Beranda Hudud Terbunuh karena Rampok apakah mati Syahid ?

Terbunuh karena Rampok apakah mati Syahid ?

877
0

“orang yang meninggal karena dirampok tanpa melawan, selama tidak sedang maksiyat, termasuk dalam kategori mati syahid, sebagaimana orang yang melawan rampok, kemudian terbunuh”

Jika terbunuh membela diri karena membela harta, maka akan mati syahid. Bagaimana jika menyerahkan harta namun tetap dibunuh oleh perampok, apakah tetap dikategorikan syahid ? Jamaah Pagar Alam Sumatra

Salah satu tujuan dari adanya syariat adalah kemaslahan untuk manusia. Diantara kemaslahatan tersebut terangkum dalam penjagaan agama (hifz al-Din), menjaga jiwa (hifz al-nafs), menjaga harta (hifz al-mal) menjaga akal (hifz al-‘aql) dan menjaga turunan (hifz al-nasl). Sebaliknya Islam mengharamkan sesuatu yang dapat merusak kelima penjagaan tersebut. Pembunuhan merupakan salah satu pelanggaran terhadap penjagaan jiwa, karena itu sebuah kekejian dan dosa besar. Adapun korban berhak membela dirinya, jika dia melawan dan gugur karenanya, maka dapat dikategorikan sebagai mati syahid. Begitu pula jika tidak melawan, memberikan harta pada perampok, namun tetap terbunuh, maka dapat dikategorikan mati syahid.

Perhatikan dua hadis berikut, pertama dari sahabat Said bin Zaid

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ، أَوْ دُونَ دَمِهِ، أَوْ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ»

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Siapa yang dibunuh karena membela hartanya maka ia syahid, siapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka ia syahid, atau karena membela darahnya, atau karena membela agamanya maka ia syahid.” (H.R. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 4/246).

Dari hadis diatas kategori terbunuh syahid ada empat kategori, pertama karena membela harta, kedua, membela keluarga, ketiga, membela jiwa, sedangkan keempat membela agama.

Kedua, keterangan dari sahabat Anas bin Malik

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَعِدَ أُحُدًا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ بِهِمْ فَقَالَ اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendaki bukit Uhud, diikuti oleh Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman. Lalu gunung Uhud itu bergetar, maka beliau bersabda: “Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu sekarang ada Nabi, Asshiddiq (orang yang jujur, maksudnya Abu Bakar) dan dua orang (yang akan mati) syahid”. (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 5/9)

Maksud dua orang syahid dalam hadis diatas adalah Umar bin Khatab dan Utsman bin Affan.

Pertanyaan yang ada tanyakan, orang yang menyerahkan harta kemudian dibunuh dapat dikategorikan menyelamatkan jiwa sebagaimana dalam hadis pertama. Karena itu dapat dikategorikan mati syahid, sebagaimana jika melawan dan terbunuh. Hadis kedua, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan disebut dua orang (mati) syahid, sebagaimana diketahui dalam sejarah, Umar bin Khattab meninggal dengan sebab ditikam ketika mengimami salat subuh, sedangkan Utsman bin Affan meninggal ditikam ketika membaca al-Quran.

Dengan demikian kesimpulannya, orang yang meninggal karena dirampok tanpa melawan, selama tidak sedang maksiyat, termasuk dalam kategori mati syahid, sebagaimana orang yang melawan rampok, kemudian terbunuh.