A. Waktu Salat Tarawih

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ مِنْ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِي السَّادِسَةِ وَقَامَ بِنَا فِي الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْنَا لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ فَقَالَ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِيَ ثَلَاثٌ مِنْ الشَّهْرِ وَصَلَّى بِنَا فِي الثَّالِثَةِ وَدَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ فَقَامَ بِنَا حَتَّى تَخَوَّفْنَا الْفَلَاحَ قُلْتُ لَهُ وَمَا الْفَلَاحُ قَالَ السُّحُورُ

dari Abu Dzar berkata; “Kami berpuasa Ramadlan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun beliau tidak shalat malam bersama kami sampai tersisa tujuh hari dari Ramadlan. Lalu beliau shalat bersama kami hingga sepertiga malam. Kemudian beliau tidak shalat bersama kami pada malam ke dua puluh enam. Beliau shalat bersama kami pada malam ke dua puluh lima, hingga lewat tengah malam. Kami berkata kepada beliau: ‘Seandainya anda jadikan sisa malam ini untuk kami melakukan shalat nafilah.’ Beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang shalat fardlu bersama imam, hingga selesai diberikan baginya pahala shalat satu malam.’ Kemudian Nabi tidak shalat lagi bersama kami hingga tersisa tiga malam dari bulan Ramadlan. Beliau shalat bersama kami untuk ketiga kalinya, dengan mengajak keluarga dan istri-istri beliau. Lalu beliau shalat hingga kami takut akan ketinggalan al falah. (Jubair) bertanya; ‘Apakah artinya al falah? ‘ Dia menjawab; ‘Sahur’. (HR. Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, 2/158)

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Qariy bahwa dia berkata; “Aku keluar bersama ‘Umar bin Al Khaththob radliallahu ‘anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh ma’mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka ‘Umar berkata: “Aku pikir seandainya mereka semuanya shalat berjama’ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik”. Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama’ah dengan dipimpin seorang imam, lalu ‘Umar berkata: “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam, yang ia maksudkan untuk mendirikan shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam. (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 3/45)

berdasarkan keterangan diatas menunjukan bahwa salat tarawih dilaksanakan secara berjamaah di awal malam, tengah malam atau akhir malam, selama masih dalam waktu salat malam yaitu mulai waktu Isya sampai sebelum terbit fajar. Namun para sahabat mengerjakannya pada awal malam, karena pada waktu tersebut lebih memungkinkan untuk dikerjakan secara berjamaah, berdasarkan keterangan

وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam

kendatipun demikian, secara keutamaan waktu, lebih utama dilaksanakan pada sepertiga malam terakhir sebagaimana perkataan Umar bin Khattab

وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ

Orang-orang yang tidur bermaksud salat akhir malam lebih baik dari yang salat (malam).

Hal tersebut sejalan dengan, pertama hadis Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِى اللَّيْلِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Di malam hari terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah berkaitan dengan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini berlaku setiap malamnya.” (HR. Muslim, Sahih Muslim, 2/175)

Kedua, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata: ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni’.” (HR. Muslim, Sahih Muslim, 2/175)

Kesimpulan
Waktu Salat Tarawih adalah dari awal waktu Isya sampai terbit fajar pada bulan ramadlan, boleh dilaksanakan di awal dan tengah, lebih utama diakhir malam.

B. Kaifiyat Salat Tarawih

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ تَنَامُ عَيْنِي وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwasanya dia mengabarkan kepadanya bahwa dia pernah bertanya kepada ‘Aisyah radliallahu ‘anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka ‘Aisyah radliallahu ‘anha menjawab: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka’at, Beliau shalat empat raka’at, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka’at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat tiga raka’at”. ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?” Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur”. (HR Bukhari, Sahih al-Bukhari, 4/191)

Kami belum menemukan hadis yang sahih dan sarih yang menunjukan kaifiat salat malam para bulan ramadlan selain dari hadis Aisyah yaitu berjumlah sebelas rakaat dengan formasi 4 rakaat, 4 rakaat dan 3 rakaat.

Hadis yang sahih tapi tidak sarih

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ مَا تَرَى فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ قَالَ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ الصُّبْحَ صَلَّى وَاحِدَةً فَأَوْتَرَتْ لَهُ مَا صَلَّى وَإِنَّهُ كَانَ يَقُولُ اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ وِتْرًا فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ

dari ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang pada saat itu sedang di atas mimbar, “Bagaimana cara shalat malam?” Beliau menjawab: “Dua rakaat dua rakaat. Apabila dikhawatirkan masuk shubuh, maka shalatlah satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalatnya sebelumnya.” Ibnu ‘Umar berkata, “Jadikanlah witir sebagai shalat terakhir kalian, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan hal yang demikian.” (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/102)

Hadis diatas menunjukan umum bahwa salat malam formasinya dua rakaat dua rakaat, tidak menunjukan secara sarih kaifiyat pada bulan ramadlan, namun keumumam hadis tersebut dikecualikan oleh hadis Aisyah diatas bahwa Rasulullah salat pada bulan ramadlan dengan formasi 443, sehingga formasi 22 yang diakhiri dengan witir dikerjakan di luar ramadlan.

Sarih tapi tidak sahih

عَنِ ابْنِ عَبَّاٍس قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص يُصَلِّى فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فِي غَيْرِ جَمَاعَةٍ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً وَالْوِتْرِ.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Nabi saw. salat pada bulan Ramadan tanpa berjamaah dua puluh rakaat dan (ditambah) witir.” (HR. Baihaqi, Sunan al-Kubra, 2/496)

Hadis ini daif karena semua sanadnya melalui seorang rawi dengan kunyah Abu Syaibah. Nama lengkapnya Ibrahim bin Usman bin Khuwaisati Al-Absiy (seorang maula Al-Absiy) Abu Syaibah Al-Kufi Qadi Wasith.

Mu’awiyah bin Shalih mengatakan dari Yahya bin Main, ia berkata, “Ia Daif”. Imam al- Bukhari berkata, “Sakatuu ‘anhu” (para ulama hadis meninggalkan hadisnya).” Abu Daud berkata, “Dha’iful Hadits.” At-Tirmidzi berkata, “Munkar al-hadits.” An-Nasai dan Abu Bisyr Ad-Dulabi berkata, “Matruk al-Hadits.” Abu Hatim berkata, “Da’if al-hadits, Sakatuu ‘anhu, dan para ulama meninggalkan hadisnya (Tahdzibul Kamal, 20/147; al-Kamil Fi Du’afa ar-Rijal, 1/239)
المعجم الصغير 360 (1/ 317)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي شَهْرِ رَمَضَانَ ثَمَانِ رَكَعَاتٍ وَأَوْتَرَ

Dari Jabir bin Abdillah Semoga Allah meridhainya berkata Rasulullah Saw salat mengimami kami pada bulan Ramadlan dengan delapan rakaat kemudian salat witir (HR. Tabrani, Mu’jam as-Shagir, 1/317)
Dalam sanadnya ada rawi yang bernama Isa bin Jariyah al-Anshari al-Madani, Ibn Adi berkata “hadis-hadisnya tidak mahfudz”. Ibn Hajar berkata : “Padanya ada kelemahan”, Imam Nasai berkata “dia itu matruk”. Abu Dawud berkata “dia munkarul hadis” (Tahdzib al-Kamal, 22/590, dan ad-Du’afa wal Matrukin, 216)

Kesimpulan

Waktu Salat Tarawih adalah dari awal Isya sampai sebelum terbit fajar, lebih utama dilaksanakan secara berjamaah lebih utama secara berjamaah baik di awal, tengah atau akhir malam. Lebih utama diakhir malam.

Berdasarkan hadis yang sahih dan sarih, formasi salat tarawih jumlahnya 11 rakaat dengan formasi empat, empat dan tiga. Adapun formasi dan jumlah selain diatas, tidak terlepas dari ketidaksarihan secara matan dan kelemahan secara sanad.

Tidak ditemukan dalil bahwa Rasulullah Saw menyelang dengan tidur diantara paket rakaat dalam formasi salat tarawih, apakah dengan mengawalkan witir atau mengakhirkannya.

C. Salat Tarawih Lebih dari 11 Rakaat

Salat Tarawih berdasarkan hadis yang sahih dan sarih hanya berjumlah sebelas rakaat, tidak lebih, dengan formasi empat, empat , tiga. Berdasarkan keterangan dari sahabat Aisyah :

مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ تَنَامُ عَيْنِي وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka’at, Beliau shalat empat raka’at, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka’at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat tiga raka’at”. ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?” Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur”. (HR Bukhari, Sahih al-Bukhari, 4/191)

Namun terdapat hadis-hadis yang menerangkan salat malam Rasulullah Saw lebih dari 11 rakaat sebagai berikut :

A. Aisyah

عَنْ ابِي سَلَمَةَ قال: اتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ: ايْ امَّهْ، اخْبِرِينِي عَنْ صَلاةِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ:كَانَ صَلاتُهُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ ثَلاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً بِاللَّيْلِ مِنْهَا رَكْعَتَا الْفَجْرِ.

“Dari Abu Salamah, Ia berkata,’Saya datang ke ( rumah ) Aisyah dan saya bertanya Wahai ummah kabarkanlah kepadaku tentang Salat malam Rasulullah saw, lalu beliau menjawab,’Salat beliau pada bulan Ramadlan dan bulan lainnya tiga belas rakaat diantaranya dua rakaat fajar”. (HR. Muslim, Sahih Muslim, 2/167)

Dalam versi lain riwayat Muslim dengan redaksi:

كَانَ يُصَلِّي ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالْإِقَامَةِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ

“Beliau salat tiga belas rakaat, salat delapan rakaat kemudian beliau witir, lalu salat dua rakaat sambil duduk. Maka apabila beliau hendak ruku, beliau berdiri lalu ruku kemudian salat dua rakaat antara adzan dan iqamah menjelang salat Subuh”. (HR. Muslim, Sahih Muslim, 2/166)

Demikian pula dalam riwayat Ahmad, namun dengan rincian berbeda:

يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً بِرَكْعَتَيْهِ بَعْدَ الْفَجْرِ قَبْلَ الصُّبْحِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ اللَّيْلِ سِتٌّ مِنْهُنَّ مَثْنَى مَثْنَى وَيُوتِرُ بِخَمْسٍ لَا يَقْعُدُ فِيهِنَّ

“Beliau salat malam tiga belas rakaat dengan dua rakaat setelah terbit fajar sebelum salat subuh, sebelas rakaat salat malam enam di antaranya dua rakaat dua rakaat dan witir lima rakaat. Beliau tidak duduk kecuali pada rakaat kelima” (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, 6/275)

B. Ibnu Abbas

عَنْ أَبِي جَمْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً.

Dari Abu Zamrah, Ia berkata, “Aku mendengar Ibnu Abbas berkata, ‘Rasulullah saw Salat malam tiga belas rakaat’.” (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, 2/234)

Dalam riwayat Ahmad Ahmad dan an-Nasai melalui tiga orang: Abu Ahmad az-Zubairi, Sulaiman, Yahya. Ketiganya melalui Abu Bakar an-Nahsyali, dari Habib bin Abu Tsabit, dari Yahya bin al-Jazar, ungkapan 13 rakaat itu dijelaskan dengan rincian sebagai berikut:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ ثَمَان رَكَعَاتٍ وَيُوتِرُ بِثَلاَثٍ وَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ

“Rasulullah saw Salat malam delapan rakaat dan witir tiga rakaat dan beliau Salat dua rakaat sebelum fajar”. (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, 1/229)

Dalam riwayat Abu Daud dan an-Nasai melalui Kuraib Maula Ibnu Abas dijelaskan langsung formasinya tanpa ungkapan 13 rakaat, yaitu 2 rakaat ringan, 11 rakaat witir, 2 rakaat qabla subuh. Kata Kuraib:

سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِاللَّيْلِ قَالَ : بِتُّ عِنْدَهُ لَيْلَةً وَهُوَ عِنْدَ مَيْمُونَةَ ، فَنَامَ حَتَّى إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفُهُ اسْتَيْقَظَ فَقَامَ إِلَى شَنٍّ فِيهِ مَاءٌ فَتَوَضَّأَ وَتَوَضَّأْتُ مَعَهُ ، ثُمَّ قَامَ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ عَلَى يَسَارِهِ فَجَعَلَنِى عَلَى يَمِينِهِ ، ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِى كَأَنَّهُ يَمَسُّ أُذُنِى كَأَنَّهُ يُوقِظُنِى فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ، قَلْتُ : فَقَرَأَ فِيهِمَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى حَتَّى صَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ ، ثُمَّ نَامَ فَأَتَاهُ بِلاَلٌ فَقَالَ : الصَّلاَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ . فَقَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ صَلَّى لِلنَّاسِ.

Saya bertanya kepada Ibnu Abbas, “Bagaimana salat malam Rasulullah saw?” Ia menjawab, “Suatu malam aku bermalam di rumah beliau, yaitu di (rumah) Maimunah, lalu beliau tidur sehingga ketika lepas sepertiga malam atau pertengahan malam beliau bangun dan menuju ke bejana yang padanya terdapat air, lalu beliau berwudlu dan aku pun berwudlu bersamanya, kemudian beliau berdiri dan aku pun berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau memindahkan aku ke sebelah kanannya, kemudian beliau meletakkan tangannya pada kepalaku seolah-olah memegang telingaku, seakan-akan beliau mengingatkan aku, lalu beliau Salat dua rakaat ringan” Aku mengatakan, “Bahwa beliau membaca padanya al fatihah pada setiap rakaat, kemudian salam, kemudian beliau Salat sampai sebelas rakaat dengan witir kemudian beliau tidur, lalu Bilal datang kepadanya dan berkata, “Salat wahai Rasulullah”, lalu beliau berdiri dan salat dua rakaat, kemudian beliau salat bersama orang-orang”. (HR. Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, 2/46)

C. Ibnu Umar

عَنْ عَامِرٍ الشَّعْبِىِّ قَالَ سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِاللَّيْلِ فَقَالاَ: ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْهَا ثَمَانٍ وَيُوتِرُ بِثَلاَثٍ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْفَجْرِ.

Dari Amir as-Sya’bi, ia berkata, “Saya bertanya kepada Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar tentang salat malam Rasulullah saw. Kemudian mereka menjawab. ‘Tiga belas rakaat, yaitu delapan rakaat dan witir tiga rakaat dan dua rakaat setelah terbit fajar’.”. H.r. Ibnu Majah, Sunan Ibn Majah, 2/380)

D.Ummu Salamah

عَنْ أبي سَلَمَةَ عَنْ أم سَلَمَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللهِِ صلى الله عليه وسلم يُصَلَّي مِنَ اللَّيْلِ ثَلاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً : ثَمَان رَكَعَاتٍ ، وُيوتِرُ بِثَلاثٍ ، وَيَرْكَعُ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ.

Dari Abu Salamah, dari Ummu Salamah, ia berkata, “Adalah Rasulullah saw. salat malam tiga belas rakaat; delapan rakaat dan tiga rakaat witir dan beliau salat dua rakaat fajar”. H.r. an-Nasai, Sunan al-Kubra, 1/160).

E. Zaid bin Khalid

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم نَامَ ذَاتَ لَيْلَةٍ ، ثُمَّ فَزِعَ ، فَقَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ، ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ، ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً

Dari Zaid bin Khalid, Ia berkata, “Saya melihat Rasulullah saw. pada suatu malam beliau tidur, kemudian beliau bangun dan salat dua rakaat ringan, lalu beliau salat dua rakaat panjang, kemudian beliau salat dua rakaat ringan dibanding dua rakaat sebelumnya, lalu beliau salat dua rakaat lebih pendek dan keduanya pendek dibanding dua rakaat sebelumnya, kemudian beliau salat dua rakaat dan keduanya lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, kemudian beliau salat dua rakaat dan kedua rakaat lebih pendek dibanding dua rakaat sebelumnya, kemudian beliau salat dua rakaat dan kedua rakaat itu lebih pendek dari sebelumnya, lalu beliau salat witir, maka demikianlah tiga belas rakaat” (HR. al-Bazzar, Musnad al-Bazzar, 2/62)

F. Jabir bin Abdullah

عَنْ جَابِرٍقَالَ: أَقْبَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْحُدَيْبِيَةِ حَتَّى إذَا كُنَّا بِالصَّهْبَاءِ قَالَ مُعَاذٌ : مَنْ يُسْقِينَا فِي أَسْقِيَتِنَا ، قَالَ : فَخَرَجْتُ فِي فِتْيَانٍ مَعِي حَتَّى أَتَيْنا الأُثايَةَ فَأَسْقَيْنَا وَاسْتَقَيْنَا ، فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ عَتَمَةٍ مِنَ اللَّيْلِ فَإِذَا رَجُلٌ يُنَازِعُهُ بَعِيرُهُ الْمَاءَ ، قَالَ : فَإِذَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَأَخَذْتُ رَاحِلَتَهُ فَأَنَخْتُهَا فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى الْعِشَاءَ وَأَنَا عَنْ يَمِينِهِ ، ثُمَّ صَلَّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Dari Jabir, Ia berkata,’ Kami pulang bersama Rasulullah saw dari Hudaibiyyah sehingga ketika kami sampai di Al Shahba Mu’adz berkata,’ Siapa yang memberi minum pada kendaraan kami, ia berkata, aku keluar bersama pemuda sehingga kami datang pada Utsayah, lalu kami memberi minum dan kami meminta minum, maka tatkala lepas dari pertengahan malam tiba-tiba seseorang menyegerakan kendaraan untanya pada air, ia berkata maka ternyata Rasulullah saw, lalu aku membawa kendaraannya dan memarkirnya dan beliau mendahului, kemudian beliau Salat Isya dan aku berada di sebelah kanannya kemudian beliau Salat tiga belas rakaat”. (HR. Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibn Abi Syaibah, 2/491)

Dalam riwayat Ahmad dengan redaksi:

ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهَا ثَلاثَ عَشْرَةَ سَجْدَةً

“Kemudian beliau salat setelahnya 13 rakaat”. (HR Ahmad, Musnad Ahmad, 3/380)

Dalam riwayat Ibnu Hiban dan Ibnu Khuzaimah diterangkan rincian jumlah itu sebagai berikut:

ثُمَّ نَزَلَ فَصَلَّى عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَوْتَرَ بِوَاحِدَةٍ وَصَلَّى رَكْعَتَي الفَجْرِ ثُمَّ صَلَّى الصُّبْحَ

“Kemudian beliau turun, lalu salat 10 rakaat: 2 rakaat, 2 rakaat, kemudian beliau witir dengan satu rakaat, dan salat 2 rakaat (qabla) fajar, kemudian beliau salat shubuh” HR. Ibn Hibban, Sahih aibn Hibban, 6/357

Kesimpulan

Dari keterangan-keterangan diatas maka dapat disimpulkan :

Salat malam rasulullah Saw jumlahnya sebelas rakaat, baik pada bulan ramadlan ataupun diluar Ramadlan,, adapun hadis-hadis yang menyatakan lebih dari 11, ada yang sahih sanadnya, namun tidak sharih matannya, ada pula yang sarih matannya, tapi hadisnya dhaif.

Tidak ditemukan dalil bahwa Rasulullah Saw salat dua rakaat sebelum atau sesudah tarawih

Adapun ungkapan 13 rakaat pada salat malam menunjukan dikerjakan diluar ramadlan yang mempunyai pengertian pertama 11 rakaat plus dua rakaat subuh. Kedua, salat dua rakaat yang ringan sebelum salat malam 11 rakaat. Pada dasarnya tidak lebih dari 11 rakaat.

Ginanjar Nugraha