Penyimpangan aqidah dan ibadah bukan karena tdk punya dalil, rata-rata hanya disebabkan salah memahami dalil.

Sebagaimana disebutkan pak kiyai dalam tayangan video singkat, tradisi nyekar kuburan yg dilakukan kalangan nahdiyyin memiliki dalil dan tidak tanggung-tanggung dalailnya terdapat di kitab shahih Bukhari. Berikut ini haditsnya:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ الْمَدِينَةِ أَوْ مَكَّةَ فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ ثُمَّ قَالَ بَلَى كَانَ أَحَدُهُمَا لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَكَانَ الْآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً فَقِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا أَوْ إِلَى أَنْ يَيْبَسَا

Dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati perkebunan penduduk Madinah atau Makkah, lalu beliau mendengar suara dua orang yang sedang di siksa dalam kubur mereka. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata: “Keduanya sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa disebabkan suatu yang besar (menurut anggapan mereka), kemudian beliau bersabda: “Padahal itu adalah dosa besar. Yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing, sementara yang satunya lagi disiksa karena suka mengadu domba.” Beliau kemudian minta diambilkan sebatang dahan kurma yang masih basah, beliau lalu membelah menjadi dua bagian, kemudian beliau menancapkan setiap bagian pada dua kuburan tersebut. Maka beliau pun ditanya, “Kenapa Tuan melakukan ini?” Beliau menjawab: “Mudah-mudahan siksanya diringankan selama dahan itu masih basah.” (HR. Bukhari 1372, Muslim 292)

Nabi saw ziarah kubur, kita juga ziarah kubur. Nabi nancapin pelepah kurma, kita juga nancapin dahan pandan atau tabur bunga.Nabi berharap pelepah kurma yang ditancapkan bisa meringankan siksa kubur, maka dengan tabur bunga, kita juga berharap demikian dst…

Sepertinya sesuai sunnah dan tdk ada yg salah. Benarkah? Mari lebih dalam mengorek istidlal mereka dari hadits tsb,

1) Menurut sebagian mereka, pelepah kurma tersebut bertasbih kepada Allah, dengan sebab tasbihnya, maka ahli kubur memperoleh manfaat, dan siksa kuburnya diringankan.

Coba ajukan pertanyaan kepada mereka, kenapa dibatasi kalimat “selama belum kering”? Bukankah pelepah kering, batu, tanah dan seluruh benda matipun, semuanya juga sama bertasbih kepada Allah? Allah berfirman:

تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبْعُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun (QS.al Isra:44)

Jika demikian, tak ada perbedaan pelepah basah dan pelepah kering dalam bertasbih, apabila pelepah basah meringankan siksa kubur karena tasbihnya, mestinya pelepah kering, tanah, batu dll juga sama dapat meringankan siksa kubur karena semuanya sama-sama bertasbih. Tetapi sabda Nabi saw “selama pelepah itu belum kering” membatasi manfaat meringankan siksa kubur itu hanya sebatas belum kering…Ini menunjukan tidak seperti yang paham yg disebutkan. Pelepah kurma basah yang dtancapkan oleh Nabi sawi tidak meringankan siksa kubur dengan sendirinya atau dengan tasbihnya.

2). Sebagian lagi berpendapat, dlohir hadits diatas menunjukan bahwa menancapkan pelepah kurma dan sejenisnya diatas kuburan adalah sunnah Nabi saw. Kita dianjurkan mengikuti sunnah beliau saw.
Pendapat ini dapat dibantah dengan beberapa hal:

Kasus yang diceriterakan dalam hadits memiliki motif tertentu, dan Nabi saw tidak melakukannya berulangkali dan pada setiap kuburan, tidak juga ditemukan dalil yang menunjukan diikuti oleh para sahabat beliau terhadap kuburan yang telah meninggal.

Motif yang dimaksud adalah:
a) Untuk menjelaskan adanya siksa kubur
b) untuk menjelaskan bahwa tidak bersuci dari air kencing dan perbuatan namimah adalah dosa besar yang menyebabkan siksa kubur.

Jadi perbuatan Nabi saw menancapkan pelepah kurma hanya sebagai media pengajaran yang kebetulan momennya tepat disaat beliau mengetahui dua penghuni kubur itu sedang mengalami siksa. Beliau beri penjelasan penting mengenai adanya adzab kubur dan dosa besarnya tidak bersuci dari air kencing dan namimah.

Lalu apa maksud “Semoga siksa mereka diringankan selama pelepah kurma ini belum kering”? Itu bentuk syafaát beliau kepada dua orang ahli kubur, bukan untuk menunjukan bahwa pelepah kurma bisa meringankan siksa kubur sebagaimana disebutkan pada argument mereka yang pertama.

Kriteria menancapkan pelepah kurma yang dilakukan oleh Nabi saw tersebut sulit diikuti, karena orang pada umumnya tdk punya syafaat seperti yg dikuasakan Allah kepada Nabi-Nya. Kitapun tidak tahu mana penghuni kubur yang sedang disiksa dan mana yang sedang diberi ni’mat. Jika sembarangan bisa jadi kita telah suúdzan pada ahli kubur.

Nabi saw mengajarkan syariát yang lebih baik ketika selesai mengubur mayyit maupun Ketika berziarah kubur, al:

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ

Dari Utsman bin ‘Affan, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: “Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” (HR. Abu Dawud)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ نَعَى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّجَاشِيَّ صَاحِبَ الْحَبَشَةِ يَوْمَ الَّذِي مَاتَ فِيهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ
وَعَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَفَّ بِهِمْ بِالْمُصَلَّى فَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan kepada kami kematian An Najasyi, Penguasa Negeri Habasyah pada hari kematiannya lalu berkata: “Mohonkanlah ampun untuk saudara kalian”.
Dan dari Ibnu Syihab berkata: telah menceritakan kepada saya Sa’id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membariskan mereka di tanah lapang kemudian Beliau bertakbir empat kali”. (HR. Bukhari)

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ فَكَانَ قَائِلُهُمْ يَقُولُ فِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ وَفِي رِوَايَةِ زُهَيْرٍ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

Dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada mereka apa yang mesti mereka kerjakan apabila mereka hendak keluar ziarah kubur. Maka salah seorang dari mereka membaca do’a sebagaimana yang tertera dalam riwayat Abu Bakar: “AS SALAAMU ‘ALA AHLID DIYAAR -sementara dalam riwayat Zuhair- AS SALAAMU ‘ALAIKUM AHLAD DIYAARI MINAL MUKMINIIN WAL MUSLIMIIN WA INNAA INSYAA`ALLAHU BIKUM LAAHIQUUN ASALULLAHA LANAA WALAKUMUL ‘AAFIYAH (Semoga keselamatan tercurah bagi penghuni (kubur) dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim dan kami insya Allah akan menyulul kalian semua. Saya memohon kepada Allah bagi kami dan bagi kalian Al ‘Afiyah (keselamatan).” (HR. Muslim)

Dari uraian sederhana diatas, tidak ditemukan korelasi signifikan antara hadits riwayat imam Bukhari yg disebutkan dimuka (disebutkan terakhir ditayangan video) dengan tradisi nyekar ke kuburan.

Allahu A’lam

Alfasiry