Sanad riwayat ini Dha’if syadid dengan 2 cacat :

a). Suwaid bin Sa’id Al-Harawi rawi mudallis dan banyak salah. Imam As-Sadusi berkata: “Dia shaduq tapi kacau hapalannya terutama setelah mengalami kebutaan”. Imam Bukhari mengatakan: “Dia sangat dhaif”.

b). Abu Musa Al-Hilali adalah rawi majhul seperti dikatakan oleh Imam Abu Hatim.

Berdasarkan analisis di atas, bisa dipastikan bahwa riwayat hadits yang dikemukan Imam Syafi’I dalam Al-Umm nya mengenai 5 malam diijabahnya do’a, adalah hadits yang sama diriwayatkan Imam Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq pada no. 1 di atas.

Imam Syafi’i rahimahullah sengaja menggunakan sighat bilaghah (tanpa disebutkan dari mana datangnya) yaitu وَبَلَغَنَا (dan telah sampai pada kami) mengisyaratkan bahwa hadits tersebut menurut beliau sendiri tidak valid datangnya dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Allah azza wajalla setiap malam turun kelangit dunia serta Dia mengabulkan setiap orang yg berdo’a kepada-Nya, bukan hanya di malam Nishfu Sya’ban saja. sebagaimana dikemukakan dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari (no. 1145), dan Muslim (no. 1261) berikut,

عن أبي هريرة رضي الله عنه ، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” ينزل رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Allah tabaraka wata’ala turun pada setiap malam ke langit dunia, ketika tersisa sepertiga malam terakhir, Dia berfirman: “Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku pasti aku mengijabahnya, Barangsiapa yang memohon kepada-Ku pasti Ku berikan padanya, dan barangsiapa yang memohon ampun pada-Ku pasti Kuampuni dia.”
(Muttafaqun ‘alaih)

Dengan memperhatikan keterangan-keterangan di atas, meyakini diijabahnya doa pada lima waktu sebagaimana dalam hadits di atas adalah tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam & tidak bisa dijadikan hujjah.

Demikian penelusuran sederhana ini semoga bermanfa’at.
Allahu A’lam bish-shawab.

Oleh : Ustadz Ismail Alfasiry