Beranda Uncategorized Tawaf Wada Setelah Umrah Dalam Haji

Tawaf Wada Setelah Umrah Dalam Haji

874
0

Apakah ada thawaf wada’ setelah umrah dalam haji ? (jamaah Singapura)

Jawab :
Ibadah haji merupakan salah satu ibadah mahdah sehingga sah satau tidaknya ibadah tersebut tergantung dari terpenuhi rukun dan syaratnya. Disamping itu sifatnya tauqifi yaitu harus sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Hal tersebut ditegaskan sabda Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam dari sahabat Jabir bin Abdillah
خُذُوا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ
“Ambillah dariku cara-cara ibadah haji kalian” (H.R. al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, 5/125)
Rasul Saw selama hidupnya hanya sekali melaksanakan ibadah haji yaitu pada tahun ke 10 H dan empat kali ibadah umrah berdasarkan keterangan dari Anas bin Malik

عَنْ قَتَادَةَ سَأَلْتُ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَمْ اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ عُمْرَةُ الْحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ حَيْثُ صَدَّهُ الْمُشْرِكُونَ وَعُمْرَةٌ مِنْ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ حَيْثُ صَالَحَهُمْ وَعُمْرَةُ الْجِعِرَّانَةِ إِذْ قَسَمَ غَنِيمَةَ أُرَاهُ حُنَيْنٍ قُلْتُ كَمْ حَجَّ قَالَ وَاحِدَةً
dari Qatadah; Aku bertanya kepada Anas radliallahu ‘anhu: Berapa kali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan ‘umrah?”. Dia menjawab: “Empat kali. Diantaranya, ‘umrah Al Hudaibiyah pada bulan Dzul Qa’dah saat Kaum Musyrikin menghalangi Beliau, ‘umrah pada tahun berikutnya pada bulan Dzul Qa’dah setelah melakukan perjanjian damai dengan mereka dan ‘umrah Al Ji’ranah ketika Beliau membagi-bagikan ghanimah (harta rampasan perang). Aku menduga yang dimaksudnya adalah ghanimah perang Hunain. Aku tanyakan lagi: “Berapa kali Beliau menunaikan haji?”. Dia menjawab: “Satu kali”. (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 3/3)

Umrah terbagi dua. Pertama ada umrah yang menjadi bagian dari rangkaian ibadah haji, dimana Rasul Shalallahu alaihi wa sallam hanya melaksanakan satu kali. Umrah yg merupakan bagian dari paket haji wajib, hukumnya wajib, baik haji tamattu’ maupun haji qiran. sedangkan umroh bagian dari haji yg hukumnya sunat, hukumnya sunat. Kedua umrah diluar ibadah haji, hukumnya sunat. Umrah diluar ibadah haji dilakukan oleh Rasul Shallallahu alaihi wa sallam selama empat kali semasa hidupnya. Namun kami belum menemukan keterangan bahwa Rasulullah melaksanakan thawaf wada’ ketika melaksanakan umrah diluar ibadah haji. Ada sebagian ulama yang berpandangan disyariatkan thawaf wada’ bagi yang berumrah dengan argumentasi pertama, sabda Rasul

لاَ يَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِ بِالْبَيْتِ
“Jangan sampai ada seorangpun (jamaah haji) yang meninggalkan kota Mekah, hingga dia lakukan amal terakhirnya di Baitullah (thawaf wada’).” (HR. Muslim, Sahih Muslim, 4/93)

Maksud mereka, bukan hanya dalam ibadah haji tapi juga termasuk umrah secara umum di dalam mafhum hadis tersebut selama belum keluar dari Makkah sebagai sabab adanya thawaf wada’ bagi yang berumrah. Padahal hadis tersebut tidak berbicara terkait dengan umrah tapi terkait dengan ibadah haji. Sehingga kewajiban thawaf wada’ itu bagi yang melaksanakan ibadah haji tapi tidak dengan umrah sunat, selain dalam haji. Adapun terkait umrah wajib yang merupakan bagian dari rangkaian ibadah haji, maka thawaf wada’ merupakan bagian dari ibadah haji, bukan umrah. Karena itu perlu dalil khusus yang menyatakan secara sarih bahwa bagi yang melaksanakan umrah disyariatkan untuk thawaf wada’ sebelum keluar dari Makkah. Keterangan dari sahabat Ibn Abbas, Sabda Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda

هَذِهِ عُمْرَةٌ اسْتَمْتَعْنَا بِهَا فَمَنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ الْهَدْىُ فَلْيَحِلَّ الْحِلَّ كُلَّهُ فَإِنَّ الْعُمْرَةَ قَدْ دَخَلَتْ فِى الْحَجِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Umrah ini kita kerjakan sebelum haji. Siapa yang membawa tidak membawa hadyu, hendaklah bertahallul seluruhnya, sungguh umrah itu termasuk ibadah haji sampai hari kiamat.” (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 4/57)

Kedua, berdalil dengan hadis
وَأَنَّ الْعُمْرَةَ الْحَجُّ الأَصْغَرُ
Dan Sesungguhnya umrah itu haji kecil (HR. Ad-Daraqutni, Sunan ad-Daraqutni, 3/347)
Menurut mereka bahwa maksud dari umrah itu haji kecil, maksudnya kaifiyat umrah sama dengan haji, sehingga ketika haji terdapat didalamnya syariat waji wada’ begitu juga dengan umrah. Ada dua kelemahan pertama secara kekuatan dalil, hadis tersebut walaupun diriwayatkan melalui beberapa mukharij namun dalam sanadnya semua melalui rawi sulaiman bin arqam, imam Bukhari “tarokuhu (mereka meninggalkannya)” Imam ad-Daraqutni, “Matruk” (Tarikh al-Islam, 4/398) dengan demikian hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah. Kedua, secara dalalah, umrah itu haji kecil bukan berarti umrah disamakan atau diqiyaskan dengan haji kaifiyatnya.

Kesimpulannya, pertama tidak ada dalil yang sahih dan sarih yang menyatakan adanya tawaf wada’ bagi yang melaksanakan umrah diluar ibadah haji. Kedua, hadis yang dianggap dalil oleh pihak yang mensyariatkan adanya tawaf wada’ bagi yang melaksanakan umrah bermasalah baik secara kekuatan dalil, maupun dalalah. Ketiga, tidak ada thawaf wada’ bagi orang yang melaksanakan umrah diluar ibadah haji.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here